
Hari ini Sofi tidak langung pulang ia ingin melihat keadaan Guntur. Karena hari ini ia tidak masuk sekolah, Sofi memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Setelah bertanya pada Ardi, Sofi segera bergegas agar tidak pulang terlalu sore. Taksi itu membawanya ke sebuah rumah besar yang tampak sepi.
Sofi turun dan mengetuk pintu sambil menenteng buah jeruk yang tadi sengaja ia beli sebelum datang kemari. Seorang wanita membukakan pintu dengan heran. Dari gelagatnya sepertinya ia seorang pembantu rumah tangga.
“Maaf mbak cari siapa?” tanya wanita itu yang hanya melongokkan kepalanya dipintu.
“Maaf benar mbak ini rumahnya Guntur?” Sofi bertanya, siapa tahu Ardi sedang mengerjainya. Wanita itu mengangkat alisnya keheranan.
“Iya benar mbak... temannya mas Guntur ya?" wanita itu lalu membuka pintunya lebar.
“Iya.” jawabnya agak ragu. Memangnya tidak lihat seragamnya yang sama.
“Masuk mbak. Maaf nggak biasanya temannya mas Guntur datang kerumah. Mbak satu-satunya yang pernah datang kesini.” Sofi manggut-manggut saja. Di persilahkannya Sofi untuk masuk.
“Gunturnya ada dimana mbak?”
“Ada di kamar mbak, tapi saya nggak berani ganggu. Mbak langsung saja kekamarnya. Kamarnya diatas di lantai dua dekat tangga.” Mbak-mbak itu langsung pergi menuju dapur sambil membawa jeruk yang di pegang Sofi.
Sofi bingung masak ia harus langsung ke kamar Guntur. Ke kamarnya?? Yang benar saja. Tapi mau bagaimana lagi, sudah dipersilahkan bukan? Sofi naik tangga perlahan dan akhirnya ia menemukan kamarnya. Sofi menghela napas sebelum mengetuk pintu.
Tok..tokkk....tokkk
“Udah di bilang jangan ganggu!!” Guntur berteriak dari dalam kamarnya. Sofi termangu. Pantas saja Mbak-nya tidak berani menganggunya dia memang galak sekali.
__ADS_1
Tapi Sofi tidak akan menyerah, dia akan membuat guntur semakin marah dan melihat apa reaksinya.
Tok...tokkk....tokkk
“Dengar nggak sih aku bilang apa?” Guntur semakin gusar.
Tok...tokkk...tokkk
“Sekali lagi kamu saya pecat!!!” Guntur membentak dengan kasar.
Tok...tokkk...tokkk....
Guntur membuka pintu dengan marah “Sebenarnya kamu.....” ia terkejut bukan main. Bukan Mbak-nya yang dilihat tetapi Sofi yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Tiba-tiba Sofi memeluknya, Guntur terkejut. Apakah ia menyakiti hatinya dengan berteriak-teriak seperti tadi.
Dalam pelukan Guntur Sofi menangis menumpahkan rasa sedih dan kecewanya.
“Kamu kenapa?” ujarnya sambil mengusap rambut Sofi pelan penuh sayang.
Sofi masih tak menjawab. Dia diam tak bergeming. Entah berapa lama mereka berpelukan sampai Mbak-nya menyadarkan mereka saat mengantar minuman. Mereka melepaskan pelukan dengan salah tingkah. Dipergoki seperi ini.
“Minumnya den....” Mbak-nya menyahut sebelum kembali ke bawah. Entah apa yang akan dipikirkannya. Sofi berpikir bagaimana jika Mbak-nya mengatakan sesuatu pada orang tuanya Guntur.
__ADS_1
“Ayo kita bicara!” Guntur mempersilahkan Sofi masuk ke kamarnya namun ia tetap membiarkan pintunya terbuka. Dalam kesempatan ini Sofi memperhatikan setiap detail kamar Guntur, kamarnya ternyata cukup rapi untuk ukuran seorang cowok.
“Kamu kenapa? Kamu marah ya tadi aku bentak-bentak?”
Sofi menggeleng.
“Kamu ada masalah? Udah dong jangan nangis lagi!” Pintanya.
Sofi menatap Guntur. Ia melihat Guntur ikut cemas melihat keadaannya.
“Ada apa?” Sofi duduk di pinggir tempat tidur bersebelahan dengan Guntur. Sofi pun bercerita tentang kejadian di kelasnya tadi siang.
“Evan bilang gitu ke Farah dan dia juga bilang suka sama kamu?” Guntur terkejut.
Sofi mengangguk. “Dan itu bikin aku sama Farah bertengkar.”
“Trus perasaan kamu sama Evan?" Guntur bertanya hati-hati.
Sofi menatap Guntur.
“Aku udah nggak ngerasain perasaan apa-apa sama dia. Sejak Farah bilang suka sama Evan, aku pelan-pelan melupakan dia.” Di tatapnya Guntur mencoba menelaah perasaannya. Guntur terdiam ada sesuatu yang dipikirkannya. Ia takut melukainya.” Kamu percayakan sama aku kan?” Sofi menyentuh tangannya berusaha mencari jawaban.
“Iya,” Guntur memeluk Sofi lagi. Ia menyakinkan diri bahwa Sofi memang miliknya, mencintainya, meski Sofi tak pernah mengatakannya.
__ADS_1
Rintik-rintik hujan mulai jatuh lagi ke bumi, hujan kali ini juga menjadi saksi. Saksi sebuah cinta yang hadir tanpa di duga. Saksi dari dua anak manusia yang percaya bahwa cinta mengubah segalanya.