
Setelah selesai berbuka puasa,Ayu dan bu Lastri duduk di ruang tengah,mereka sekarang sedang berada di rumah Sinta.
Ayu merasa Sinta membohonginya,dia yakin Sinta tidak pergi keluar kota untuk urusan kantor,tapi dia masih di kota ini dan sedang berada di suatu tempat.
"Kamu sedang ngelamunin apa Yu? Fokus banget kelihatannya." Ucap bu Lastri bertanya.
"Kepikiran kak Sinta bu,kayaknya ada yang dia sembunyikan dari kita." Ucap Ayu.
"Sembunyikan bagaimana maksud kamu Yu?" bu Lastri duduk lebih dekat dengan Ayu,mulai penasaran dengan apa yang dikatakan anaknya.
"Iya,masa ibu tidak merasa ada yang aneh dengan kak Sinta,semalam dia nggak pulang,dan paginya bilang mau pergi keluar kota dengan alasan ingin mengurus pekerjaan,terus Nayla juga menginap di rumah Alif,menurut Ayu ini aneh banget bu," ujar Ayu.
"Kamu kenapa nggak mencoba untuk menghubungi keluarga pak Jufri?" bu Lastri memberi usul.
"Ibu benar juga." Ayu mulai mengambil handphonenya hendak menghubungi nomor bu Fitri.
\*\*\*\*
"Mereka sangat bodoh," umpat Tina kesal.
"Sssttt..." kamu jangan keras-keras ngomongnya Tin,entar di dengar," tegur Alin mengingatkan.
"Kakak kenapa bicara seperti itu?" tanya Nayla.
"Kamu nggak lihat Nay,kita dikunci di dalam sel ini,padahal nggak dikunci kan juga bisa,lagian kita juga tidak bisa keluar dari sini. Nah,kalau mau ke kamar mandi harus panggil mereka dulu gitu? dasar preman bodoh!" omel Tina kesal.
"Tin,tadi kamu ngomong apa sama anak buahnya pak Bondan?" tanya Yuna penasaran.
"Tadi itu aku ngajakin dia buat kerja sama dengan aku kak," jawabnya santai,tapi jelas diwajahnya dia sedang bahagia,mungkin tawarannya diterima oleh lelaki itu.
__ADS_1
"Lelaki itu mau?" Alin mulai penasaran.
"Namanya Yuda,panggil saja om Yuda," suruh Tina.
"Sepertinya kamu berhasil menjalankan misi kamu Tin." Ucap Yuna,dia merasa senang sekali karena akhirnya mereka memiliki peluang yang besar untuk bisa keluar dari tempat menjijikkan itu.
"Aku mengajak om Yuda untuk bekerja dengan keluargaku,mungkin bunda bisa membantu dan aku juga menjanjikannya dengan gaji yang lumayan besar,mana mungkin om Yuda tidak mau," ungkap Tina,sekarang dia tidak perlu khawatir lagi,dia hanya perlu menunggu hingga esok hari,menunggu papa untuk menjemput mereka dan semuanya akan berakhir.
\*\*\*\*
DI RUMAH ALIF...
"Kenapa kamu bohongin Ayu,Sin? Kamu kenapa nggak jujur aja sama dia?" tanya bu Fitri heran.
"Aku cuma nggak mau bikin Ayu sama ibu khawatir mbak,mbak kan tahu sendiri kalau Ayu sangat sayang sama Nayla." Jawab Sinta. Dia tidak ingin orang-orang disekitarnya tambah khawatir,dia juga tidak ingin merepotkan orang lain.
"Katanya mas Arman besok yang akan menjemput mereka sambil membawa uang tebusannya," jawab Sinta.
"Kamu sendiri yakin tidak dengan pak arman,apa dia bisa dipercaya?" tanya pak Jufri,dan pertanyaannya mulai membuat Sinta ragu,dia mulai berpikir tentang keputusannya yang membiarkan suaminya membawa uang tebusan itu,apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Tapi,bagaimanapun Sinta mencoba,dia tetap tidak bisa menebak apa yang direncanakan oleh suaminya.
"Aku tidak berpikiran buruk tentang hal ini mas,lagian uang tebusan itu aku sama mbak Amel yang memberikannya,bukan mas Arman," ujar Sinta.
"Iya bi,nggak mungkin juga pak Arman akan melakukan hal-hal yang akan membahayakan anaknya,berpikir positif saja bi," tutur bu Fitri.
