Rain Memories

Rain Memories
Akhirnya


__ADS_3

Hari ini Sofi mulai masuk sekolah lagi setelah 3 hari menenangkan dirinya. Ia sudah menceritakan semuanya pada kak Tasya. Kak Tasya paham dengan semua yang terjadi. Ia tidak menyalahkan Guntur ia juga tak menyalahkan siapa-siapa. Takdir begitu katanya.


Sofi benar-benar tidak bersemangat. Ia belum siap menghadapi semuanya. Yang ia tahu sekarang ia sudah paham dan belajar banyak hal. Sofi berharap semuanya akan membaik sekarang. Tapi masih ada masalah yang mengganjal dihatinya.


“Sofi akhirnya kamu masuk juga, aku kangen tahu,” Mita menyambutnya dengan heboh saat Sofi memasuki kelas. Sofi tersenyum mendengarnya. Ya, dia memang kangen dengan teman-temannya.


“Kamu udah sehat sekarang?” kali ini Noni yang bertanya. Sofi hanya mengangguk.


“Sof kamu udah tahu kan kalau Guntur juga pindah sekolah?” Sofi mengangguk, ia tersenyum kecut.


Noni menggodanya. "Jadi karena ini kamu sakit karena mau ditinggal pergi?”


“Mungkin.” Sofi mengangkat bahunya. Dia tidak mau menceritakan semua kejadian yang menimpanya.


“Lalu hubunganmu dengannya baik-baik saja kan?” suara Noni terdengar khawatir padanya.


Sofi menjadi irit bicara, Noni tidak ingin Sofi kembali seperti dulu lagi.


“Ya begitulah, .....aku akan menunggunya kembali.” Sofi menghembuskan nafas nya.

__ADS_1


“Cie...yang lagi kasmaran.” Mita jadi ikut menggodanya. Dan mereka tertawa bersama.


Tatapan mereka teralih ke pintu masuk kelas mereka. Ada seseorang yang mereka kenal, tapi bukan dari kelas mereka.


"Itu Doni kan?" Mita yang menyahut paling awal.


"Iya, mau ngapain dia disini?" Noni juga jadi heran.


Doni masuk ke dalam kelasnya, ia celingak-celinguk di depan pintu seperti mencari seseorang. Dia mendapati mereka bertiga menatapnya dan masuk menghapiri mereka. Doni adalah sepupunya Farah.


“Hai, maaf aku lupa kemarin Farah sempat titip ini buat kalian, aku lupa kasih karena kemarin ikut camping pencinta alam." ujarnya sambil menyerahkan surat itu pada mereka.


“Ya udah aku pergi dulu ya.” Doni berpamitan pergi.


“Terima kasih kak.” Mereka bertiga terdiam dan saling berpandangan saat Doni meninggalkan mereka. Dengan ragu mereka membaca surat itu bersama.


*Untuk teman-temanku yang aku sayangi


Maaf aku tidak sempat berpamitan langsung pada kalian. Sebenarnya aku tidak ingin pergi mengikuti ayahku ke Yogya. Tapi masalah yang terjadi diantara kita membuatku harus memilih pergi. Aku sudah menyadari semuanya, semua kesalahanku.

__ADS_1


Aku tidak pernah peka dan peduli pada kalian semua. Aku terlalu egois pada diriku sendiri.


Untuk Sofi, maafkan aku yang sudah memperlakukanmu begitu. Yang terjadi diantara kita bukan salahmu tapi salahku yang tidak peka terhadap perasaan kalian berdua, aku memaksamu untuk membuatku dekat dengan Evan. Yang ternyata juga memiliki perasaan denganmu, selama ini aku tidak memperhatikannya padahal ia sudah berulang kali membicarakan tentangmu.


Untuk Noni dan Mita. Aku minta maaf selama ini tidak pernah menganggap kata-kata kalian penting. Tidak pernah ada di saat kalian membutuhkan aku padahal kalian selalu mencoba membantuku saat aku mengalami masalah. Dan juga pertengkaran kita waktu itu maaf sudah membentak kalian. Padahal saat itu kalian ingin menenangkanku, berusaha membantuku.


Aku tidak pernah menyadari bahwa kalian semua sangat peduli padaku. Kalian berusaha menjaga perasaanku dan tidak pernah bermaksud untuk menyakitiku. Aku berharap kalian masih mau menganggapku sebagai sahabat kalian. Jika suatu hari nanti kita bertemu aku ingin kita bisa menjadi sahabat seperti dulu.


Maaf dan terima kasih untuk kalian semua*.


 


**Farah**.


 


Mereka menyusutkan air mata mereka setelah membaca surat itu. Mereka sudah saling memaafkan untuk kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu. Dan jika diberikan kesempatan mereka akan bersama lagi, menjadi sahabat yang utuh kembali.


Satu lagi masalahnya sudah selesai.

__ADS_1


__ADS_2