
Paginya badan Nayla mendadak panas,badannya juga menggigil kedinginan,dari luar kamar Tina terus memanggil menyuruhnya untuk membuka pintu.
"Nay,buka pintunya Nay!" seru Tina dari luar.
"Ada apa kak?" tanya Nayla,dia belum beranjak dari tempat tidurnya.
"Sarapan dulu yuk!" ajak Tina.
"Nanti saja,kakak sarapan aja duluan!" sahut Nayla,dia tidak sanggup untuk bangun dan berjalan membuka pintu karena kepalanya juga ikutan pusing.
"Kalau gitu makanannya aku bawa ke sini ya!" Tina meminta persetujuannya.
"Nggak usah kak,aku bisa ambil sendiri nanti," jawab Nayla,suaranya jadi parau karena berbicara dengan suara keras agar bisa di dengar oleh Tina yang berada di luar kamarnya.
Nayla kembali mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya yang semakin kedinginan,bibirnya juga bergetar. Saat itu dia sudah tidak mendengar suara kakaknya lagi,mungkin Tina sudah pergi dan kembali melanjutkan sarapannya.
"Dia sudah bangun Tin?" tanya Sinta.
"Sudah bunda,tapi katanya dia belum mau sarapan dulu," jawab Tina. Bu Amel yang mendengar percakapan mereka langsung menjawabnya dengan sinis. "Alah,palingan dia lagi caper,biarin aja entar kalau sudah lapar dia juga akan datang sendiri untuk mengemis makanan ke sini." Ucap bu Amel.
Sinta tidak suka mendengar perkataan bu Amel,ingin menegur wanita itu jelas tidak mungkin,jadi dia hanya bisa diam saja.
Berbeda dengan Tina dia tidak suka memendam rasa kesalnya,jadi dia langsung mengomentari ucapan mamanya.
"Mama,kalau bicara itu juga harus dipikirkan dulu baik buruknya ma,Nayla kan anak mama mana ada kata mengemis makanan,kan sudah menjadi kewajiban mama dan papa untuk menafkahi anak-anaknya." Ucap Tina,dia kemudian melihat wajah mamanya yang ternyata nggak ada respon sama sekali,syukur saat itu nggak ada papanya karena papanya sudah berangkat duluan.
"Tina terlalu banyak ngomong,lihat ni aku bahkan sudah selesai sarapan dari tadi." David yang sedari tadi hanya diam kini angkat bicara.
"Buruan! Sudah hampir jam tujuh nanti kita terlambat!" David menyuruhnya untuk segera menghabiskan sarapan.
"Kalian berangkatnya sama mama ya,mama juga mau nganterin bunda Sinta," ucap bu Amel.
\*\*\*\*
Nayla membuka jendela kamarnya agar udara dari luar dapat masuk dengan mudah,Nayla terduduk lemas di atas kasurnya,dia menatap tangannya sambil berkata "Apa yang bisa aku kerjakan dengan tangan sekecil ini?" anak itu kemudian menangis lagi,kalau di katakan kuat ya dia memang sangat kuat,apalagi untuk anak seumuran dirinya,dia melakukan semuanya sendiri.
__ADS_1
Rumah itu hanya sebagai tempatnya untuk berteduh bukan tempat untuk mencari kehangatan dari sebuah keluarga,keluarga hanya sebuah kata tanpa makna dalam hidupnya,dia sangat kesepian dan merindukan belaian kasih sayang dari mama papanya.
Meski tubuhnya sangat lemah saat itu,namun Nayla tetap harus bangun dan keluar dari kamarnya,dia sudah merasa lapar,hari juga sudah siang.
Tak ada lagi makanan,hanya nasi yang tidak habis dimakan oleh keluarganya yang tersisa,tanpa pikir panjang Nayla mengambil piring yang masih ada sisa makanannya dan kemudian memakannya. Tidak ada rasa jijik lagi,dia sudah terbiasa seperti itu selama tinggal dengan kedua orang tuanya.
\*\*\*\*
KEDIAMAN SINTA
"Mbak,aku boleh menanyakan sesuatu nggak?" tanya Sinta pada bu Amel.
"Soal apa?" bu Amel balik nanya.
"Ini tentang Nayla mbak." Jawabnya dengan hati-hati,dia takut membuat bu Amel tersinggung lagi.
