
"Bagaimana mereka bisa hilang? Kamu tidak becus menjaga anak-anak!" ucap pak Arman lantang,bu Amel menenangkan suaminya,menyuruhnya untuk tenang dulu.
"Aku memang salah mas,aku lalai dalam menjaga mereka," lirih Sinta,kepalanya ditundukkan ke bawah tidak berani melihat kemarahan dimata suaminya.
"Papa juga tidak boleh salahkan bunda seperti itu,tadi mereka cuma main mesin capit doang tapi saat kami datang ke sana mereka sudah tidak ada," ungkap David menceritakan,dia tidak ingin papanya itu menyalahkan Sinta sepenuhnya.
"Sekarang aku akan ke kantor polisi!" ucap lelaki itu.
"Tadi aku dan David sudah ke sana untuk membuat laporan,dan mereka bilang harus menunggu 24 jam,kalau masih belum ada kabar mereka akan langsung mencarinya," ucap Sinta,mendengar ucapan istri keduanya itu pak Arman semakin emosi.
"Masih harus menunggu lagi? Kalau terjadi sesuatu dengan Tina bagaimana? Kalau cuma Nayla yang hilang aku tidak ambil pusing,tapi ini Tina,dia itu putri aku satu-satunya mana bisa aku membiarkannya begitu saja,aku tidak akan menunggu aku akan pergi mencarinya sendiri!" pak Arman semakin emosi dia pergi begitu saja.
Bu Amel terdiam,wanita itu seperti kehilangan separuh dari nyawanya,dia sangat mengkhawatirkan keadaan Tina,hanya Tina yang ada dipikirannya,tidak dengan Nayla.
\*\*\*\*
Pintu ruangan terbuka,dari luar masuk seorang lelaki dan juga seorang perempuan,Tina sangat tidak menyangka ternyata lelaki itu adalah bapak-bapak yang mengikuti mereka malam itu saat pulang shalat tarawih di masjid,dan wanita itu adalah orang yang tadi sudah menipunya,ternyata dua orang tersebut memang sudah mengincarnya dari awal.
"Anak-anak manis,ternyata kalian sudah sadar ya?" ucap wanita itu. Tina menatapnya dengan pandangan marah.
"Ternyata kalian bekerja sama untuk mengelabui saya,dan bapak ini bukankah orang yang mengikuti kami saat pulang dari masjid malam itu?" Tina memandang dengan penuh selidik orang di depannya.
"Ya kamu benar nak,dan ingatan kamu memang sangat bagus!" jawab lelaki itu.
"Bos,saya keluar dulu! Saya akan menemui beberapa lelaki muda yang mungkin ingin memilih beberapa perempuan di sini." Ucap wanita itu sambil berlalu pergi.
__ADS_1
"Kamu jangan lupa untuk menaikkan tarifnya Lin!" seru lelaki itu.
"Mereka akan membayar sesuai dengan kemampuan gadis itu sendiri!"
Nayla dan Tina tercengang mendengar omongan wanita paruh baya itu,ternyata apa yang dikatakan kakak-kakak tadi itu benar,setelah dimasukkan ke sini mereka tidak bisa keluar lagi,mereka akan dijadikan pengemis atau gadis penghibur.
"Tolong lepaskan kami!" Nayla memohon,dia sangat ketakutan bahkan hampir menangis.
"Saya tahu kalian berdua adik kakak kan,makanya saya memasukkan kalian ke tempat yang sama,kalian duduk yang manis di sini ya,jangan ribut-ribut karena saya akan mencari tuan baru untuk kalian berdua," selesai mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak penting itu dia langsung keluar.
Tina memanggil kakak yang bicara dengan dirinya tadi,ketika pintu ruangan tempat mereka disekap kembali ditutup.
"Kak,apa tidak ada cara lain untuk keluar dari sini?" tanya Tina,dia tidak ingin selamanya terjebak di sana.
"Oh iya kita bahkan belum saling kenal,namaku Alin dan ini Yuna." Ucap Alin memperkenalkan teman disampingnya.
"Tadi kamu bertanya apa masih ada cara lain untuk bisa keluar dari sini,tentu saja ada!" ujar Alin.
Wajah Tina dan Nayla terlihat mulai tenang,mereka mulai menaruh harapan semoga saja memang benar kalau mereka masih bisa keluar dari sana.
"Tapi itu hanya untuk kalian berdua,tidak bagi anak-anak yang lain," kini giliran Yuna yang ngomong,matanya menatap iba ke arah anak-anak yang berada dalam kurungan lain yang ada di dalam ruangan besar itu.
