Rain Memories

Rain Memories
Seperti Biasa


__ADS_3

3 Tahun kemudian


Pagi hari ini diawali dengan langit mendung. Sofi mengintip lewat jendela kamarnya. Dahinya mengernyit, menampakkan tidak suka pada suasana pagi ini. Sepertinya musim hujan sudah datang, sejak dua hari kemarin matahari tak menampakkan cahayanya sama sekali. Ini adalah musim yang paling tidak di sukai Sofi, hujan akan menemaninya setiap hari. Ahhh hujan. Bisiknya.


"Sof, udah siap belum? Sarapan dulu udah jam berapa sekarang?" Teriak kak Tasya membuyarkan Sofi dari lamunannya.


"Iya kak." Sahutnya sambil berjalan malas malasan dan menarik tas nya dari meja belajar. Sofi membuka pintu kamarnya dengan wajah masam. Menjalani kehidupan tanpa warna membuat Sofi berubah.


********


Dalam perjalanan menuju sekolah Sofi terus memandang keluar jendela mobil pikirannya melayang entah kemana. Tetes hujan membasahi setiap sudut pandangannya. Semua yang dilihatnya adalah air hujan. Hujan yang kembali mengingatkannya.


"Sof kenapa?" Kak Tasya yang sedari tadi memperhatikannya bertanya melihat adiknya yang terus menatap ke arah luar.


"Nggak kenapa-kenapa." Jawabnya tanpa menoleh pada kakaknya.


"Kok cemberut gitu, kamu sakit?" tanya kakaknya yang merasa khawatir pada adiknya itu.


"Nggak kok kak." Jawab Sofi sambil menundukkan kepalanya, air mata mulai mengenang di matanya.


"Kamu ingat mama papa? Udahlah Sof." Kak Tasya mengerti apa yang dirasakan Sofi dan berusaha menghiburnya. "Mereka udah bahagia disana."


Air mata Sofi kini tak tertahan untuk keluar. Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya. Dengan kasar diusapnya air mata itu dengan tangannya. Berharap kakaknya tidak ikut bersedih juga. Dia benar-benar merindukan kedua orangtuanya sekarang.


*******

__ADS_1


"Kak kok lewat sini sih?" Sofi bertanya karena mereka lewat di jalanan yang bukan biasanya.


""Tadi kakak sempat buka WA katanya ada pejabat yang mah lewat bakalan macet nanti kita lewat sini aja biar cepat." jawab kakaknya.


Ciiiiittttt!!!


Kak Tasya mengerem mendadak, kepala Sofi hampir saja terantuk dasbor di depannya. Kak Tasya langsung saja menghentikan mobilnya saking kagetnya ketika tiba-tiba ada seseorang yang lewat di depan mobil mereka.


"Ada apa sih kak?"


"Nyaris saja." Kakaknya tak menjawab dia masih saja memandang lurus ke depan.


Diikuti arah pandang kakaknya itu. Sofi melihat seorang laki-laki yang berseragam sama dengannya. Dilihatnya laki-laki itu dari atas ke bawah seragam yang dipakainya memang seragam sekolahnya. Atasan putih dan bawahan coklat kotak-kotak. Ciri khas seragam SMA Internasional Jakarta. Tapi yang membuatnya heran adalah wajah dan tangannya yang penuh luka dan memar tampak seperti zombi yang menyeramkan. Seragamnya pun sudah tidak bersih lagi, tampak noda tanah dan darah disana.


" Sof kayaknya teman sekolah kamu, seragamnya sama punya kamu tuh.." tanya kak Tasya yang baru tersadar dari rasa shocknya. "Untung kakak cepat mengerem, kalau nggak tahu deh apa yang bakal terjadi." Tambahnya menimpali kata-katanya sendiri.


Sofi hanya manggut-manggut saja mendengarkan.


Tapi tadi Sofi sempat melihat kalung yang dikenakan laki-laki itu walaupun tidak terlihat dengan jelas. Dia mengenali kalung itu mirip dengan milik seseorang yang dikenalnya. Mungkin dia salah lihat tapi penasaran juga. Mungkin mulai besok dia akan mencari tahu dan memperhatikan siswa di sekolah nya. Siapa tahu bisa ketemu dengan orang itu lagi. Bisa jadi narasumber wawancara buat Mading sekolah. Batinnya tertawa mana mau orang itu lagian mau buat narasumber tema apa? Lha wong orang nya kayak gitu. Sofi sendiri saja takut hari ini padahal cuma di dalam mobil. Gimana kalau ketemu langsung?? Hiii memikirkan nya saja ngeri.


*****


FLASH BACK ON


3 tahun yang lalu

__ADS_1


"Ini mbak barang-barang milik orang tua anda." seorang suster menyerahkan sebuah bungkusan milik orang tua Sofi padanya, bungkusan itu berisi barang-barang yang dikenakan orang tuanya pada hari itu. Ada baju, dompet, ponsel, jam tangan hingga sepatu. Polisi sudah memeriksa barang-barang itu untuk mencari bukti pelaku pengeroyokan orang tua mereka.


Sofi memeriksa barang-barang itu lagi, tapi ada sesuatu yang hilang. Kalung ibunya yang biasa selalu dipakai. Kalung itu diberikan oleh Sofi dan kakaknya saat ulang tahun pernikahan orang tuanya beberapa waktu yang lalu.


"Sus maaf apa hanya ini?" Sofi bertanya barangkali ada yang terlewat.


"Maaf mbak hanya itu yang ada."


Apa mungkin diambil pelaku ya? Jika pelaku ingin mengambil kenapa tidak dompet, jam tangan atau ponsel? Ahh mungkin saja terjatuh.


Sofi sedih kalung kesayangan ibunya hilang. Kalung itu memiliki kenangan baginya.


"Maaf sus, kalau boleh tahu siapa yang membawa kedua orangtua saya kemari?'


"Maaf mbak saya kurang tahu, coba mbak tanya suster jaga yang ada disana." Suster itu menunjukkan ruang suster jaga.


"Baik, terima kasih sus." Sofi beranjak menuju ruang suster jaga. Dia ingin tahu siapa yang sudah membawa kedua orangtuanya kemari. Setidaknya dia bisa mengucapkan terimakasih dengan niat baiknya dan mungkin bertanya jika menemukan kalung milik ibunya.


"Maaf sus. Saya mau tanya apa kemarin suster tahu siapa yang mengantarkan orang tua saya kemari?" Sofi bertanya dengan suster jaga yang di temuinya malam itu.


"Seorang laki-laki muda tapi saya tidak tahu siapa, dia tidak meninggalkan identitasnya. Saat saya mencarinya, dia sudah tidak ada."


Akhirnya Sofi mengangguk lemah.


Dia tidak akan menemukan orang itu, pupus juga harapannya untuk menemukan kalung ibunya. Mungkin kalung itu memang harus hilang bersama dengan kepergian orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2