
"Eh kang Ujang,kalau jual sayuran yang bagus-bagus dong," ucap salah seorang pembeli.
"Ini sayuran kemarin bu Icha,kalau mau,ambil saja!" tawar kang Ujang si tukang sayur keliling. "Saya kasih tiga ikat 5000 aja," lanjutnya lagi dengan gaya khasnya yang kayak banci-banci gitu.
"Sama aja dong," sahut pembeli yang lainnya,di iringi dengan tawanya kang Ujang.
"Terongnya berapa sekilo kang?" tanya bu Amel,sekarang semua mata tertuju ke arah wanita itu,wajar saja soalnya bu Amel sangat jarang belanja di gerobak sayur keliling.
"8000 aja bu,itu hasil panen dari kebun saya sendiri lho," ungkap lelaki itu.
"Tumben jeng Amel belanja di sini?" tanya bu Icha,sedikit penasaran.
"Owh lagi pengen belanja di sini aja bu." Jawab bu Amel memasang wajah kalemnya.
"Lha,itu yang lagi nyapu di halaman rumah bu Amel siapa?" tanya wanita di samping bu Icha sembari menunjuk ke depan rumahnya bu Amel.
Mereka semua serentak melihat ke depan halaman rumah wanita itu. "Eum.. itu anaknya pembantu saya yang dulu,sekarang dia tinggal di sini." Jawab bu Amel,sekarang dirinya merasa sangat tidak nyaman ingin sekali pergi dari hadapan mereka,tapi nanti yang ada malah menambah kecurigaan.
"Masa iya sih anak pembantu,anaknya cantik begitu dan lagi kalau di perhatikan dengan teliti anak itu mirip dengan jeng Amel deh." Ucap bu Icha yang membuat bu Amel semakin gelagapan.
"Iya juga ya,mirip sama jeng Amel," tambah kang Ujang.
"Mana ada mirip sama saya,dia bukan anak saya mana mungkin mirip sama saya,mata bu Icha sama kang Ujang sepertinya harus segera di cek ke dokter deh," ucap bu Amel membantah kebenaran ucapan kedua orang di depannya.
"Tapi saya setuju jeng,memang mirip," tambah pembeli yang satu lagi.
\*\*\*\*\*\*
"Sudah berapa kali saya bilang,jangan keluar kalau masih jam segini,kamu kan tahu tukang sayur itu sering berhenti di depan rumah kita," ucap bu Amel kesal sambil menjewer telinganya Nayla.
"Ma-maaf ma tadi kan mama juga yang nyuruh aku buat menyapu halaman depan,mama bilang tukang bersih-bersihnya nggak datang hari ini," jawab Nayla mengingatkan.
"Pintar ngejawab kamu ya,sudah salah tapi masih aja tidak mau ngaku!" bentak bu Amel sambil menendang kaki anaknya,hingga membuat Nayla yang masih kecil itu terjatuh ke lantai,dia hanya bisa menahan sakitnya tanpa berani menangis.
__ADS_1
"Pergi sana!" usir bu Amel dengan kasarnya. "Dasar pincang.!"
Nayla pergi dari hadapan mamanya,dia masuk ke kamarnya dan mengunci pintu,kemudian naik ke atas kasur dengan berlinang air mata. Nayla mengusap-usap kakinya yang sakit,kaki anak sekecil dia di tendang dengan kerasnya bagaimana sih rasanya? Tentu saja sangat sakit,tapi Nayla harus menahannya dia tidak bisa berbuat apa-apa,dia hanya anak kecil kekuatannya tidak sebanding dengan orang dewasa.
Bu Amel sendiri masih dengan emosinya yang meledak-ledak di ruang tengah,dia marah saat menyadari bahwa wajah Nayla memang mirip dengan dirinya.
"Ya ampun,kenapa baru menyadarinya hari ini? Kenapa nggak dari pertama dia datang ke rumah ini,kalau tahu akan seperti ini jadinya aku sudah buang anak itu di jalanan," ucap bu Amel gelisah.
\*\*\*\*\*\*
Setelah mandi dan sedikit berdandan,bu Amel segera turun ke bawah dia ingin mengajak Nayla pergi berbelanja,itu sih alasannya saja karena yang sebenarnya dia ingin membawa Nayla pergi jauh-jauh dari rumahnya,dia tidak ingin nanti ada yang mengetahui bahwa anak ketiganya sebenarnya adalah Nayla,karena menurutnya Nayla itu hanya menjadi aib bagi keluarganya.