Dalam ruangan itu ada tiga sel,satu untuk gadis-gadis cantik seperti Alin dan temannya,satu lagi untuk anak-anak dan satunya lagi adalah kurungan jeruji besi yang ditempati Nayla dan Tina,dan tempat yang mereka tempati itu juga berbeda dari yang lain,mereka bisa dikatakan berada dalam kurungan emas,ya karena warnanya memang warna emas. Sedangkan dua kurungan yang lain berwarna hitam,bahkan tidak ada kasur seperti mereka,yang lain hanya tidur beralaskan karpet saja.
"Ada yang aneh dengan tempat ini kak," bisik Nayla,nada suaranya terdengar gemetaran.
__ADS_1
"Kalian pasti heran kenapa tempat kalian itu berbeda dari yang lain iya kan?" tanya Alin menebak.
"Iya kita heran,kenapa bisa berbeda-beda seperti ini?" tanya Tina.
"Itu artinya kalian masih memiliki harapan untuk keluar dari sini," jawab Yuna.
"Yuna,aku sangat takut kejadian tiga tahun yang lalu terulang lagi," ujar Alin,matanya menunjukkan rasa ketakutan dan dia memeluk kedua lututnya,kejadian tiga tahun lalu sangat mengerikan.
"Kejadian tiga tahun lalu? Kejadian apa kak?" tanya Nayla penasaran.
"Kalian mungkin akan memiliki nasib sama seperti Lola dan Rizal adiknya," tutur Alin memberitahu.
"Mereka bisa keluar dengan selamat dari sini karena mereka memiliki orang tua kaya raya dan mau menebus mereka berdua,tapi pada akhirnya hanya Lola yang selamat dan rizal adiknya meninggal dalam kecelakaan,saat mereka dibawa pulang oleh papanya dari sini,hanya itu yang kita ketahui,cerita lebih lengkapnya kakak tidak tahu karena kami hanya mendengarnya dari pembicaraan bos Bondan dan bu Andira," kata Yuna menceritakan.
"Ini salahku kak,coba saja tadi aku tidak marah dan pergi begitu saja kita pasti tidak akan bisa diculik oleh mereka." Ujar Nayla penuh rasa sesal,dia semakin yakin dengan keberadaan dirinya yang hanya bisa membawa masalah bagi keluarganya.
"Aku juga salah Nay,seharusnya aku mengatakan langsung masalah ini sama kamu,agar kamu tidak salah paham."
"Kakak tahu tidak,malam itu saat bunda dan papa bertengkar aku melihat semuanya,aku mendengar semua ujaran kebencian yang papa lontarkan untuk aku,papa bilang aku hanya anak yang membawa pengaruh buruk dalam keluarga,kalau tahu seperti itu sudah dari sejak aku lahir papa membunuhku." Nayla menceritakan semua yang didengarnya malam itu. Alin dan Yuna ternyata juga bisa mendengar percakapan Nayla dan kakaknya karena tempat mereka bersebelahan,berbeda dengan anak yang lain,mereka berada di ujung sudut ruangan jauh beberapa meter dari mereka berempat.
"Saat itu papa salah mencurigai orang Nay,yang melakukan semuanya adalah tante Prilly,ini disebabkan karena tante Prilly sangat marah sama papa kita karena tidak mau mengakui kesalahannya."
"Tapi tetap saja mau salah siapapun yang intinya papa memang tidak menyukai aku sama sekali." Ucap Nayla raut wajahnya terlihat sedih,tak ada lagi harapan akan cinta,dia tidak berharap lagi kasih dan sayang dari kedua orang tuanya,karena pada kenyataannya mereka memang tidak akan pernah bisa menerima kehadirannya di dunia ini.
"Apa kamu masih marah dengan omongan papa hari itu,Nay?" tanya Tina,menatap Nayla dengan sangat dalam,dia seperti sedang mencari sesuatu di mata adiknya. Tina mengetahuinya sekarang Nayla seperti orang yang sudah putus harapan,dia tidak berharap lagi akan kasih sayang dari orang tuanya.
__ADS_1
"Aku tidak marah kak,hanya kecewa saja. Kenapa papa begitu bencinya sama aku,tak suka tak apa,tapi ucapan papa yang mengatakan seharusnya membunuhku sejak lahir itu yang sangat menyakitkan sampai sekarang,bagaimana bisa ada orang tua yang mengatakan perkataan sekejam itu pada anaknya sendiri." Tutur Nayla,gadis kecil itu tidak bisa menahan air matanya hingga jatuh mengalir begitu saja. Siapapun bisa menghiburnya tapi tidak ada yang bisa merasakan sakit seperti yang dia rasakan,karena mereka tidak berada diposisinya.