
"Malam ini kamu jangan pulang dulu ya Sin,temani mbak di sini," pinta bu Amel menatapnya penuh harap. Sinta berpikir sejenak,sebenarnya dalam hati dia tidak mau meninggalkan Nayla seorang diri di rumah,tapi dia juga merasa tidak enak hati menolak permintaan bu Amel,hingga pada akhirnya Sinta mengangguk juga,kan lagi pula dia juga sudah mengatakan pada Ayu untuk menemani Nayla di rumah.
"Makasih ya,kamu sudah mau nemenin mbak. Oh ya Sin,bagaimana kalau besok kita cari tahu tentang mas Arman apa benar dia selingkuh,dan siapa wanita yang bersamanya selama ini," usul bu Amel. Sinta langsung menyetujuinya,ya mereka memang harus segera mencari tahu tentang perselingkuhan suaminya,lebih cepat lebih baik.
David yang saat itu mau mengambil mainan Rio yang berada di ruang tengah,jadi mengurungkan niatnya karena tanpa sengaja dia mendengar percakapan mama dan bundanya,dengan perasaan tak menentu dia kembali ke kamarnya Tina,dan ternyata saat itu Rio juga sudah tertidur lelap,sedangkan Tina masih fokus menatap layar ponselnya.
Dengan nafas ngos-ngosan seperti dikejar setan David tiba dikamar Tina,gadis itu menatap kakaknya dengan tatapan aneh.
"Kayak dikejar setan aja kak David." Ujar Tina,dia hanya melihat sekilas ke arah kakaknya yang masih berdiri di depan pintu kamar,David saat itu masih mengatur nafasnya. Sedangkan Tina sibuk bermain game di handphonenya.
"Kamu tahu tidak kalau mama dan bunda sudah curiga sama papa,mereka tahu tentang perselingkuhan papa." Tutur David,membuat jantung Tina hampir copot,gadis itu langsung menghentikan permainannya dan mulai fokus dengan topik pembicaraan mereka.
"Bagaimana,ba-bagaimana mama sama bunda bisa tahu masalah ini? Bukankah cuma kita bertiga yang tahu?" tanya Tina.
"Mama sudah sejak lama curiga sama papa,dan mama semakin yakin saat bunda bilang beberapa minggu ini papa tidak pernah pulang ke rumah bunda ataupun menelpon bunda,apalagi semenjak Nayla tinggal di sana."
"Lalu sekarang kita bisa apa? Kita kan cuma anak kecil,biarkan saja mama sama bunda melakukan aksinya,aku juga tidak peduli!" ucap Tina mengangkat kedua bahunya,dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti. "Kalau aku sih masa bodoh aja kak,papa juga tidak pernah baik selama ini sama Nayla," ujar Tina geram.
"Kamu memang gadis aneh,sulit di tebak tadi memperlihatkan wajah sok khawatir,sekarang malah bilang tidak peduli." David hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu,bingung dengan sikap adiknya.
"Ya begini,tadi itu aku cuma kaget aja,bunda sama mama bisa tahu begitu cepat tentang perselingkuhan papa,tapi ini bisa menjadi kabar yang baik juga buat kita karena dengan begitu papa bisa sedikit mendapat pelajaran dari perbuatannya."
"Maksud kamu?" tanya David semakin tidak mengerti dengan perkataan Tina.
"Papa akan sadar dengan perbuatannya yang kejam itu,sudah menganiaya anaknya dan kemudian mengkhianati kedua istrinya,biarkan saja hubungan papa dan mama tidak baik,mungkin ini akan menjadi pelajaran yang berharga buat mama dan papa. Mama yang dikhianati dan papa yang akan di tinggalkan oleh mama." Ucap Tina gadis itu terlihat sangat bersemangat saat mengatakannya,seolah-olah senang dengan apa yang akan terjadi.
\*\*\*\*
__ADS_1
Pak Arman sangat terkejut begitu melihat bu Amel dan Sinta datang berdua ke kantornya,wajahnya jadi tegang melihat hal itu Sinta hanya tersenyum miring sambil berkata. "Mas kenapa tegang begitu,aku dan mbak Amel ke sini hanya ingin membawa Rio ketemu sama kamu,sepertinya dia sudah sangat rindu sama papanya." Ucap Sinta,dia menurunkan Rio dari gendongannya dan kemudian Rio pun segera berjalan ke arah pak Arman.
"Semalam Sinta tidur di rumah,papa kenapa nggak pulang?" giliran bu Amel yang bertanya.
