
Tak terasa sudah seminggu Nayla merasakan suasana bulan ramadhan di rumah bunda Sinta,dia juga sangat senang karena bisa menikmati kebersamaan bersama bu Lastri dan Ayu,mereka sangat baik kepadanya memberikan kasih yang tulus dan kehangatan penuh cinta seperti keluarganya sendiri,tanpa sadar Nayla yang saat itu tengah berada di kamarnya dan membayangkan semua hari-hari indah yang dilewatinya beberapa bulan ini membuatnya tersenyum.
"Ada yang lagi senyum-senyum sendiri ni." Ucap Sinta membuyarkan lamunan Nayla.
"Eh bunda,ngagetin aja!" Nayla masih tersenyum saat itu. Sinta duduk di atas ranjangnya Nayla dan memeluk gadis kecil itu.
"Kamu jangan pernah meninggalkan bunda ya," ucapan Sinta terdengar seperti sebuah permohonan,Nayla semakin merasa dilema,dia sebenarnya juga sangat ingin bersama Sinta namun dia selalu merasakan bahwa kehadirannya di rumah itu hanya membuat hubungan Sinta dan papanya jadi renggang.
"Bagaimana perasaan bunda jika kelak Nayla tidak bisa menjadi seperti yang bunda inginkan?" tanya Nayla,dia sengaja menanyakan hal ini karena ingin mengetahui jawaban apa yang akan diberikan oleh Sinta.
"Bunda memang berharap kamu bisa menjadi orang yang berguna kelak,terlepas dari apapun itu bunda akan selalu mendukung kamu,mau kamu jadi seperti apa nantinya,asalkan kamu selalu memiliki hati yang baik,bunda sudah sangat bahagia," jawab Sinta jujur.
"Pertanyaan kamu sedikit terasa aneh menurut bunda," ujar Sinta kemudian.
"Nayla hanya ingin tahu saja kok bun,Nayla tidak ingin mengecewakan bunda."
"Oh iya Nay,malam ini kamu tidur sama kak Ayu ya,soalnya ibu dan kak Ayu bakal sahur disini." Ucapnya memberitahu,membuat Nayla bersorak kegirangan.
"Hore...! Akhirnya aku punya teman ngobrol sebelum tidur," seru Nayla tersenyum senang.
"Sampe segitu senangnya kamu Nay,kayak dapat rejeki nomplok aja," Sinta juga ikut tersenyum melihat tingkah Nayla. Namun senyumnya itu tiba-tiba hilang begitu saja,saat dia kembali mengingat sesuatu. "Bunda yakin kesenangan kamu hanya bertahan beberapa menit saja,setelah ini kamu bahkan tidak akan bisa tersenyum sampai besok pagi," ucap Sinta,tatapannya penuh misteri membuat Nayla merasa sangat penasaran maksud dari kata-kata bundanya itu.
"Apa maksud dari perkataan bunda itu?" tanya Nayla penasaran.
Sinta segera bangun dari duduknya,dia hendak keluar tanpa menjawab pertanyaan dari Nayla.
"Temukan jawabannya sendiri sayang,bunda akan membuat kamu penasaran malam ini,hingga kamu akan mengerti sendiri dan kesal esok paginya!" seru wanita itu,sambil berlalu pergi kemudian terdengar suara tawanya dari luar,sekarang benar-benar membuat Nayla penasaran.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 11:00 Ayu pun datang ke rumah Sinta sambil membawa bantal kesayangannya yang berbentuk love. Tak ada kata permisi sama sekali gadis itu langsung masuk ke kamar Nayla.
__ADS_1
"Belum tidur kamu,Nay? Entar kamu nggak bisa bangun sahur loh!" ujar Ayu yang melihat Nayla masih membaca Alquran,Nayla tidak menghiraukannya dia terus melanjutkan ngajinya,dan setelah habis dibaca sampai satu jus surah An-nisa dia baru berhenti dan menutup kembali Alqurannya.
"Nayla senang kakak tidur di sini akhirnya Nayla punya teman ngobrol deh." Ucap Nayla,matanya berbinar-binar,menandakan bahwa dia memang beneran senang.
"Kalau kamu senang kakak tidur di sini,maka besok malam kakak juga bakalan tidur di sini lagi."
"Wah Nayla sangat senang kalau kakak mau seperti itu."
"Memangnya kamu nggak keberatan,kalau kak Ayu tidur di sini?" tanya Ayu dia masih tidak yakin.
