
Begitu mobil berhenti tepat di depan halaman rumahnya,David langsung keluar dengan buru-buru. Keadaan di dalam rumah terlihat sepi,berarti bu Amel sudah pergi ke kantornya.
"Keadaan aman,mama tidak ada di rumah sebaiknya aku langsung ke kamar Nayla untuk memberikan nasi ini." Ucap David dalam hati.
Nayla yang saat itu baru selesai melaksanakan shalat dzuhur langsung saja melipat mukenanya saat melihat David masuk ke kamarnya.
"Kakak masuk ke sini kalau mama tahu mama akan marah sama Nayla." Ucap gadis itu dengan raut wajahnya yang terlihat khawatir.
"Mama sedang tidak ada di rumah,kakak cuma mau ngasih nasi ini buat kamu,di habisin ya!" ucap David dia langsung keluar dari sana tanpa menunggu jawaban adiknya.
"Kak David sepertinya mulai sayang sama Nayla,semoga mama sama papa juga begitu," harap Nayla dalam hati.
\*\*\*\*\*
"Mas Arman kenapa tidak masuk kerja hari ini?" tanya Sinta sambil memijat kaki suaminya.
"Aku sedang pusing Sin," jawab pak Arman tidak bersemangat.
"Ada masalah lagi sama mbak Amel?"
"Ya begitulah,dia sudah tahu tentang hubungan kita dan menyuruh aku untuk menceraikan kamu," ungkap lelaki itu,sinta yang mendengarnya tidak kaget sama sekali,wanita itu malah menyunggingkan senyumnya dan berkata
"Biar aku yang bicara sama dia."
"Kamu yakin?"
"Kenapa tidak? Dia wanita aku juga wanita,rasanya akan lebih mudah untuk bicara," jawab wanita itu sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya
\*\*\*\*\*\*\*\*
Bu Amel langsung merebahkan tubuhnya di sofa begitu sampai di rumah,badannya terasa sangat pegal baru saja hendak memejamkan mata tiba-tiba dia mencium bau gosong. "Siapa yang masak?" pikir bu Amel,dia langsung bangun rasa lelahnya seperti hilang begitu saja.
"Ya ampun!" bu Amel menutup mulut dengan kedua tangannya,tidak di sangka pemandangan yang akan di lihatnya saat pulang dari kantor,Nayla yang saat itu sudah tertidur dan setrika yang tidak di matikan itu di letakkan di atas baju suaminya hingga membuat baju itu hangus.
__ADS_1
"Nayla!" teriak bu Amel,Nayla kaget dan langsung terjaga,kantuknya bahkan hilang seketika.
"Owh maaf ma,Nayla ketiduran." Jawab gadis itu gemetaran,dia takut sangat takut karena sudah membuat baju papanya hangus gara-gara kecerobohannya sendiri.
"Maaf? Maaf kamu bilang? Kamu tahu tidak berapa harga baju ini hah?" bentak bu Amel,suaranya seperti halilintar yang menyambar saat itu.
Nayla menatap hampa baju di depannya,sedangkan bu Amel terus memarahi dan mengutuknya. "Dasar anak pembawa sial! Kamu itu memang tidak bisa di suruh ini itu,selalu aja membuat masalah."
"Sekarang Nayla harus bagaimana ma,bagaimana kalau papa marah?" tanya anak itu,matanya menatap sang mama dengan penuh ketakutan berharap saat itu mama akan membantu dirinya supaya tidak di pukul oleh papanya lagi.
"Saya tidak tahu,kamu pikir sendiri! Kalaupun nanti kamu mati karena di pukul papa kamu,itu juga karena kesalahan kamu sendiri." Bu Amel tidak peduli sama sekali dan pergi begitu saja.
\*\*\*""\*\*\*\*
Malamnya pak Arman pulang,hubungannya dengan bu Amel sudah baik-baik saja,mereka bahkan tampak sedang makan malam bersama dengan sangat akrab seolah tidak pernah terjadi masalah apa-apa,sedangkan Nayla sudah pergi dari sana dia pergi melewati gerbang belakang,pak Arman saat itu tidak tahu kalau jas kesayangannya sudah gosong,tidak bisa dipakai lagi.
"Anak-anak pada kemana ma?" tanya pak Arman,karena tidak melihat David dan Tina makan bersama mereka.
