
"Seragam kita.” jawab Guntur. Mengerti apa yang dipikirkannya.
Kemudian Guntur menghela Sofi untuk berganti baju. Sofi melangkah menuju kamar tertutup di sudut bangunan itu.
Setelah mengganti bajunya, Sofi dan Guntur bergegas ke lapangan. ? Mereka sudah ditunggu oleh anak-anak itu.
“Aku ngerasa kayak mereka, nggak ada yang peduli, nggak ada yang membutuhkan dan mungkin dianggap tidak ada.” Langkahnya terhenti, Sofi berbalik menatap ke arah Guntur.
Guntur terlihat terluka tatapannya tampak sedih, ia kemudian tersenyum saat Sofi terdiam menatapnya. Sebelum akhirnya berlari ke lapangan tempat anak-anak itu menunggu, meninggalkan Sofi yang masih bingung dan penuh pertanyaan.
Sofi tidak pernah tahu tentang keluarganya, Sofi tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yah, selama ini memang ia tak pernah bertanya, selalu Guntur yang ada untuknya bukan dirinya yang ada untuknya. Sofi ingin berbagi dengannya, rasa sedih, bahagia, kecewa atau rasa sakit. Ia ingin ada untuknya.
Sofi terdiam, dia berdiri di pinggir lapangan. Menatap ke arah langit ia menjadi kesal. Kenapa langit yang cerah tiba-tiba jadi mendung? Hujan mau turun lagi, aku benci. batinnya.
Tanpa disadarinya salah satu anak menghampirinya.
“Kok kakak cemberut?? Nggak suka disini ya?”
“Nggak kakak suka kok disini.” Sofi terkejut lalu tersenyum mendapati Restu, nama anak itu. Menatapnya ingin tahu.
“Tapi kok kakak, sedih gitu?"
“Habis langitnya mendung,” sambil menunjuk ke atas. “Kayaknya sebentar lagi mau hujan, kita nggak bisa main bola.”
“Siapa bilang nggak bisa?”
“Hmmmmm??” Sofi bingung tampak berpikir.
“Ayo kak !” tanpa disadari tangannya sudah ditarik ke lapangan.
Tiba-tiba gerimis turun, titik-titik air kecil sudah jatuh yang kemudian bertambah lebat. Air hujan kini membasahi tubuh mereka. Namun mereka tidak berteduh, mereka tetap melanjutkan permainan mereka di selingi tawa yang bahagia. Bahagia itu ternyata sederhana.
Restu melempar bola, di sambut anak-anak yang lain. Bola itu menggelinding ke arah Sofi.
“Kak Sofi ayo lempar bolanya!”
Sofi mengambil bola itu ia menatap mereka satu persatu lalu ia menangkap isyarat dari Guntur untuk mengarahkan bola padanya. Seumur-umur dia belum pernah main sepak bola, dengan sekuat tenaga ia menendang bolanya ke arah Guntur.
__ADS_1
BUKKK!!!
Sofi tertawa terbahak-bahak dan diikuti oleh anak-anak yang lain saat Guntur terpeleset di lumpur saat ia akan menangkap bola darinya, seluruh bajunya kotor bercampur dengan lumpur. Tak terkecuali mukanya yang jadi belepotan karena jatuh dalam posisi tengkurap.
Setelah berhasil berdiri Guntur berlari kearah Sofi berusaha menangkapnya. Sofi akhirnya menghentikan tawanya. Sofi tahu apa niat Guntur padanya. Ia segera berlari menghindar, ia tak mau jadi kotor dengan lumpur. Dia berlari ke semua arah mencoba menjauh darinya.
“Berani ya ngetawain pacar sendiri.”
Namun tetap saja Guntur berhasil menangkap Sofi, ia berusaha berontak tapi tak sanggup berbuat apa-apa saat Guntur menggendongnya dan menjatuhkan tubuhnya di tempat lumpur tadi.
“Kita sehati, aku kotor kamu juga harus kotor.”
Kini giliran Guntur yang tertawa terbahak bahak.
“Ahhhh Gunturrrr!!! , Sofi tak dapat berbuat apa-apa seluruh bajunya kotor penuh dengan lumpur bahkan mukanya sudah di tempeli lumpur oleh Guntur.
