
"Tina,saya mau memberikan nomor telpon kedua orang tua kamu,tapi kamu harus membayar mahal untuk satu kebaikan ini," ucap Prilly,wanita itu bahkan tidak peduli dengan keadaan Tina yang dalam bahaya saat itu.
"Tante bisa melihat isi rekaman di dalam hp saya,itu bisa menjadi bukti,tapi tolong berikan dulu nomor hp orang tua saya!" pinta Tina.
\*\*\*\*\*
Setelah pembicaraannya dengan Tina terputus,Prilly seperti baru tersadar sekarang,dia bahkan kehilangan setengah kesadarannya,menatap suaminya dengan tatapan penuh ketakutan.
"Kamu masih mau bermain-main saat ini? Lihat sendiri kan apa yang sudah kamu lakukan,kamu benar-benar akan membuat mereka dalam bahaya besar,bisa jadi nyawa mereka menjadi taruhannya." Ucap Alvin sengit,dia marah dengan kelakuan istrinya yang memanfaatkan keadaan Tina yang berada dalam bahaya untuk mencari bukti kejahatan papanya.
"Kenapa mas malah nyalahin aku,sekarang aku juga akan pergi ke rumahnya pak Arman dan mengatakan kalau kita sudah menemukan keberadaan Tina dan Nayla," ujar Prilly.
"Aku akan menemani kamu," ujar Alvin,dia tidak mau nantinya pak Arman malah menuduh mereka komplotan para penculik itu,karena saat ini hpnya Tina juga berada ditangan mereka.
\*\*\*\*
Di RUMAH PAK ARMAN
"Pasti kalian yang sudah melakukan semua ini!" tuduh pak Arman,menatap kedua orang di depannya dengan tajam.
"Terserah pak Arman percaya atau tidak,ini nomor penculiknya," tunjuk Alvin kepada lelaki itu.
Sinta dan bu Amel langsung melihatnya,mereka percaya sekarang,tapi pak Arman yang egois itu masih tetap tidak percaya.
"Begini,biar saya jelaskan bagaimana ceritanya hingga hp ini berada ditangan kami," ucap Prilly,wanita itu langsung menceritakan awal dari Tina melihatnya di toko emas malam itu,dan keributan yang terjadi di antara mereka,yang membuat Nayla salah paham dan pergi dari sana,hingga kemudian Tina mengejarnya tanpa sadar kalau handphonenya terjatuh di toko itu.
"Sudah aku duga ini semua pasti gara-gara anak sialan itu!" umpat pak Arman,wajahnya merah padam,semakin membayangkan Nayla semakin membuat dirinya emosi. Prilly dan Alvin yang mendengar pak Arman mengumpat Nayla seperti itu,membuat perasaan mereka perih. "Orang tua macam apa dia mengutuk anaknya sendiri?" batin Prilly.
"Jangan menyalahkan Nayla dalam hal ini,ini musibah mas nggak ada sangkut pautnya sama dia," bela Sinta.
"Terus... Terus saja kamu membela anak sialan itu," ucap pak Arman penuh kebencian.
__ADS_1
"Pa cukup! Kita di sini bukan untuk mencaritahu siapa yang benar dan siapa yang salah,tapi kita harus cari cara bagaimana bisa membebaskan Tina." Bu Amel mencoba menghentikan ucapan suaminya yang hanya akan mempermalukannya sendiri di depan Prilly dan suaminya.
"Mereka meminta tebusan sebanyak 150 milliar," ungkap Alvin sontak membuat ketiga orang di depannya melongo mendengarnya.
"150 juta itu sangat banyak,apa mereka sedang memeras kita?" pak Arman tampaknya tidak setuju.
"Kita harus mengeluarkan uang kita pa,ini untuk keselamatan anak kita juga." Bu Amel membujuk suaminya.
"Aku akan mengeluarkan uangku hanya untuk satu anak saja,yang lainnya aku tidak mau tanggung,karena anak aku cuma Tina!" tegas pak Arman. Sinta menatap suaminya dengan tidak percaya,pak Arman masih saja membeda-bedakan antara Tina dan Nayla,padahal dua-duanya adalah anak kandung dia sendiri.
"Aku akan menanggung semuanya,mas tidak perlu khawatir,uang segitu hanya masalah kecil bagiku karena nyawa anak-anak lebih berharga." Ucap Sinta tulus,tapi matanya jelas sekali menampakkan kilatan kebencian kepada suaminya itu.
