Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Merindu Kasih Ibu


__ADS_3

"Tiga tahun lebih mungkin ada," jawab Sinta.


"Ternyata sudah lama," gumam Nayla yang sedari tadi hanya diam saja.


"Bunda sedikit heran sama Nayla,kenapa Nayla tidak sekolah?" tanya Sinta,pandangannya beralih ke wajah Nayla.


"Nayla belajar di rumah bunda,kalau ke sekolah nanti---" Nayla tidak berani melanjutkannya,dia menatap kedua kakaknya secara bergantian.


"Nanti papa sama mama bakalan malu." Yang di jawab Tina,dia mengecilkan volume suaranya,supaya tidak di dengar oleh kedua orang tuanya.


"Kenapa harus malu? Kalian sendiri pernah lihat nggak,kalau banyak orang di luar sana yang bisa menjadi orang sukses meski memiliki kekurangan fisik,tidak sempurna seperti kita,tapi mereka bisa kok menjadi orang-orang hebat,seharusnya itu bisa menjadi contoh buat mama sama papa iya kan." Ucap Sinta,dia juga berbicara dengan suara yang cukup pelan.


"Nah,justru itu yang membuat kita juga heran bunda," ujar David.


"Berarti tugas kalian sekarang adalah harus bisa mengubah pemikiran mama sama papa," ucap Sinta mengusulkan.


"Kayaknya sih bakalan susah," ucap Tina tidak yakin bisa membuat papanya berubah. Tina kenal betul dengan papanya yang memiliki watak yang keras.


\*\*\*\*\*


Sorenya saat Sinta mau pulang,David dan Tina buru-buru mencegahnya.


"Lho,bunda Sinta mau pulang,nginap aja semalam di sini!" ucap David.


"Iya,boleh kan ma,pa?" tambah Tina meminta persetujuan kedua orang tuanya.


Bu Amel dan pak Arman tidak punya alasan untuk tidak menuruti keinginan kedua anak itu,walaupun mereka tahu alasan David dan Tina menyuruh Sinta untuk menginap di rumah mereka meski hanya sehari saja.


"Memangnya nggak apa-apa kalau aku nginap di sini mbak?" tanya Sinta memastikan.


"Nggak apa-apa,kan di sini juga masih banyak kamar kosong," jawab bu Amel.


"Kalau begitu aku keluar dulu ya,ada janji sama pak Arnold," pamit pak Arman.


"Ya,hati-hati pa!" pesan bu Amel saat suaminya sudah masuk kedalam mobil hendak pergi.


"Ma,kita juga mau keluar sebentar boleh ya?" pinta Tina.

__ADS_1


Amel langsung menggelengkan kepalanya,tanda tidak mengizinkan.


"Sebentar aja kok ma,boleh ya!" pinta David setengah merengek.


Sinta yang melihatnya merasa kasihan,jadi dia memberanikan diri untuk ikut membujuk bu Amel.


"Di bolehin aja mbak,kasihan mereka," bujuk Sinta.


Bu Amel membuang nafasnya dengan kesal dan akhirnya mengangguk mengizinkan.


"Makasih mama." Ucap mereka bersamaan.


"Tapi ingat jangan lama-lama!" pesan mamanya. Mereka bersorak kegirangan dan kemudian pergi ke kamar Nayla untuk mengajak adiknya itu bermain.


"Dasar anak-anak,ada-ada aja kelakuannya." Ucap bu Amel. "Sin,kita duduk di halaman belakang yuk!" ajak wanita itu.


"Aku tidurin Rio dulu ya,mbak."


"Nggak usah,dia kan sudah tidur tadi siang masa sekarang kamu tidurin lagi,sudah sore lagi nggak baik Sin." Ucap bu Amel mencegah. "Sini biar aku yang gendong!" bu Amel mengulurkan tangannya dan kemudian Rio dengan patuh langsung memberikan kedua tangannya kepada bu Amel seperti sudah paham.


"Wah pintar sekali anak mama ya," desis bu Amel sembari mencium pipinya Rio.


"Ma-ma..." itu kata-kata pertama yang keluar dari mulut Rio begitu di gendong bu Amel yang membuat wanita itu terharu mendengarnya,baru kali ini dia mendengar lagi anak kecil memanggilnya mama.


"Mama ya,Rio sayang sama mama Amel?" tanya Sinta,anak itu pun mengangguk sambil tersenyum.