"Mereka berdua sudah pergi ke pesta ulang tahun temannya pa,sudah dari tadi sore,mungkin sebentar lagi juga pulang.
"Sudah di rusak sama Nayla,bajunya sudah bolong kena setrika," jawab bu Amel santai,dia bahkan tidak khawatir kalau suaminya itu akan bertindak kejam terhadap anaknya.
"Kenapa mama menyuruh dia untuk menyetrika baju papa?" lelaki itu membanting sendoknya karena marah nafsu makannya telah hilang.
"Kenapa nyalahin mama? Mama nggak pernah nyuruh dia,dia yang melakukannya sendiri." Bu Amel bukan membela malah menyalahkan Nayla,padahal dia sendiri yang menyuruh Nayla untuk menyetrika semua baju itu.
Dengan amarah yang menggebu-gebu pak Arman pergi ke kamar Nayla,namun gadis itu tidak ada di sana,lelaki itu mencari anaknya ke seluruh ruangan tapi masih belum menemukannya.
"Papa tidak akan menemukannya percuma saja di cari."
"Mama tahu dia di mana?"
"Yang pasti dia sudah kabur karena takut papa akan memukulnya," jawab bu Amel.
__ADS_1
"Anak itu memang tidak bisa di biarkan,aku akan memberi dia pelajaran lihat saja,kali ini aku tidak akan memberikan dia pengampunan!" ucap pak Arman,kata-katanya terdengar menakutkan lelaki itu seperti hendak membunuh musuhnya.
Kali ini pasti Nayla akan menerima pukulan yang lebih menyakitkan,malam ini mungkin dia terbebas karena berhasil keluar dari rumah itu,tapi papanya pasti akan mencari cara untuk menemukannya,mereka memang sangat aneh kan? Nayla tidak di inginkan sama sekali tapi juga tidak di biarkan keluar dari rumah itu. Nayla hanya di jadikan sebagai tempat pelampiasan kemarahan mereka. Nayla yang malang kapan dia akan bahagia? Apakah dia akan berakhir tragis di tangan kedua orang tuanya sendiri? Semoga saja tidak.
Nayla masih berdiri mematung di sana,kini dia sedang berada di depan rumah Alif,anak itu tidak mempunyai tujuan lain saat ini,dia hanya ingin bersembunyi dan menghindar dari amukan papanya,hanya rumah Alif yang bisa dia datangi.
"Assalammualaikum!" ucap Nayla memberi salam.
"Waalaikumussalam," terdengar jawaban dari dalam tidak lama kemudian pintu terbuka.
"Nayla?" bu Fitri kaget dan pikirannya di penuhi tanda tanya.
"Nayla ***--"
"Ayo masuk dulu nak!" ajak bu Fitri padahal Nayla belum selesai ngomong saat itu,tapi tangannya sudah di tarik oleh bu Fitri agar cepat-cepat masuk ke dalam.
\*\*\*\*\*\*\*
"Malam-malam kamu datang ke sini memangnya nggak akan dimarahi sama pak Arman dan istrinya?" tanya pak Jufri.
"Nayla sudah minta izin sama pak Arman dan bu Amel abi," jawab Nayla berbohong.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin tidur di sini?" kini Alif yang bertanya,dia sendiri yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada temannya itu.
"Nayla kesepian di rumah,apalagi kak David sama kak Tina sedang tidak ada di rumah," Nayla mencoba untuk mencari alasan.
Ternyata mereka masih belum percaya juga,malah semakin curiga apalagi melihat tangan Nayla yang di penuhi lebam-lebam,matanya yang di sebelah kiri juga masih sedikit bengkak,ini membuktikan bahwa Nayla memang di siksa oleh keluarga pak Arman.
Pak Jufri tidak banyak bertanya beliau malah langsung menyuruh Alif untuk menunjukkan kamar yang akan ditempati Nayla.
"Ya sudah kalau begitu. Alif,anterin Nayla ke kamarnya nak! Abi ingin ngobrol sebentar sama umi," suruh pak Jufri.
"Baik abi!" Alif langsung mengajak Nayla untuk melihat kamar yang akan di tempatinya,gadis kecil itupun mengikuti Alif dari belakang. Pak Jufri dan bu Fitri semakin yakin bahwa Nayla kabur dari rumah pak Arman.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*