Mendengar perkataan Sinta semua mata tertuju ke arahnya,Alvin dan Prilly kagum dengan kebaikan hatinya Sinta,namun mereka sangat menyayangkan nasib Sinta yang memiliki jodoh seperti pak Arman.
"Aku akan membantu kamu Sin,aku akan menanggung setengahnya." Bu Amel tidak mau melepaskan tanggung jawabnya sebagai orang tua,dan akhirnya mereka sepakat mengambil uang simpanan mereka untuk dijadikan sebagai tebusan Nayla dan Tina.
"Dan satu hal lagi,hanya satu orang yang boleh ke sana,jangan mengajak polisi," tambah Prilly.
"Lalu siapa yang akan ke sana? Kita juga tidak mungkin datang dengan tangan kosong,aku tidak yakin mereka bisa dipercaya." Ucap Sinta khawatir.
"Biar aku saja!" ujar pak Arman menawarkan diri,entahlah lelaki itu saat ini tulus ingin melakukannya atau dia memang memiliki niat lain,Sinta bahkan tidak bisa mempercayai suaminya sendiri.
\*\*\*\*
"Sudah siang kak,sampai sekarang tidak ada kabar dari keluarga kita," lirih Nayla sedih.
"Kita harus tetap sabar menunggu Nay,semoga saja tante Prilly memang mau membantu,sekarang kita hanya bisa menunggu saja." Tina memeluk adiknya,tidak pernah dibayangkan sama sekali olehnya kalau mereka akan berakhir ditempat mengerikan ini.
"Kak,jika nanti kita bisa keluar dengan selamat dari sini aku ingin meminta bunda untuk membuat sebuah rumah yang dapat menampung anak-anak itu." Ucap Nayla mengutarakan keinginannya.
"Ya,aku setuju dengan ide kamu itu Nay,aku juga ingin kak Yuna dan kak Alin bebas dari sini." Tina juga memiliki niat yang sama,kedua anak itu memiliki hati yang sangat baik.
__ADS_1
"Nayla,Tina...!" panggil Alin,kedua anak itu segera menoleh ke arahnya.
"Iya kak ada apa?" tanya Nayla.
"Sebentar lagi kalian akan keluar dari sini,kalian jangan lupakan kami ya.!" Alin terlihat sedih saat mengatakannya.
"Aku sudah memiliki cara untuk membebaskan kakak." Ucap tina saat itu,memberi mereka sebuah harapan baru.
Yuna dan Alin saling pandang dan kemudian mereka berdua tersenyum, "Kami juga tidak berharap banyak sama kalian berdua,kalian bisa bebas dari sini saja kami sudah sangat bersyukur." Ucap Yuna dengan tatapan sendu.
"Kak Yuna kenapa berkata seperti itu?" tanya Tina,saat melihat wajah Yuna yang tidak bersemangat.
"Dulu Rizal dan Lola juga pernah mengatakan hal demikian,tapi pada akhirnya kami tetap disini,tidak ada yang datang sama sekali,itu menandakan bahwa memang tidak ada yang bisa menemukan tempat ini." Alin menjelaskan.
Harapan mereka berdua sirna dalam sekejap,mencari peluang untuk keluar juga tidak bisa.
"Tina,Nayla! Kedua orang tua kalian akan datang menjemput besok,jadi tunggulah di sana!" ucap lelaki tadi yang diberi kalung oleh Tina.
"Om tunggu dulu!" seru Tina saat lelaki itu hendak kembali menutup pintu ruangan.
"Apa lagi?" dia bertanya garang.
"Saya mau ke kamar mandi."
"Pergi saja sendiri!" suruh lelaki itu tidak peduli.
"Om tidak lihat kami di kunci dalam sel seperti ini?" ucap Tina membentak.
Lelaki itu kemudian berbalik lagi dan membuka sel tempat Tina dan Nayla dikurung.
"Cepat keluar!" lelaki itu balas membentak.
__ADS_1
"Jangan membentak saya,om tidak kenal dengan saya ya,kalau saya mau saya bisa membeli tempat ini!" balas Tina dengan sombongnya,dia tidak peduli dengan tatapan emosi dari lelaki itu,dia langsung masuk ke dalam toilet dan menutup pintunya dengan kesal.