"Tanyakan saja." Bu Amel masih terlihat santai sambil terus membolak-balikkan halaman buku yang dibacanya.
"Kalau Nayla tinggal sama aku boleh nggak.?"
Deg....
"Apa aku nggak salah dengar ini?" tanya wanita itu kurang yakin dengan apa yang tadi didengarnya.
"Boleh nggak kalau Nayla tinggal sama aku?" Sinta mengulang kembali pertanyaannya.
"Omongan kamu itu ngaco!"
"Aku serius mbak,mbak sama mas Arman nggak mau menyekolahkan dia,jadi biar Nayla tinggal sama aku dan aku yang akan menanggung semua biaya hidupnya," ucap Sinta serius.
"Kamu utarakan sendiri keinginan kamu sama mas Arman,kamu lihat dia bakalan setuju atau tidak," suruh bu Amel.
"Aku nanya sama mbak,kok malah suruh nanya ke mas Arman?" ucap Sinta kesal.
"Kalau aku sendiri setuju aja,enggak ada ruginya juga kan? Tapi kamu harus menerima dengan lapang dada kalau nanti mas Arman akan jarang pulang ke sini." Ujar bu Amel memberitahu.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi aku tetap akan membawa Nayla untuk tinggal di sini!" tegas Sinta,wanita itu sudah tidak peduli kalaupun suaminya itu akan jarang mengunjunginya dan Rio,atau bahkan tidak mau menginjakkan kaki lagi di rumahnya itu,dia tidak peduli.
"Terserah kamulah,mbak cuma mengingatkan saja," pungkasnya kemudian.
\*\*\*\*\*
"Dia demam kak," ucap Tina,wajahnya terlihat khawatir.
"Badannya panas banget Tin,wajahnya juga makin pucat." David juga tidak kalah khawatirnya.
Nayla sadar akan kepanikan kedua kakaknya,tapi dia tidak bisa berkata apa-apa,tubuhnya benar-benar lemah,terasa kaku sulit untuk digerakkan.
"Tadi pagi kamu makan nggak?" tanya Tina.
"Makan," jawab Nayla singkat,suaranya terdengar parau. Tina segera pergi ke dapur dia ingin melihat apa mamanya meninggalkan makanan untuk Nayla atau tidak.
"Tidak ada lagi makanan," gumam Tina,dia kemudian melihat ke tempat sampah kecil yang diletakkan di samping pintu masuk dapur,dan ternyata mama membuang semua makanan tadi pagi ke sana,yang tersisa hanya makanan yang ada di piring kotor.
"Apa mungkin Nayla memakan makanan yang ada di sini?" batin Tina,dia segera kembali ke kamar adiknya.
"Nggak ada makanan lagi di dapur,semua sudah di buang sama mama,yang ada cuma sisa makanan di piring kotor apa makanan itu yang kamu makan?" tanya Tina dia sedih dan marah saat itu.
"Iya" jawab Nayla jujur,terlalu susah untuk mencari kata-kata yang pas agar bisa membohongi kakaknya.
Mendengar jawaban Nayla membuat David dan Tina tidak bisa membendung air matanya,mereka menangis karena merasa sudah melupakan adiknya itu.
"Sudah jangan menangis lagi,Nayla kan juga bukan memakan makanan basi,cuma makan makanan sisa kalian tadi pagi,kenapa harus di tangisi? Nayla juga tidak akan langsung mati dengan memakan makanan itu." Ujar Nayla,dia tidak ingin membuat kedua kakaknya bersedih karena dirinya.
"Maafkan kita ya Nay,kita lalai dalam menjaga kamu," ujar David penuh sesal.
"Aku tidak kenapa-kenapa kak."
"Nanti setelah kita beli obat,aku akan membelikan makanan apapun yang kamu mau," janji Tina.
"Kamu telpon bunda aja Tin,kalau nelpon mama dan suruh bawa Nayla ke rumah sakit sudah tentu mama tidak akan mau." Ucap David,tanpa di suruh dua kali Tina langsung menelpon Sinta untuk meminta bantuan dari wanita itu agar mau membawa Nayla ke rumah sakit.
__ADS_1
Nayla merasa sangat senang karena mendapat perhatian tulus dari kakak-kakaknya,coba saja kalau mamanya juga perhatian kepadanya dia pasti akan lebih bahagia lagi.
\*\*\*