Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Melindungi Nayla


__ADS_3

"Kamu sudah pulang Nayla." Ucap pak Arman,lelaki itu sudah berada dalam kamar Nayla. Nayla saat itu baru saja hendak melaksanakan shalat isya,tapi karena papanya masuk ke kamarnya jadi Nayla terpaksa mengurungkan niatnya itu.


Nayla mulai merasa khawatir sekarang,dia takut kalau papa akan kembali memukulnya,David dan Tina juga tidak ada di situ lagi,takutnya mereka malah ketiduran.


"A-ada apa pa?" tanya Nayla gugup.


"Kamu masih berpura-pura bodoh ya,kamu pikir untuk apa saya menyuruh David dan Tina menjemput kamu,hah?" bentak lelaki itu "Saya ingin memberi kamu pelajaran,supaya kamu tidak jadi anak yang ceroboh lagi." Pak Arman mulai menarik rambut Nayla dan menyeretnya menuju kamar mandi. Nayla mulai menjerit menahan sakit dia terus memanggil nama David,rambutnya itu seperti akan copot dari kulit kepalanya.


"Papa hentikan pa! Nayla minta maaf,Nayla tidak sengaja." Ucap Nayla,gadis kecil itu menangis berharap papanya berbelas kasih padanya meski hanya sedikit.


Pak Arman tidak mau mendengarnya,beliau terus menenggelamkan kepala Nayla ke dalam bak mandi,Nayla bahkan hampir kehilangan nafasnya.


"Pa,hen---" Nayla tidak sempat bicara karena pak Arman menenggelamkan lagi kepalanya,hal itu terus dilakukannya berkali-kali,membuat tubuh Nayla lemas,dia masih kecil tidak sepantasnya di perlakukan seperti itu.


"Pa--- hentikan!" teriak David dia marah melihat kelakuan biadab papanya itu,sedangkan Tina langsung memeluk adiknya.


"Kalian ngapain ke sini? Mau membela dia nggak usah sok peduli!" ucap lelaki itu dengan nada tinggi.


"Pa,Nayla cuma melakukan kesalahan kecil dan hukuman yang papa beri untuk dia itu bahkan sudah sangat keterlaluan." Ucap Tina ikut membela adiknya.


"Kalian berdua ya---" pak Arman mengangkat tangannya hendak memukul Tina,tapi tidak jadi lelaki itu lebih memilih pergi dari sana karena percuma saja di teruskan yang ada nanti kemarahannya malah terlampiaskan kepada Tina dan David.


Tina dan David membantu Nayla bangun,baju gadis kecil itu sudah basah,jadi Tina menyuruh David mengambil baju ganti untuk adiknya biar dia tidak kedinginan.


"Mana yang sakit?" tanya Tina penuh perhatian.


"Kepalaku yang sakit kak," keluh Nayla sambil memegangi kepalanya.


"Papa semakin hari semakin jahat,maafkan kita ya Nay karena terlambat ngebantuin kamu," ucap David sedih.

__ADS_1


"Seharusnya Nayla tidak pulang ke sini," gumam Nayla,seolah bicara pada diri sendiri.


"Maafkan papa ya,kita doakan saja semoga papa dan mama cepat-cepat terbuka pintu hatinya agar bisa menerima kamu apa adanya," ucap Tina penuh harap.


\*\*\*\*\*\*\*


"Papa nggak usah ngomel-ngomel di samping mama,lagian ya percuma papa marah-marah sama Nayla tiap hari,yang ada itu makin membuat David dan Tina semakin sayang sama dia," tutur bu Amel,dia sudah muak mendengar suaminya marah-marah dari tadi.


"Aku heran sama anak-anak itu entah sejak kapan mereka jadi akrab dengan Nayla." Ucap pak Arman.


"Ya sejak papa pukul dia hari itu,sekarang papa terima sendiri akibatnya kan,lama kelamaan David dan Tina akan membenci kita berdua." Ucap bu Amel menyalahkan suaminya.


"Kok mama jadi nyalahin papa sih?" pak Arman tidak terima dirinya di salahkan.


"Sudah ah... Males mama berdebat sama papa,mendingan mama tidur aja." Bu Amel langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya,pak Arman hanya bisa diam dengan pikirannya yang melayang-layang entah kemana,entah sampai kapan mereka akan terus membenci anak bungsunya itu.


