
Sinta menemui pak Arman di kantornya,saat itu suaminya sedang rapat dengan para investor,jadi dia terpaksa menunggu di ruang kerja suaminya selama satu jam lebih.
"Maaf karena sudah membuat kamu menunggu cukup lama." Ucap pak Arman begitu masuk dan melihat Sinta masih berada di sana.
"Ada sesuatu yang sangat penting yang perlu aku bahas sama kamu mas."
"Tentang apa?" tanya lelaki itu dengan sikap acuh tak acuhnya.
"Aku ingin membawa Nayla untuk tinggal bersamaku." Ucap Sinta.
Pak Arman diam seketika,lelaki itu tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Bawa saja!" jawabnya kemudian. Sinta sempat kaget mendengar jawaban suaminya,dia tidak menyangka kalau pak Arman dengan begitu mudahnya membiarkan Nayla tinggal dengan dirinya.
"Kenapa? Apa kamu terkejut mendengar jawabanku tadi,aku tidak peduli dengan anak itu Sinta,kalau kamu memang menginginkannya ambil saja! Tapi ingat,jika terjadi sesuatu nanti kamu jangan pernah melibatkan aku!" pungkas pak Arman mengakhiri ucapannya.
"Baiklah kalau mas sudah setuju,kalau begitu aku pamit pulang dulu." Tanpa menunggu jawaban dari suaminya Sinta langsung keluar,belum sampai di depan pintu dia kembali mendengar ujaran kebencian suaminya terhadap Nayla.
"Dan ingat! Kalau ada yang bertanya dia anak siapa,jangan pernah mengatakan kalau dia anak aku,karena aku tidak ingin orang-orang tahu kalau aku memiliki anak cacat seperti dia!"
Setelah mendengar ucapan suaminya yang kejam itu,Sinta langsung keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
\*\*\*\*
Sinta tidak langsung pulang ke rumah,dia menjemput Rio di tempatnya bu Lastri. Setiap dia pergi keluar seorang diri,dia memang selalu menitipkan Rio sama bu Lastri,tetangganya yang baik hati itu.
"Rio sudah tidur Sin,biarin dia tidur di sini semalam aja ya,besok baru kamu bawa pulang," pinta bu Lastri.
"Nanti kalau malam-malam dia nangis gimana? Kan ibu juga yang repot," ucap Sinta tidak enak hati membiarkan Rio tidur di rumah wanita paruh baya itu,takut membuatnya kerepotan mengurus Rio,meski di rumah bu Lastri tidak sendirian karena masih ada anak perempuannya yang menemani.
"Nggak apa-apa,kan ada Ayu juga yang ngejagain," jawabnya berusaha meyakinkan Sinta.
"Ya sudah kalau ibu maunya begitu." Akhirnya Sinta menuruti juga kemauan wanita yang sudah di anggap seperti ibunya sendiri. "Bu,ini buat ayu sama ibu!" Sinta memberikan paper bag yang sedari tadi dipegangnya.
"Apalagi ini Sin?" tanya bu Lastri sambil mengambil paper bag yang diserahkan Sinta.
__ADS_1
"Kamu selalu aja ngerepotin diri kamu sendiri." Ucap bu Lastri lagi,terharu dengan kebaikan Sinta.
"Nggak ngerepotin kok bu,ibu itu sudah Sinta anggap seperti orang tua Sinta sendiri,dan ibu juga yang selalu ada buat Sinta. Ibu juga yang menjaga Rio sejak dia masih bayi sampai sekarang," ujar Sinta.
"Makasih sekali lagi ya Sin." Ucap bu Lastri sambil memeluk Sinta penuh haru.
\*\*\*\*
Jarak antara rumah bu Lastri dan Sinta tidak jauh,hanya berselang satu rumah saja,cuma butuh lima menitan saja sudah sampai. Jadi dia bisa berjalan kaki ke sana dan sekarang wanita itu sudah kembali ke rumahnya.
"Nayla belum tidur juga ya,kamu nungguin bunda?" tanya Sinta saat melihat Nayla masih terduduk di ruang tengah sambil menonton acara TV.
"Iya,bunda pulang sendiri? Rio mana?" Nayla heran melihat Sinta yang pulang sendiri tanpa ada Rio.