Sofi tak marah ia malah tertawa segera ia melancarkan serangan lain ia berdiri lalu menangkap Restu dan menyeretnya ke lumpur, semua anak pun akhirnya mengikuti mereka tertawa bahagia. Sofi terlihat bahagia.
Sepertinya hujan kali ini berbeda.
Guntur menatap Sofi dan anak-anak itu yang saling melempar lumpur dan menyeret mereka satu-persatu ke dalam genangan air. Guntur tersenyum melihat tawa kebahagiaan mereka. Dalam hati ia berjanji akan membuat Sofi selalu tertawa bahagia. Meskipun ia tahu dia juga akan membawa luka.
******
“Kamu senang?” Guntur bertanya saat mereka selesai berganti baju. Mereka tengah duduk di pinggir gedung tua itu.
“Banget.” Sahutnya kegirangan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang dibawa Guntur. Guntur memang sudah menyiapkan semuanya.
“Lain kali mau kesini lagi?” tawarnya.
“Tentu saja asal sama kamu.” Sofi tersenyum pada Guntur.
Guntur tersenyum kecut, Sofi tak menyadarinya saat ekspresi Guntur itu mulai berubah. Guntur menatapnya serius. Mereka terdiam dalam derasnya hujan.
“Kamu nggak suka hujan ya?” Guntur bertanya, membuat Sofi menoleh kearahnya. Sofi menatap Guntur yang melihat hujan.
“Menurut kamu gitu?” Sofi bertanya canggung. Sepertinya ia harus bertanya lagi.
__ADS_1
“Aku sering memperhatikan kamu, saat hujan kamu jadi terlihat sedih.” Sofi diam pikirannya menerawang di tahun-tahun sebelumnya saat kejadian itu.
“Kamu mau cerita sama aku?” Guntur bertanya lagi saat tak mendapat jawaban dari Sofi.
Sofi terdiam tampak berpikir, ia tak pernah menceritakan isi hatinya kepada siapapun termasuk kakaknya tentang kejadian ini. Yang ia tahu hal ini akan semakin membuatnya sedih, membuatnya terluka.
“Dulu waktu hujan,” Sofi menghela nafas ia berusaha mengungkapkan ceritanya. Kepedihannya, rasa kehilangannya. “Orang tuaku meninggal. Mereka di keroyok orang tak dikenal saat mereka pergi membeli kue. Saat itu aku ingin sekali makan kue, aku merengek pada mereka. Padahal saat itu hujan sangat deras, mereka tetap pergi. Semuanya terjadi karena aku, jika aku tidak pernah meminta mereka untuk pergi semuanya tidak akan terjadi.”
“Itu bukan salahmu.” Guntur menepuk pundak Sofi pelan berusaha memberi kekuatan padanya.
“Aku bahkan tidak sempat untuk mengucapkan selamat tinggal dan bilang kalau aku sangat menyayangi mereka.” Tangis Sofi pun pecah. Guntur memeluk Sofi saat pertahanannya mulai runtuh.
“Aku terlambat datang." katanya diiringi isak tangis.
“Jangan salahkan diri kamu sendiri.”
Selama beberapa saat hanya keheningan yang ada diselingi isak tangis Sofi dan suara hujan. Guntur ingin Sofi bahagia. Ia ingin menghapus kenangan pahit dan rasa sedih yang ada dihatinya.
“Jadi karena itu kamu benci sama hujan?”
“Aku nggak benci, tapi kalau hujan aku ingat kedua orang tuaku, aku ingat kejadian itu. Aku ingat kehilanganku.”
“Kamu nggak bisa terus-terusan kayak begini? Kamu lucu!”
"Lucu?" Sofi menjauhkan tubuhnya dari Guntur dan menatapnya.
“Hujan tuh sebenarnya bawa kebahagiaan, gimana kalau nggak ada air, nggak akan ada kehidupan dong. Mulai sekarang, aku akan buat kamu menyukai hujan.”
“Kenapa?”
“Karena banyak hal indah yang nggak kamu duga ada didalamya.” Sofi mengangkat alisnya keheranan.
“Karena dalam hujan ada aku.” Guntur cengingisan.
“Maksudnya?” ia semakin bingung kemana arah bicaranya.
“Guntur. Nggak akan pernah ada Guntur kalau nggak ada hujan.
__ADS_1
Sofi tersenyum geli ia mencubit lengan Guntur, “kamu bisa narsis juga ternyata.”