
"Pa,papa nggak bisa kayak gini,aku nggak setuju,pokoknya papa harus ceraikan istri papa itu!"
"Plak!" pak Arman tidak bisa menahan emosi hingga menampar istrinya.
"Papa tampar mama?" bu Amel kaget tidak percaya,karena selama ini suaminya itu tidak pernah main tangan dengannya.
"Iya,kalau kamu sudah tidak senang lagi tinggal di sini,keluar saja aku sudah tidak peduli dan bawa juga anak cacatmu itu pergi." Ucap pak Arman,lelaki itu segera memakai bajunya dan kemudian keluar dari kamar,sudah pasti dia akan pergi ke rumah istri keduanya,sedangkan bu Amel hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*
"Kamu beneran sakit Tin?" tanya David.
"Kakak nggak lihat badan aku panas begini." Jawab Tina kesal.
"Hehe... Cuma memastikan aja."
"Kakak lihat Nayla tidak?" tanya Tina,dia tiba-tiba teringat adiknya.
"Mungkin di kamarnya,kenapa tiba-tiba kamu nanyain dia?" tanya David penasaran.
"Tadi dia di sini jagain aku." Ucap Tina,dia pun menceritakan apa yang terjadi tadi siang.
"Lalu,apa mama memukulnya seperti papa.?"
"Tidak,mama hanya menyiram dia dengan air,dan kemudian dia pergi begitu saja," cerita Tina.
"Syukurlah kalau begitu,setidaknya mama tidak terlalu kejam seperti papa." Ucap David.
"Bukankah selama ini kita terlalu kejam terhadap Nayla?" ucapan Tina mulai membuat David sadar.
"Ya kamu benar,kita membenci dia hanya karena dia cacat,itu terlalu berlebihan,kita memang jahat tapi setidaknya kita tidak seperti papa." Ucap David,matanya memancarkan kebencian yang sangat dalam terhadap papanya.
"Kak david membenci papa?" tanya Tina.
"Aku memang sangat membencinya." Jawab David. Tina tidak tahu,alasan kakak lelakinya sampai marah begitu,ternyata David tadi sempat mendengar pertengkaran antara mama dan papanya,jadi dia juga sudah tahu kalau papanya itu punya istri kedua,tapi hal ini tidak akan dia ceritakan kepada Tina,cukup dia saja yang tahu.
"Kak David,coba kakak pergi ke kamar Nayla,lihat apa dia sudah mengobati lukanya,soalnya tadi aku lihat wajahnya lebam,matanya juga sedikit bengkak." Ucap Tina,dia sudah merasa sedikit sayang kepada adiknya itu.
David pun segera keluar dari kamar Tina untuk melihat keadaan Nayla,tapi pikirannya masih terus terbayang dengan apa yang di dengar tadi di kamar orang tuanya,David benar-benar membenci papanya yang tidak hanya berlaku kasar pada Nayla,tapi kepada mamanya juga.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*
Nayla sedang menjahit di kamarnya,bajunya sudah koyak,gadis itu tidak pernah di belikan baju oleh kedua orang tuanya,baju-baju yang di pakainya itu adalah baju yang di belikan oleh neneknya,bajunya bahkan tidak banyak. Dia hanya memiliki lima pasang baju,dia juga harus mencuci baju-bajunya sendiri,semua serba sendiri.
Tangan Nayla sudah beberapa kali tertusuk jarum,dia tidak tahu bagaimana caranya menjahit,tapi masih terus memaksakan diri,karena tidak ada orang yang bisa disuruh membantunya. Hingga kemudian David masuk dan menghentikan aktivitas gadis itu,dia segera menyembunyikan baju itu ke belakang punggungnya agar David tidak melihatnya.
"Apa kamu sudah mengobati wajahmu itu?" tanya David saat Nayla masih menatap bengong ke arahnya.
"Sudah,tumben kak David ke sini?"
"Apa yang kamu sembunyikan itu?" David tidak menjawab pertanyaan Nayla tadi,dia malah menanyakan apa yang di sembunyikan Nayla.
"Bukan apa-apa hanya baju saja." Jawab Nayla.
"Coba sini aku lihat!" David segera meraih baju yang dipegang Nayla.
"Sudah koyak,ngapain di jahit beli yang baru saja." Ucap David spontan.
Ya,beli yang baru saja,benar seperti kata David tapi itu hanya berlaku untuk dirinya dan Tina,tidak untuk Nayla.
Nayla bukan anak yang mereka inginkan,terlahir cacat juga bukan keinginan Nayla tapi apa yang bisa di lakukannya semua sudah di takdirkan oleh Allah,dia harus ikhlas.
"Biar aku bantu jahit,tanganmu sudah terluka jangan terlalu memaksakan diri." Ucap David seraya mengambil alih jarum yang di pegang Nayla.
"Memangnya kakak bisa?" tanya Nayla ragu.
"Sedikit." Jawab David singkat.
"Tidak apa-apa kak,Nayla bisa sendiri nanti kalau di lihat mama,mama pasti akan marah." Ucap Nayla berusaha mencegah David untuk membantunya.