"Kamu sudah siap Nay?" tanya bu Amel setengah berteriak saat melihat Nayla belum keluar dari kamarnya.
"Sudah ma!" akhirnya Nayla keluar juga,tapi perasaannya sangat tidak tenang dia heran kenapa mama tiba-tiba mengajaknya keluar dan kalau mamanya itu langsung baik kepadanya itu sudah pasti tidak mungkin.
"Apakah mama punya niat jahat sama aku?" batin Nayla.
"Udah,ayo buruan!"
"Kita akan menjemput kak David dan kak Tina,setelah itu kita ke toko pakaian untuk beli baju baru buat kamu." Jawab bu Amel lembut.
Nayla menatap mamanya dengan pandangan curiga dia tidak bisa percaya begitu saja.
"Tidak mungkin mama baik sama aku,pasti ada sesuatu yang akan dilakukan mama," batin Nayla penuh rasa was-was.
"Udah ayo! Jangan banyak mikir nanti kita terlambat jemput kak Tina sama kak David." Ucap bu Amel,Nayla pun terpaksa harus mengikuti mamanya itu,dia hanya bisa pasrah saja dengan apa yang akan terjadi nantinya.
\*\*\*\*\*\*
"Wah kita sudah pergi jauh sekali ini,sudah dua jam." Tutur mang Adi.
"Jalan saja mang,nanti kalau saya suruh berhenti baru berhenti," suruh bu Amel dengan ekspresi wajahnya yang dingin. Mang Adi tidak berani bicara lagi,meski dalam hatinya dia sangat penasaran saat itu kenapa majikannya tampak berbeda hari ini seperti sedang merencanakan sesuatu,apalagi bu Amel juga membawa Nayla dan ini semakin membuat mang Adi curiga.
__ADS_1
Mang Adi sudah tahu kalau Nayla itu anak ketiga mereka,dan mang Adi juga tahu kalau Nayla bukanlah anak yang mereka sayang,tidak seperti Tina dan David.
"Berhenti di sini aja mang!" ucap bu Amel,mang Adi pun segera menepikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian.
"Ayo Nay kita turun!" ajak bu Amel,Nayla pun mengikuti mamanya.
"Mang,tinggalkan saja saya dan Nayla di sini,kamu jemput David dan Tina dulu,nanti kalau mereka tanya saya pergi kemana,jawab saja apa adanya ya?" perintah bu Amel.
"Baik nyonya!" jawab mang Adi seraya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
\*\*\*\*\*\*
"Kita mau kemana lagi ma?" tanya Nayla,sekarang perasaan curiganya sudah hilang,ternyata bu Amel benar-benar mengajaknya pergi belanja.
"Kita ke pasar buah dulu aja ya!?" ajak bu Amel,tapi Nayla sudah terlihat lelah saat itu hingga dia meminta mamanya untuk istirahat sebentar.
"Tapi Nayla sudah capek ma,kita istirahat dulu ya?" pinta Nayla.
Bu Amel melihat di sekelilingnya,dia ingin melihat tempat yang pas untuk istirahat sejenak." "Nah di situ aja yuk!" tunjuknya ke arah toko yang sedang tutup saat itu.
"Kamu tunggu di sini dulu ya,mama mau beli buah dan ini tas belanjanya kamu yang pegang. Ingat,jangan kemana-mana!" pesan bu Amel sebelum pergi,Nayla menurut saja saat itu,dia tidak berpikir yang buruk-buruk lagi terhadap mamanya karena dia pikir mamanya mungkin saja sudah berubah,dan sudah bisa menerima dia dengan keadaannya yang cacat.
\*\*\*\*\*\*
Nayla masih menunggu di tempat yang sama,mamanya masih belum balik juga padahal hari sudah hampir maghrib.
"Apa mama sudah pulang duluan ya?" batin Nayla,dia mulai takut.
"Tunggu siapa,nak?" tanya seorang kakek tua yang kini sedang berdiri di depannya.
"Sedang menunggu mama kek,dari tadi siang belum balik-balik juga." Jawab Nayla jujur.
"Wah,bahaya kalau sendirian di sini nak. Ini kota besar banyak orang jahatnya," jelas kakek itu,kemudian beliau langsung pergi tanpa menghiraukan Nayla,kelihatannya sih kakek itu juga seorang pengemis di jalanan,jelas terlihat dari baju yang dipakainya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*