
“Kamu belum punya pacar kan?”
Ia tak menjawab. Mau di jawab apa? “hmmm...”
“Berarti belum kan? Ya udah kamu jadi pacar aku aja." Guntur mengatakan kalimat itu tanpa basa-basi.
“APA???” Sofi tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Guntur tak menjawab lagi. Membiarkan guyuran hujan menemani keheningan, hingga hujan yang mulai reda. Sofi harus berada dalam posisi seperti ini walaupun sebenarnya ia merasa aneh namun ia merasa begitu nyaman dalam posisi ini dan ia juga merasakan kehangatan dalam hatinya.
“Hujannya udah mulai reda nih.” Bisiknya pada Guntur yang sedari tadi hanya diam saja.
“Hemmm.” hanya itu yang keluar dari mulut Guntur.
Suara orang-orang mulai terdengar. Anak-anak ekskul. Ini kan jam pulang, tapi sepertinya Guntur enggan melepaskannya hingga akhirnya mereka melihat mereka. Mereka terdiam terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sofi berusaha memalingkan muka, malu. Dalam keadaan kayak begini.
“Guntur ada orang yang lihat.” Sofi bergerak-gerak berusaha menjauhkan Guntur darinya tapi usahanya itu hanya sia-sia karena Guntur lebih memilih untuk mempererat pelukannya.
“Biarin aja kenapa sih? Bukan urusan kita.”
Sofi mendengar mereka berbisik-bisik. Mati aku.
Mungkin benar cinta bisa datang tiba-tiba. Tak terduga. Bahkan di waktu yang tidak tepat dan orang yang tidak diharapkan. Hujan kali ini melukiskan kenangan lain untuknya. Hujan yang tak terduga bersama Guntur.
******
Sampai dirumah hari sudah gelap. Dan sialnya kak Tasya sudah sampai dirumah. Belum sempat ia membuka pintu. Kak Tasya sudah membukanya sambil berdiri berkacak pinggang bersiap untuk memarahinya.
“Sof kamu kemana aja sih bikin kakak khawatir. Di telpon ponsel kamu nggak aktif.”
__ADS_1
“Nggak ada ….. “ Dilihatnya ponselnya ternyata mati. “Maaf kak mati baterainya habis.” jawabnya sambil mengacungkannya pada kak Tasya seolah ingin meyakinkan bahwa ia tak berbohong. Memang dia tak pernah berbohong dengan kakaknya.
Pandangan kakaknya beralih pada Guntur yang sedari tadi hanya diam berdiri dibelakangnya. Mendengar percakapan kedua kakak beradik itu. Guntur tersenyum. Seperti tau apa arti pandangan itu.
“Maaf kak baru bisa nganter Sofi sekarang tadi hujan soalnya.” Guntur menjelaskan alasannya terlambat mengantar Sofi.
“Iya nggak papa, terima kasih. Guntur ya?”
“Iya kak, kakak tahu?” Guntur bertanya keheranan.
“Sofi pernah cerita, kamu juga kan yang nganter Sofi kemarin. Makasih ya udah mau direpotin ma Sofi.” suara kak Tasya melembut saat berbicara pada Guntur.
“Iya kak nggak repot kok. Aku pamit pulang dulu ya kak.”
“Nggak masuk dulu, kakak buatin minum dulu gitu.” tawar kak Tasya.
“Nggak usah kak terima kasih lain kali aja, sudah malam." Guntur menolak dengan halus.
Guntur tersenyum lalu membalikkan tubuhnya pergi.
Sofi menatap kepergiaanya dengan cemas. Ini kan dingin.
“Guntur sebentar!" teriaknya tanpa berpikir
Guntur berhenti dan menoleh , ia berdiri menunggunya mengucapkan sesuatu lagi rupanya tidak dilihatnya Sofi yang berlari masuk dalam rumah. Beberapa saat kemudian, dia keluar membawa sebuah jaket, bukan jaketnya Guntur tapi jaket milik ayahnya.
“Ini dipake biar nggak kedinginan. Itu punya ayah aku di jaga baik-baik. Jangan lupa cepet dibalikin!” Katanya sambil menyodorkan jaket itu ke tangannya Guntur dan ia menyambutnya.
Ada ekspresi yang tampak dari Guntur, seperti berpikir akan sesuatu. Raut wajahnya pun tampak sedih. Kenapa dia sedih? Ia mengambil jaket berwarna abu-abu itu.
__ADS_1
Setelah ia memakainya, Guntur naik ke motornya.
“Udah sana masuk dingin disini. Met malem.” Ia tersenyum manis, sambil mengacak rambut Sofi.
“Eh… “ Sofi menatap kepergian Guntur, di sentuhnya lagi bekas tangan Guntur di kepalanya.
Sofi merasa aneh, ia merasa bahagia. Ia tersenyum, kebahagiaan tak terduga. Tetes hujan mulai membasahi wajahnya, ia baru tersadar, ketika dia berbalik dilihatnya kak Tasya yang senyum-senyum sendiri.
*****
“Bilang dong kalau mau pacaran! Biar kakak nggak khawatir."
“Aku boleh pacaran?” Sofi terkejut dengan kata-kata kakaknya.
“Kenapa nggak? Kamu kan udah besar yang penting bisa jaga diri dan tahu batasnya.” kak Tasya menggodanya.
“Ih apaan sih.”
“Ganteng lho pacar kamu, tapi kalau dilihat-lihat kayak pernah ketemu deh dimana ya,” Kak Tasya tampak berpikir mengingat-ingat sesuatu.
“Tahu.” Sofi mengangkat bahunya berusaha mentutupi bahwa Guntur adalah cowok yang pernah hampir ketabrak mobil kak Tasya dulu. Apa yang akan dikatakan kakaknya nanti?
“Kakak tahu nggak dia nembak aku tadi.” Sofi jadi sumringah mengingat kejadian tadi.
“Trus??”
“Terus apanya??”
“ Jadi kamu terima dia? Senangnya yang punya pacar baru."
__ADS_1
"Orang aku nggak bilang apa-apa."
Sofi tersenyum malu – malu, ia merasa senang meski malu mengakui perasaannya.