"Dia sudah umur berapa Sin?" tanya bu Amel,saat itu mereka sudah berada di halaman belakang.


"Hampir dua tahun mbak,dan dua bulan lagi Rio sudah genap dua tahun," jawab Sinta.


"Pa-pa..."


"Papa..." panggil anak itu seraya menarik-narik lengan bajunya Amel. Rio yang masih berada di pangkuannya bu Amel mulai menggerak-gerakkan badannya ingin segera turun dari pangkuan wanita itu.


"Mana ada papa di sini," ucap Sinta.


"Sepertinya dia mau turun Sin."

__ADS_1


"Iya mbak turunin aja! Biar jalannya juga tambah lancar," jawab Sinta. Rio langsung berjalan menuju pintu belakang tempat tadi dia melihat papanya berdiri.


"Pa-paa..." panggil Rio,dengan susah payah dia berjalan untuk melihat papanya,sedangkan pak Arman saat itu ternyata bersembunyi di belakang pintu. Amel dan Sinta terus mengawasi kemana Rio hendak pergi dan benar saja pak Arman kemudian keluar dari balik pintu itu,dan menggendong anaknya.


"Oh ternyata dia benar-benar melihat papanya mbak," kata Sinta pada bu Amel.


"Iya,kita saja yang tidak menyadarinya."


"Anak papa sudah pintar ya." Pak Arman mencubit gemas pipi anaknya.


Lelaki itu kemudian berjalan menuju tempat di mana kedua istrinya sedang duduk santai di sore itu.


\*\*\*\*\*


Nayla kini hanya tinggal seorang diri di kamarnya,dia tidak mau ikut David dan Tina pergi ke rumah Alif,padahal tadi Tina sudah mengajaknya untuk ikut. Nayla hanya tidak mau mama dan papanya marah lagi padanya,dia takut dibuang lagi seperti yang dilakukan oleh mamanya beberapa hari yang lalu.


"Hahaha... Ayo,ayo ke sini!"


"Ke sini Rio!"


Terdengar suara tawa papanya dari halaman belakang,sepertinya pak Arman sedang mengajari Rio agar bisa berjalan lebih lancar. Nayla tersenyum mendengarnya,dia bahagia karena keluarganya juga bahagia,tapi dia juga sedih kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun memandang wajahnya,memegang tangannya,mencium pipinya dan hal-hal lainnya.


Nayla merasa seperti yatim piatu meski kedua orang tuanya masih hidup.


Delapan bulan lebih sudah dia di sana,tapi belum ada perubahan sama sekali. Mungkin Nayla masih harus menunggu bertahun-tahun lagi supaya kedua orang tuanya bisa menyayangi dirinya.


"Hahah... Rio sudah semakin pintar sekarang ya,anak bunda sama mama." Ucap bu Amel,suaranya juga masih terdengar jelas sampai ke kamar Nayla karena jendela kamar Nayla juga mengarah ke halaman belakang.


Nayla mengambil guling dan dia memeluknya dengan erat.


"Mama tidak menelantarkan kamu Nay,mama itu sayang bangat sama kamu,cuma karena mama punya banyak kerjaan di kota terpaksa mama kamu menyuruh nenek untuk mengurus kamu," kata-kata nenek padanya masih tersimpan rapi di otaknya,seolah-olah nenek baru kemarin mengatakan hal itu pada dirinya.


Nayla tahu kalau nenek berbohong padanya agar dia tidak kecewa,Nayla tidak marah dia tidak menyalahkan mamanya karena tidak bisa menerimanya dengan keadaan cacat,dia juga tidak marah kepada nenek karena sudah membohonginya. Nayla juga tidak akan menyalahkan takdir,Nayla tidak akan pernah marah dengan keadaannya yang tidak sempurna itu dia hanya kurang beruntung saja,dia dengan ikhlas menerima takdir hidup yang sudah digariskan untuknya.


Gadis kecil itu semakin erat memeluk gulingnya dan membenamkan kepalanya di sana,ternyata dia sedang menangis,dia merasa sangat kesepian saat itu. Nayla tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan kedua kakaknya biarlah dia sendiri yang akan menyimpan rasa sedih itu.


Nayla tidak bisa menahan tangisnya,air matanya mengalir terus. Jujur saja,dia sangat sedih saat mendengar tawa bahagia mama dan papanya,dia sadar selama dia tinggal di sana dia hanya membuat hubungan kedua kakak dan orang tuanya renggang.

__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2