
"Jadi,istri kedua pak Arman yang umi bilang sama abi adalah Sinta?" tanya pak Jufri memastikan setelah lama terdiam.
"Iya,umi bahkan sangat syok begitu mengetahuinya."
"Tapi mi,wanita yang abi lihat bukan Sinta,abi sangat yakin meskipun abi melihatnya dari jarak yang cukup jauh," ungkap pak Jufri kembali mengingat wajah perempuan yang pernah dilihatnya bersama dengan pak Arman.
"Memangnya wanita yang abi lihat itu apakah dia juga seumuran Sinta?" tanya bu Fitri penasaran.
"Tidak,wanita itu sepertinya sudah berumur sekitar 30 tahunan lebih mungkin,seumuran umi lah," jawab pak Jufri.
"Mungkin itu kliennya pak Arman abi," ucap bu Fitri tidak ingin berburuk sangka.
"Emang ada orang yang bersikap begitu mesra sama kliennya sendiri? Kalau menurut abi sih itu pacarnya yang lain." Ucap pak Jufri,lelaki itu bukannya berburuk sangka tapi ya memang sudah kenyataannya begitu,dan dia juga mengatakannya berdasarkan dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.
"Kenapa jadi semakin rumit aja ya bi,kalau Sinta tahu akan hal ini dia pasti sangat kecewa."
"Kalau masalah ini sebaiknya umi jangan mengatakannya dulu sama Sinta,biar abi selidiki lebih jelas lagi." Ucap pak Jufri. "Tapi umi kok bisa tahu kalau Sinta itu istrinya pak Arman,umi tahu dari mana?" kini lelaki itu mulai penasaran.
"Tadi umi ngajakin Tina sama David pergi ke rumah bundanya,karena Nayla sudah tinggal di sana,ternyata wanita yang selama ini di panggil bunda oleh mereka adalah Sinta. Dan umi benar-benar sangat terkejut begitu sampai di sana."
"Sepertinya umi sangat tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang keluarga pak Arman,seperti tidak ada kerjaan lain aja!" sindir pak Jufri. Bu fitri tersenyum-senyum mendengar sindiran halus suaminya itu.
\*\*\*\*
"Pa,kok baju papa bau parfum perempuan sih?" tanya bu Amel,saat pak Arman merebahkan tubuhnya di samping beliau.
"Papa habis dari rumah Sinta ma," jawab pak Arman,namun bu Amel mulai menaruh curiga terhadap suaminya.
"Aku kenal betul dengan bau parfum Sinta,baunya sangat segar begitu nyaman saat di cium,tapi bau parfum ini terlalu menyengat menurutku,atau jangan-jangan...?" bu Amel mulai menerka-nerka dalam hatinya dengan apa yang mungkin akan terjadi.
"Papa sangat lelah akhir-akhir ini ma,kerjaan jadi begitu banyak,tapi penghasilannya lumayan besar dalam bulan ini." Ucap pak Arman dengan mata berbinar-binar.
Bu amel tidak menghiraukan ucapan suaminya,dia masih sibuk dengan pikirannya tentang sang suami yang mungkin sedang berselingkuh dibelakangnya.
__ADS_1
Melihat istrinya yang melamun saja saat itu,membuat pak arman kesal karena merasa di abaikan.
"Mama lagi mikirin apa? Kok papa bicara nggak di respon sama sekali,di cuekin begitu saja," tegur pak Arman membuyarkan lamunan istrinya.
"Papa sebaiknya mandi sana!" suruh bu Amel,tidak berniat menjawab pertanyaan suaminya,pikirannya sedang tidak fokus dia terus memikirkan hal yang mungkin saja dilakukan suaminya,yaitu berselingkuh di belakangnya.
Di KEDiAMAN SINTA..
"Gimana rasanya senang nggak besok sudah bisa masuk sekolah?" tanya Sinta.
"Senang banget bunda,makasih ya!" ucap Nayla dengan senyum merekah di bibirnya.
"Cobain dulu seragamnya bunda mau tengok gimana cantiknya anak bunda saat memakai seragam sekolah," suruh Sinta dan Nayla langsung mengambil seragamnya yang sudah di lipat dengan rapi dalam lemarinya.
"Sini bunda bantuin!" Sinta membantu Nayla memakai seragam barunya,saat dia hendak menutup resleting belakang bajunya Nayla gerakan tangan Sinta berhenti tiba-tiba,dia terpaku melihat punggung Nayla yang penuh dengan luka-luka bekas cambuk,Sinta kembali memutar tubuh Nayla hingga wajah mereka saling berhadapan.