\*\*\*\*\*\*\*


dengan pikirannya.


"Jangan terlalu fokus begitu juga bi,sampe kedatangan umi pun abi tidak menyadarinya," tegur bu Fitri.


"Eh umi,maaf abi terlalu fokus soalnya dari semalam kepikiran Nayla terus." Ucap pak Jufri seraya meminum kopi yang dibawa istrinya.


"Bagaimana bi,benar kan Nayla itu anaknya pak Arman?"


"Iya,Nayla memang anak pak Arman dan bu Amel," jawab pak Jufri membenarkan. Raut wajahnya juga tampak sedih,beliau kepikiran tentang perkataan bu Iis yang menceritakan bagaimana susahnya kehidupan Nayla dan neneknya di kampung.


"Kenapa wajah abi sedih begitu,apa ada hal buruk lagi?"

__ADS_1


"Bukan lagi hal buruk umi,lebih dari pada itu." Jawab pak Arman sambil meletakkan kembali gelas yang sudah kosong ke atas meja.


"Coba ceritakan sama umi bi,umi juga pengen dengar." Pinta wanita itu.


"Amel itu tidak hanya menelantarkan anaknya saja,dia ternyata juga tidak pernah peduli terhadap kehidupan ibunya yang susah di kampung. Abi kemarin datang ke rumah Nayla dan neneknya,rumah mereka sudah reyot,tidak layak huni lokasinya juga tidak nyaman untuk di tinggali,bahkan warga di situ tidak ada yang peduli." Ucap pak Arman tersenyum pahit mengingat kehidupan Nayla dan neneknya tanpa ada yang peduli sama Sekali.


"Bi,bagaimana kalau kita ajak Nayla tinggal di sini aja?" usul bu Fitri meminta pendapat dari suaminya.


"Pak Arman dan bu Amel pasti tidak menyetujui hal ini,mereka tidak akan membiarkan Nayla pergi dari sana," jawab pak Arman.


"Kalau belum mencoba kita nggak bakalan tahu bi,lagian ya Nayla juga umi lihat dia senang berada di sini,dia itu butuh kasih sayang yang tulus bi,bu Amel dan pak Arman juga tidak menginginkan Nayla. Dia hanya dijadikan sebagai tempat pelampiasan kemarahan mereka kasihan Nayla bi," terlihat matanya bu Fitri berkaca-kaca kala itu.


"Abi tambah pusing memikirkan masalah ini." Ucap pak jufri kemudian terdiam.


\*\*\*\*\*\*\*


"Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya bu Amel kepada bu Sinta istri kedua suaminya.


"Saya tidak ingin hubungan kita tidak baik,ya meski saya ini istri keduanya mas Arman,tapi apakah mbak akan terus bersikap ketus seperti ini terhadap saya?" tanya wanita itu dengan lembutnya.


"Saya tidak pandai menilai orang lain,saya juga tidak tahu kamu punya niat busuk apa hingga tiba-tiba datang ke sini." Ucap bu Amel sinis.


"Mbak,semua juga sudah terjadi saya juga sudah memiliki anak dengan mas Arman,jadi mau tidak mau mbak juga harus menerima saya,saya ke sini juga tidak punya niat lain mbak,saya cuma ingin hubungan kita baik-baik saja." Bu Sinta sepertinya memiliki sifat yang lebih baik dari pada bu Amel.


"Ya mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur,saya juga tidak mempermasalahkan lagi hal ini asalkan kamu juga tidak membuat hubungan saya dengan mas Arman renggang." Bu Amel mengingatkan.


"Saya tidak akan melakukan hal itu mbak,itu semua berpulang kepada mbak sendiri,kalau mbak Amel dapat menjaga perasaan mas Arman maka hubungan kalian akan baik-baik saja." Jawab Sinta,dia menaruh kartu namanya di atas meja tepat di depan Amel sambil berkata "Kalau butuh apa-apa mbak bisa menghubungi saya,saya hanya ingin hubungan kita lebih baik itu saja." Lanjutnya lagi.


Bu amel mengambilnya dan setelah itu tersenyum,hatinya tenang sekarang ternyata istri kedua suaminya itu tidak seperti apa yang dipikirkannya selama ini.

__ADS_1


🌹 🌹 🌹


__ADS_2