
Sofi sudah bersiap mendapat tamparan darinya, ia menutup mata.
“Lepasin!” Suara prita terdengar kesakitan. Sofi membuka matanya ia melihat Guntur mencengkram tangan Prita. Guntur ada bersama teman-temannya yang kemarin. Sofi terkejut. Kenapa akhir-akhir ini Guntur selalu ada disekitarnya?
“Gue bakal lepasin kalau lo mau janji nggak bakal ganggu Sofi lagi,” Ancamnya pada Prita, ia meleparkan pandangan ke semua teman-teman Guntur yang tampak begitu sangar dan itu membuat Prita jadi ketakutan.
“I...iya ya gue janji” jawabnya sambil gemetaran. Oh punya rasa takut juga toh dia.
“Kalau sampai gue lihat lo masih ganggu Sofi, lo bakal berurusan sama gue dan lo tau apa resikonya kan?”
“Iya iya aku janji aku janji.”
Guntur melepaskan cengkraman tangannya pada Prita, dan Prita langsung pergi begitu saja saking ketakutannya. Dan pastinya juga malu mendapatkan perlakuan seperti itu.
“Kamu nggak papa?” ‘kamu’ kok lain bahasanya. Kemarin juga masih pake “lo” “gue”
Guntur bertanya dengan suara lembut sambil memperhatikan Sofi dari atas ke bawah.
“Nggg.... Aku nggak papa kok” jawabnya bingung.
“Lain kali hati-hati, kalau dia masih ganggu kamu lagi bilang aja sama aku.”
Sofi mengangguk. Guntur lalu pergi begitu saja meninggalkannya. Semua temannya mengikuti dibelakangnya, mereka sempat menatap Sofi dengan pandangan aneh, dan juga menatapnya sambil tersenyum-senyum. Sofi tersadar belum ucapkan terimakasih.
“Ehmmm ...hei. , kamu...” Sofi bingung harus manggil apa tapi dia menoleh melihat Sofi.
“Terima kasih.” sahut Sofi sambil membalikkan badan dan berjalan cepat-cepat. Guntur hanya dapat mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sofi itu.
__ADS_1
*******
“Kita jadi kan ke toko buku bareng?” Noni bertanya saat bel sekolah berbunyi dan mereka sedang merapikan alat tulis mereka.
“Iya aku juga mau beli buku kok, ada novel baru yang pengin aku beli” Sofi mengiyakan.
“Sorry deh, aku kayaknya gak bisa ikut soalnya aku ma Evan mau pergi bareng nggak papa kan?” Farah meminta izin. Yah, dia memiliki kencan sekarang. Sofi kembali sedih dan berusaha menyibukkan dirinya dengan memasukkan alat tulisnya ke dalam kelas.
“Iya nggak papa kok nggak ada yang maksa kan,” Noni menjawabnya, karena Sofi sepertinya tidak tertarik untuk menjawabnya. Dia tidak berselera menanggapinya.
“Ya udah aku duluan ya udah ditunggu Evan di parkiran,” Farah melihat jamnya dan bergegas pergi meninggalkan mereka.
“Mit kamu jadi ikut nggak?” Noni bertanya pada Mita yang sedari tadi sibuk mematut dirinya dicermin.
“Nggak deh.” Jawabnya menoleh pada Noni.
“Kenapa nggak ada Farah?”
jawabnya terus terang.
“Ya udah kalo nggak ikut. Trus pulangnya gimana?” kali ini Sofi yang bertanya.
“Naik taksi dong kan uangnya dah terkumpul lagi karena biasanya ada yang antar jemput hehehehe.” Mita nyengir.
“Ya udah sana.”
“Aku duluan. Met kencan bareng buku.” Pamitnya kegirangan.
__ADS_1
Sofi dan Noni pun berjalan keluar dari kelas menuju gerbang depan. Ada sesuatu yang ingin Noni sampai kan dari beberapa hari lalu namun masih di tahannya. Menunggu waktu yang tepat.
“Emmm Sof, Kok bisa ya?” Noni memulai pembicaraan pada Sofi yang dari tadi diam saja.
“Apa?” Sofi menjawab tak bersemangat. Ia menatap kosong di depannya. Dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Noni.
“Mereka saling... suka.” Noni mengatakan hati-hati, ia tahu ini bukan topik yang ingin dibicarakan oleh Sofi.
Sofi menghela napasnya berat “Emang kenapa nggak bisa? Farah cantik Evan ganteng pasangan yang cocok kan??” katanya seperti ada benjolan besar di tenggorokannya saat mengatakan itu.
“Dari yang aku lihat kayaknya aneh aja.” Noni mencoba mengungkap kan isi pikirannya.
“Kamu kok bisa bilang gitu, kamu nggak suka kalau mereka dekat?”
“Bukan gitu aku seneng kok kalo sahabat aku bahagia.”
“Trus apa masalahnya?” Sofi mencoba bersikap tenang mengusir kegusaran dan kekecewaan dalam dirinya.
“Sebenarnya aku tahu kok kamu suka sama Evan dan aku ngerasa Evan juga suka sama kamu,” Noni mengatakan itu begitu saja.
“Apa??” Sofi menoleh dan berhenti berjalan.
“Aku tahu kamu suka memperhatikan Evan selama ini. Trus aku semakin tahu waktu kamu dianterin pulang dulu, ekspresi kamu itu nunjukin kalo kamu ada perasaan sama dia. Dan...” Noni mengantung kata-katanya untuk melihat ekspresi Sofi. “ Waktu kamu nolak di ajak sama Evan buat cari kado itu, aku tahu Evan kecewa aku bisa lihat perubahan ekspresinya. Sof, aku yakin Evan tuh suka sama kamu,” Sofi melongo mendengarnya. Seolah dia tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya dari Noni.
Sofi membeku. Ia tampak berpikir. Yah, kadang ia juga menyadari itu, meski tak berani berharap terlalu tinggi. Mereka sudah dekat sejak dulu dan Sofi juga cukup hafal dengan segala tingkah Evan. Jika seperti itu, Lalu apa yang akan terjadi?
“Non, kamu harus janji nggak akan bilang ini ke siapa-siapa.” Sofi menyuarakan kata-katanya. Ia takut ini akan menjadi masalah nantinya.
__ADS_1
“Aku nggak ngerti apa yang ada dalam pikiran kamu, kenapa kamu nggak bilang sama Farah kalau kamu juga suka sama Evan, setidaknya kan kalian bisa bersaing secara sehat, dan kalo sekarang emang kejadiannya kan Farah pasti lebih bisa menghargai perasaan kamu.”
Sofi hanya diam saja mencerna kata-kata Noni. Yah, sepertinya memang sudah terlambat. Ia berharap akan ada hal yang baik nantinya. Meski ia tidak akan terlalu yakin dengan hal itu.