"Ini kenapa? Tolong jelasin sama bunda kenapa badan kamu bisa babak belur begini?" tanya Sinta dengan tatapan tajam,kini dia baru percaya akan apa yang dikatakan bu Fitri tadi sore.
"Peraturan? Peraturan seperti apa yang papa kamu terapkan di rumah hingga kamu pantas dihukum seperti ini hah?" tanya Sinta sedikit membentak,dia bukannya marah sama Nayla tapi dia emosi saat mengetahui kalau suaminya itu tega memukul anak kandungnya sendiri.
Mendengar bentakan dari Sinta membuat nayla terisak,dan akhirnya dia menangis karena perasaannya menjadi takut,takut kalau bundanya itu juga berubah menjadi jahat seperti papanya.
"Ma-maafkan bunda sayang." Ucap Sinta,seraya memeluk Nayla begitu erat.
Hiks...! tangis Nayla semakin kuat.
"Bunda minta maaf,jangan nangis lagi dong," pinta Sinta,berusaha membujuk Nayla.
"Bunda bukan memarahi kamu Nay,tapi bunda itu marah sama papa kenapa papa memukul kamu seperti ini," lanjutnya lagi. Nayla kemudian menghentikan tangisnya,dia menatap Sinta dan kemudian berkata bahwa dia tidak marah sama papanya,itu kesalahannya sendiri.
Sinta tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi,dia berpikir mungkin kejahatan yang di lakukan mas Arman sudah meninggalkan trauma pada gadis kecil itu. Sinta berniat menanyakannya pada Tina dan David,karena kedua kakak beradik itu pasti tahu mengenai hal ini dan mereka juga tidak mungkin menyembunyikan hal itu lagi darinya.
\*\*\*\*
__ADS_1
DI SEKOLAH..
Nayla melangkahkan kakinya dikoridor sekolah,semua anak-anak yang ada di situ menatapnya dengan pandangan menghina,bahkan ada beberapa anak yang sedang bergosip tentang dirinya.
"Lihat anak cacat itu!" tunjuk salah seorang murid perempuan,menatap Nayla dengan pandangan penuh kebencian.
"Kasian banget jalan harus pakek tongkat,heh!" siswi lainnya ikut menimpali.
Nayla terus mendengar ujaran kebencian yang dilontarkan kepadanya,hingga tiba-tiba Alif datang dan memanggilnya.
"Nayla!" seru Alif sambil berlari mengejar Nayla,dia berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan Nayla. Senyum bahagia terlihat menghiasi wajah cantik Nayla,dia senang akhirnya Alif datang juga,jadi dia tidak merasa takut lagi sekarang ataupun minder dengan tatapan tajam para siswa yang berdiri didepan kelas dan terus menatapnya.
"Owh... ternyata itu temannya si pincang." Ucap anak cowok yang bertubuh gendut,dan dia adalah kakak kelasnya Alif dan Nayla.
Mendengar anak itu memanggil Nayla dengan sebutan pincang membuat Alif marah,tapi dia menahannya dan terus melanjutkan langkah mereka untuk segera ke ruangan wali kelasnya Nayla.
"Nayla,omongan mereka tadi itu jangan terlalu di masukin kehati ya,mereka memang begitu." Ucap Alif menghibur.
"Iya,aku tidak marah ataupun tersinggung,kan apa yang dikatakan mereka memang benar," jawab Nayla,tatapannya begitu teduh dan menenangkan,dia tidak terlihat marah atas ejekan teman-temannya.
\*\*\*\*\*
Hari pertama masuk sekolah,Nayla memang merasa sangat senang. Tapi, dia juga merasa sedikit kecewa karena ternyata dia dan Alif tidak satu kelas,Alif duduk di kelas 1a sedangkan dia duduk di kelas 1b,namun setidaknya teman-teman dikelasnya itu banyak yang baik kepadanya,kecuali satu anak yang bernama Dira,anak itu terlihat tidak menyukainya karena bu Priska guru terfavorit di sekolah mereka tampak sangat menyukai Nayla,itu sebabnya Dira menaruh rasa benci terhadap Nayla.
"Kamu kenapa mandangin Nayla terus Dir?" tanya teman sebangku anak itu.
"Aku tidak suka dia satu kelas sama kita Ri,lihat saja aku akan memberikan dia pelajaran nanti saat jam istirahat." Jawab Dira dengan penuh kebencian.
"Emang salahnya dia apa?" tanya Lestari bingung.
"Kamu nggak lihat dari tadi dia terus cari muka sama bu Priska," tukas Dira semakin kesal saat melihat Nayla bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan guru mereka.
\*\*\*
__ADS_1