"Nggak,Nayla malah sangat senang"
"Kakak juga senang tidur di sini,soalnya kamar kamu benar-benar nyaman banget," ucap Ayu,dia memang sangat menyukai kamar Nayla yang dicat warna pink itu,kamarnya serba pink,gorden juga pink nggak tahu deh ide aneh dari mana yang didapat Sinta,hingga mendesain kamar tidur seperti itu,kalau Nayla sendiri sih sebenarnya tidak terlalu menyukai warna pink,dia ebih menyukai warna hijau yang menurutnya membuat sejuk dimata saat dipandang.
Malam itu Ayu menceritakan pengalaman konyolnya saat masih kecil-kecil dulu,ketika dirinya masih seusia Nayla,pengalamannya ada yang sedih bahkan bahagia,saat sedih mereka berdua sama-sama menangis dan begitu sampai dicerita yang seru dan penuh lelucon mereka berdua tertawa,tanpa mempedulikan jam yang sudah menunjukkan angka 00:09 tanda sudah lewat tengah malam,hingga suara Sinta menghentikan suara tawa mereka.
"Ya ampun kalian berdua masih belum tidur juga!" tiba-tiba pintu kamar Nayla terbuka dan Sinta sudah berdiri di sana,menatap garang ke arah mereka berdua.
"Nayla,nanti kamu nggak sanggup bangun sahurnya,langsung tidur jangan banyak cerita lagi!" tegas Sinta. Nayla anak yang patuh jadi dia segera mengangguk.
"Ya sudah bunda matikan lampunya ya!" ucap Sinta,seraya menekan saklar lampu disamping pintu,dan dia pun kembali menutup pintunya,namun seperti merasa ada yang kurang,jadi dia masuk kembali ke kamar Nayla.
"Ada apa lagi,bun?" tanya Nayla dengan kening berkerut.
"Ada sesuatu yang terlupa," jawabnya seraya mencium kening Nayla,itu sudah menjadi kebiasaanya,jadi sehari tidak melakukannya Sinta pasti merasa ada yang kurang.
"Aku nggak di cium?" tanya Ayu berlagak seperti anak kecil di depan Sinta.
"Kamu sudah gede,sana pergi tidur!" ucap Sinta,Ayu yang merasa kecewa langsung tidur dan memeluk gulingnya,Sinta kemudian berbalik lagi tak enak hati rasanya membuat Ayu kecewa.
__ADS_1
"Sini bangun!" suruhnya,Ayu langsung bangun dan Sinta memeluk adiknya itu,mereka bertiga berpelukan dan ada kebahagiaan tersendiri dihati mereka,Nayla juga bahagia,tapi ada perasaan lain lagi dihatinya rasa seperti kehilangan.
"Setelah ini langsung tidur ya!" pesan Sinta lagi.
"Siap buk bos!!" mereka menjawab kompak.
"Nayla,sebentar lagi kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaan kamu tadi." Ucap Sinta untuk terakhir kalinya sebelum dia keluar dari kamar Nayla.
\*\*\*. \*\*\*. \*\*\*
"Ngrkkkk..." Nayla mulai menutup telinganya dengan bantal,sudah dari tadi mencoba untuk tidur,tapi tetap tak bisa,sekarang dia tahu apa di maksud Sinta,ternyata Ayu kalau tidur suka ngorok,dan itu jelas sangat mengganggu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02:03 tapi masih tidak bisa tidur juga,dia kemudian berinisiatif untuk membangunkan Ayu,namun sayangnya Ayu juga sulit dibangunin.
Nayla kemudian bangun dan duduk di tepi ranjangnya,terus seperti itu hingga waktu sahur tiba.
Saat makan sahur,Nayla terus menguap dan matanya memerah. Sinta dan bu Lastri sudah dapat menebak apa yang terjadi dengan anak malang itu.
"Kamu pasti sangat kesulitan tidur dengan Ayu kan?" tanya bu Lastri.
"Kak Ayu benar-benar tidur nyenyak bu,dia bahkan bernyanyi saat tidur," adu Nayla,membuat Sinta dan ibu tertawa,mereka tahu apa maksud dari kata nyanyi yang di ucapkan Nayla.
"Siapa yang nyanyi? Sembarangan kalau ngomong!" Ayu tidak terima dengan perkataan Nayla.
"Iya Yu,kamu kalau tidur suka ngorok,ibu bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak kalau tidur dengan kamu," tambah ibunya membenarkan.
"Kamu sudah tahu kan apa maksud bunda semalam?" tanya Sinta sambil menahan senyumannya.
"Sudah bun."Jawab Nayla singkat,dia masih sangat mengantuk ingin tidur kembali,makanya Nayla makan dengan sangat cepat saat itu.
"Pelan-pelan makannya sayang," tegur Sinta.
__ADS_1
"Masih ngantuk bun,Nayla ingin tidur kembali."
\*"""\*