"Papa ketiduran di kantor ma,papa juga nggak sempat ngabarin lagi,papa minta maaf," ucap pak Arman kali ini lelaki itu tidak bohong.
"Pa-pa... pa-pa seling-kuh!" celetuk Rio,meski dia belum pandai berbicara,tapi kata yang di ucapkannya tadi terdengar sangat fasih,mereka bahkan tidak menyangka Rio bisa mengatakan hal semacam itu,dan anehnya dari mana Rio mendengar kata-kata demikian?
"Kamu bilang apa nak?" pak Arman melotot ke arah Rio,dia tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Sinta dan bu Amel hanya bisa menahan senyum mereka melihat wajah pak Arman yang memerah,mereka juga sama kagetnya mendengar ucapan Rio tadi.
"Mas sudah lama tidak mengunjungi aku di rumah,kapan mas akan ke sana?" kini Sinta memulai misinya.
"Lama bagaimana Sin,bukankah 4 hari yang lalu mas Arman datang ke rumah kamu?" tanya wanita itu berpura-pura kaget.
Lelaki itu semakin terpojokkan saat ini,dia sedang mencari jalan keluar agar bisa selamat dari kecurigaan kedua istrinya.
"Papa,apa papa benar-benar selingkuh? Bau parfum itu dan wanita yang bicara dengan papa di telpon itu juga bukan Sinta iya,kan?" tanya bu Amel kesal,wanita itu masih harus menahan emosinya karena di situ ada Rio.
"Tunggu,jangan salah paham dulu,papa bisa jelasin semua ini." Ucap pak Arman,tapi sia-sia saja mereka sudah tidak mau lagi mendengarkannya.
Sinta mengulurkan tangannya dan mengambil Rio dari pangkuan lelaki itu,dia segera mengajak bu Amel keluar,mereka tidak ingin mendengar lagi omong kosong suaminya.
"Kita selesaikan ini di rumah!" bu Amel mengingatkan sebelum dia dan Sinta keluar dari ruangan suaminya.
Pak Arman bungkam,tidak bisa berkata apa-apa,kedua istrinya itu bukanlah orang bodoh sulit untuk menipu mereka,apalagi kalau keadaannya sudah kacau seperti ini,mungkin saatnya bagi dia untuk mengakui semuanya dan dia juga harus berjanji dengan kedua istrinya untuk tidak mengkhianati mereka lagi.
__ADS_1
\*\*\*
DI RUMAH ALIF
"Papa sudah tahu wanita yang selama ini bersama pak Arman mi." Ucap pak Jufri memberitahu istrinya.
"Siapa bi?"
"Itu pemilik toko kue yang ada di samping sekolahnya Alif," yang di jawab Alif,anak lelaki itu ikut bergabung dengan kedua orang tuanya yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga.
Mereka tercengang melihat kedatangan Alif yang tiba-tiba itu,apalagi dia juga mengetahui tentang wanita simpanannya pak Arman.
"Alif,kamu ngomong apa barusan,tahu dari mana kamu soal ini?" tanya umi Fitri.
"Sudah beberapa kali mi,Alif tengok pas pulang sekolah dan sepertinya pak Arman tidak tahu kalau Nayla sekolah di sana,kalau beliau tahu Alif yakin pak Arman tidak akan berani bersikap begitu mesranya dengan bu Prilly," tutur Alif dengan gaya polosnya,pak Jufri heran dengan anaknya yang satu itu,bagaimana bisa dia mengetahui kalau itu selingkuhan pak Arman.
"Bagaimana kamu tahu kalau itu selingkuhan pak Arman?" tanya abinya.
"Apa lagi coba kalau bukan selingkuhan,memang ada teman sedekat itu?" Alif balik bertanya,perkataannya sudah seperti orang dewasa.
"Kamu tidak mengatakannya pada Nayla kan?" bu Fitri mulai terlihat khawatir.
"Tentu saja tidak umi,Alif juga tidak mungkin mengatakannya pada Nayla,biarkan saja dia tahu sendiri kelakuan papanya itu." Ucap Alif santai.
"Pak Arman memang benar-benar sudah keterlaluan,dia sudah memiliki semuanya,istri-istri yang cantik,harta berlimpah,rumah mewah,anak-anak yang manis kurang apa lagi coba?" ucap pak Jufri sambil menggelengkan kepalanya mengingat sifat serakah lelaki itu.
\*\*\*\*\*
__ADS_1