"Owh,Rio malam ini tidur di rumah bu Lastri," jawab Sinta memberitahu.
"Kak David sama kak Tina sudah di jemput sama mama tadi." Ucap Nayla seraya menundukkan kepalanya.
"Apa mama memarahi kamu?" Sinta terlihat khawatir.
"Lalu kamu kenapa terlihat sedih begitu?" Sinta nampak bingung.
"Aku merasa tidak enak hati saja bunda,rasanya tidak pantas Nayla tinggal di sini." Jawabnya jujur.
"Bunda hanya ingin kamu ke sekolah,belajar yang rajin biar jadi anak yang sukses kelak supaya kamu bisa membuktikan kepada mama dan papa kalau kamu juga bisa jadi orang hebat,meski dengan fisik yang tidak sempurna." Ucap Sinta memberi Nayla semangat.
"Apa Nayla bisa melakukannya bunda?" dia tampak ragu-ragu.
"Kamu pasti bisa,besok bunda akan mendaftarkan kamu di sekolah,kamu mau kan?" Sinta bertanya sekali lagi,berharap Nayla tidak menolaknya.
"Nanti kalau ada orang yang tahu Nayla anak mama bagaimana?"
"Tidak akan ada yang tahu,dalam hal ini bunda tidak akan membawa-bawa nama kedua orang tua kamu,mulai sekarang kamu anak bunda,mengerti!" tegas Sinta.
Nayla hanya mengangguk saja dan kemudian memeluk Sinta,dia sangat merindukan pelukan hangat seorang ibu,coba saja yang sekarang ada di depannya adalah mamanya sendiri,dia pasti sangat bahagia.
__ADS_1
"Mulai sekarang bunda tidak akan meninggalkan kamu,apapun yang terjadi." Ucap Sinta berjanji,dia memang sangat menyayangi Nayla sejak dari pertama dia bertemu dengan anak itu,apalagi Sinta juga melihat sendiri bagaimana perlakuan tidak adil kedua orang tua Nayla.
\*\*\*\*\*
Mungkin ini awal kebahagiaan untuk Nayla,dia jauh dari kedua orang tuanya sekarang,orang tua yang tak pernah bersikap baik terhadapnya,sekarang Allah telah memberikan dia seorang wanita berhati mulia yang akan selalu ada di saat dia butuhkan,sesuatu yang tak pernah sekalipun Nayla pikirkan.
DI RUMAH ALIF
"Kalian cuma berdua saja,Nayla mana?" tanya umi Fitri,beliau sangat merindukan Nayla karena sudah dua minggu lebih Nayla tidak datang ke rumahnya.
"Nayla sudah tinggal bersama dengan bunda Sinta,umi." Jawab Tina.
"Kalau memang umi mau bertemu dengan Nayla kami bisa memberikan alamat rumah bunda." Tambah David menawarkan.
"Kenapa Nayla tinggal di sana?" wanita itu mengernyitkan keningnya.
"Papa bilang kalau bunda mau menyekolahkan Nayla,dan menurut Tina ada baiknya juga sih kalau Nayla tinggal di sana,biar dia tidak dipukul sama papa setiap kali papa marah."
Umi mulai menatap Tina dan David secara bergantian,entah apa yang tengah beliau pikirkan.
"Apa mama kalian juga pernah memukul Nayla?" tanya bu Fitri penasaran.
"Setahu kami tidak,kalau mama sih hanya sering memarahinya saja," jawab David apa adanya.
"Nanti sore kita ke sana,kalian mau nggak nemanin umi?" tanya bu Fitri,yang dijawab dengan anggukan kepala penuh semangat oleh mereka.
"Oh iya,kalian sudah makan siang belum?"
"Belum." Mereka menjawab kompak.
"Tidak ada yang masak umi,karena mama belum pulang dari kantornya," ucap Tina.
"Kalau begitu kalian makan dulu sana!" suruh bu Fitri,tanpa disuruh dua kali Tina dan David langsung saja bangun dari sofa itu dan pergi menuju meja makan karena sebenarnya perut mereka sudah keroncongan dari tadi pulang sekolah.
Bu Fitri semakin merasa iba dengan nasib Nayla,kedua kakaknya sangat disayang oleh kedua orang tuanya sedangkan Nayla tidak mendapatkan kasih sayang sama sekali.
__ADS_1