"Bagaimana kalau pak Arman tidak mau memberikan uang itu? Bagaimana kalau dia melakukan hal-hal aneh yang akan membahayakan nyawa mereka berdua?" pak Jufri mulai mengatakan keraguannya terhadap keputusan Sinta,beliau memang tidak percaya dengan pak Arman,lelaki itu gila harta,mana mungkin dia rela memberikan uang senilai 150 milliar secara cuma-cuma kepada penculik itu,meski uang itu bukanlah uang miliknya,melainkan milik kedua istrinya.
Sinta baru terfikir akan apa yang dikatakan pak Jufri,bisa jadi apa yang dikatakannya benar,tapi sisi lain dihatinya masih tidak bisa menerima apa yang dikatakan pak Jufri,bagaimanapun kalau pak Arman memang berniat tidak baik maka dia juga akan membahayakan keselamatan Tina,sedangkan dia sangat menyayangi Tina jadi tidak mungkin pak Arman melakukan hal yang aneh-aneh.
"Tidak mas,aku yakin besok mas Arman akan membawa uang itu untuk menebus Tina dan Nayla!" tegas Sinta,berusaha meyakinkan hatinya sendiri.
__ADS_1
\*\*\*
Tina dan nayla masih belum bisa tidur,sedangkan Yuna,Alin dan anak-anak yang lain sudah pada tidur,tapi mereka berdua masih terbaring di atas kasur dengan mata menatap ke atas langit-langit ruangan itu.
Nayla memiliki banyak hal yang ingin dikatakan kepada kakaknya,dan Tina juga begitu. Tapi keduanya tidak tahu harus memulai dari mana.
"Kira-kira besok siapa ya,yang akan menjemput kita?" Nayla bertanya.
"Kalau menurut aku sih papa," jawab Tina yakin. Wajah Nayla berubah menjadi murung,dia sedih dan juga takut kalau papanya tidak mau membawanya pergi,karena yang dia tahu selama ini papa membenci dirinya melebihi mama.
"Kamu kenapa,Nay?" tanya Tina,dia sadar akan perubahan wajah adiknya.
"Bagaimana kalau papa tidak mau menyelamatkan aku dari sini?" ucap Nayla,memandang Tina dengan penuh kecemasan.
"Papa tidak akan meninggalkan kamu Nay,kamu tenang aja aku yakin kita berdua pasti bisa berkumpul kembali dengan bunda." Tina memberi semangat.
"Sebenarnya malam ini aku ingin mengatakan banyak sama kak Tina,kakak tidak keberatan mendengarnya kan?" tanya Nayla terlihat ragu-ragu.
"Ceritakan saja! Aku akan mendengarkan semuanya." Ucap Tina.
"Beberapa hari yang lalu aku pernah kepikiran untuk pergi saja dari rumah bunda,karena aku tahu semenjak aku tinggal di sana hubungan bunda sama papa jadi renggang," ujar Nayla mulai bercerita. "Aku merasa hanya menjadi beban buat kalian aku minta maaf!" lanjutnya lagi,suara Nayla terdengar parau dia berusaha menyembunyikan kesedihannya saat itu.
"Kamu tidak pernah menjadi beban buat kami Nay,itu hanya perasaan kamu saja,kamu jangan terlalu memikirkan ucapan mama dan papa,mereka memang seperti itu," ucap Tina,dia tidak tahu hati Nayla sangat sedih,Nayla selalu merasa kesepian setiap saat.
"Sebanyak apapun orang didunia ini yang menyayangi aku,tetap saja aku tidak bisa bahagia karena yang aku butuhkan adalah kasih sayang dari kedua orang tua aku,kakak tahu kan betapa berartinya kasih sayang orang tua," lirih Nayla,sungguh kata-katanya membuat hati Tina terenyuh mendengarnya.
"Suatu saat mama dan papa pasti akan sadar,dan mereka akan menyayangi kamu seutuhnya." Tina mencoba menghibur,meski Nayla masih kecil namun dia sangat paham akan masalah hidupnya.
"Aku tidak yakin dengan hari itu kak,mama dan papa memang tidak akan pernah bisa menyayangi aku,tidak seperti kakak dan kak David,kalian berdua sangat beruntung karena diberikan kasih sayang dan cinta yang tulus dari mama dan papa. Jadi,kakak harus menjadi anak yang baik,yang berbakti sama kedua orang tua,setidaknya mama tidak pernah menyesal karena telah melahirkan kalian,tidak seperti aku." Ucap Nayla,air matanya jatuh mengalir dari sudut matanya,dia buru-buru menghapusnya supaya Tina tidak melihat kesedihannya,syukur saat itu pandangan Tina masih lurus kedepan.
__ADS_1