"Mama tidak akan ke sini,malam ini mama hanya akan terus berada di dalam kamarnya,sambil merenungi nasib buruknya," jawab David sembarangan.
Nayla hanya diam aja mendengarnya karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan kakaknya itu.
\*\*\*\*\*\*\*
Sedangkan Tina terus menangis di kamarnya,sambil menutupi wajahnya dengan bantal,dia terus terbayang-bayang dengan wajah adiknya,seolah baru menyadari dengan segala penderitaan yang Nayla terima selama tinggal bersama mereka,mungkin hatinya tersentuh karena kebaikan Nayla,dan selama ini Nayla juga tidak pernah membalas ucapan buruk mereka.
Nayla memang tidak terlahir sempurna,tapi hatinya itu sangat baik,dia sangat menyayangi kedua kakaknya,Tina tahu itu.
__ADS_1
"Maafkan kakak Nay." Lirih Tina di sela-sela tangisnya. Dia sudah bertekad dalam hatinya kalau dia akan berusaha melindungi Nayla dari pukulan papanya,dia tidak akan membiarkan Nayla di siksa lagi.
\*\*\*\*\*\*\*
"David!" panggil bu Amel. David yang saat itu masih berada di kamar Nayla sangat terkejut melihat mamanya sudah berada di depan pintu.
"Eh mama." Ucap David tanpa rasa takut,dia tidak tahu kalau mamanya sedang dalam keadaan di penuhi amarah dan sudah tentunya Nayla yang akan menjadi pelampiasan mamanya.
"Kamu ngapain di kamar dia,mau ketularan penyakit dia hah?" bentak mamanya.
"David lagi pusing sedang tidak ingin mendengar mama marah-marah." Ucap David hendak pergi,bu Amel tidak menyangka David bisa bersikap begitu terhadap dirinya,jadi dia menganggap bahwa Nayla sudah membawa pengaruh buruk bagi anaknya.
"Kamu sudah berani bicara begitu sama mama,kamu tidak punya sopan santun lagi?" Mendengar pertanyaan mamanya David tersenyum sinis dan berkata. "Memangnya kapan mama ngajarin kita sopan santun?"
Bu Amel di buat semakin marah dengan pertanyaan David,anak itu tidak tahu bahwa sikapnya yang demikian itu akan berimbas kepada Nayla. Benar saja,bu Amel segera menarik lengan Nayla hingga anak kecil itu terjatuh dari ranjangnya,Nayla yang kecil hanya bisa menahan sakitnya dan menangis.
"Ini semua gara-gara kamu? Ini karena kamu penyebabnya,dasar anak cacat! Gara-gara kamu rumah tangga saya hancur,kamu benar-benar bawa sial!" bu Amel memukul Nayla tanpa alasan. David marah melihat perbuatan mamanya,hingga dia mendorong tubuh wanita itu dengan kasar agar menjauh dari Nayla.
"Mama sudah cukup! Hentikan ini semua!!" ucap David emosi. "Mama selalu marah-marah sama Nayla,mama sama papa sama aja,nggak punya perasaan." Ucap David,dia memeluk erat adiknya untuk melindungi agar tidak kembali di pukuli oleh mamanya itu.
"Kamu membela dia David,kamu tidak salah?" bu Amel tidak percaya dengan apa yang di lihatnya,karena selama ini David tidak menyukai adiknya itu,dia bahkan selalu mengejeknya.
"Kenapa? Dia juga adiknya David,apa salahnya menyayangi dia,hanya karena dia cacat bukan berarti kita boleh berbuat seenaknya pada Nayla,mama sama papa sudah sangat kejam!" jerit David di akhir kalimatnya,dia sekarang bahkan juga membenci mamanya.
"David kamu sudah di pengaruhi sama dia,kamu tidak seperti ini." Bu Amel berusaha mendekati anaknya,namun David mengelak.
"Aku sudah bosan melihat sikap mama dan papa yang sudah terlalu kejam,aku juga takut." David akhirnya juga menangis.
Bu Amel bangkit dari sana,dia meninggalkan David dan Nayla,tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam keluarganya,semua begitu cepat suaminya yang menikah lagi tanpa sepengetahuannya dan David yang tiba-tiba membenci dirinya,menurutnya itu sangat aneh bu Amel seperti orang linglung saat itu.
"Kak David hanya akan membuat mama semakin membenci aku," ucap Nayla kemudian begitu mamanya sudah tidak terlihat lagi.
"Aku minta maaf,selama ini aku sudah sangat jahat sama kamu," pinta David tulus sambil memeluk adiknya.
"Kak David tidak salah,tidak perlu minta maaf aku juga tidak marah." Jawab Nayla.dia sangat bahagia setidaknya kakaknya itu sudah mau menerima dirinya,meski sang mama masih sangat membencinya,tapi dia masih terus berharap suatu saat mama juga akan menyayangi dirinya sama seperti David sekarang,dia tidak akan berhenti berdoa.
"Maafkan aku dan Tina!" ucap David sekali lagi,dia sadar sekarang,mata hatinya sudah terbuka dan dia berjanji dalam hatinya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Nayla termasuk papa dan mamanya.
__ADS_1
-------