Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Di pukul Lagi


__ADS_3

Pak Arman mencari kunci cadangan karena tidak berhasil mendobrak pintu kamar Nayla,setelah kunci berhasil di dapat pintu pun segera di buka.


"Kamu di mana Nayla?" pak Arman sangat marah,bahkan matanya sudah memerah,tidak perlu di pertanyakan lagi bagaimana perasaan Nayla,dia hanya berharap saat itu mamanya datang dan mencegah papanya agar tidak memukulinya lagi.


"Kamu jangan main petak umpet,cepat keluar!" suruh pak Arman sambil mengecek di kamar mandi,tapi Nayla tidak ada,di lemari pun dia tidak ada.


"Kamu pasti di bawah sini kan?" pak Arman tersenyum,senyumnya bahkan terlihat sangat menakutkan. Lelaki itu langsung menarik kaki Nayla keluar dari bawah tempat tidur.



Nayla menjerit memanggil mamanya,anak itu takut,pukulan beberapa waktu yang lalu sudah meninggalkan trauma untuknya,dan sekarang dia akan di pukul lagi,mungkin kali ini dia tidak akan kuat menahannya,tidak bisa di bayangkan anak sekecil itu di siksa dengan begitu kejamnya.



"Pa,maafkan Nayla pa. Nayla cuma mau cari uang sendiri,Nayla janji tidak akan bilang ke siapa pun kalau Nayla anak papa." Nayla terus memohon.


"Bohong! Kamu tidak bisa di percaya,kamu memang berniat membuat saya malu. Bagaimana kalau ada yang tahu kamu tinggal di sini,lalu ada orang yang mencaritahu kamu anak siapa,apa kamu tidak mikir,hah?" pak Arman memukul Nayla dengan tangannya dan menarik rambutnya dengan kasar hingga kepalanya terantuk dengan sisi tempat tidur,tidak hanya itu pak Arman bahkan menendang anaknya,hingga setelah Nayla terlihat benar-benar lemas tidak sanggup bergerak lagi,baru di lepaskan dan lelaki itu pergi begitu saja dengan menutup kasar pintu kamar sang anak.


\_\_\_\_\_

__ADS_1


"Pa, papa mau kemana?" tanya bu Amel.


"Aku mau keluar sebentar cari udara segar!" jawab lelaki itu penuh emosi.


"Kenapa mama tidak membantu Nayla saat di pukul papa tadi?" tanya david. Anak itu sekarang sepertinya sudah memiliki sedikit rasa sayang sama adiknya.


"Iya,kenapa mama nggak bantuin Nayla.?" Tina ikut bertanya.


Dan hal ini membuat bu amel kesal. "Kenapa bukan kalian saja yang datang untuk membantu dia tadi? Emang kalian juga mau dipukuli seperti Nayla sama papa?" tanya wanita itu. David dan Tina hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka mendengar pertanyaan mamanya.


\*\*\*\*\*\*\*




Air mata terus mengalir di pipinya,dia menyeret tubuhnya sendiri menuju ranjang,dalam hatinya dia berharap kakak-kakaknya akan datang,Nayla sudah tidak lagi mengharap pada mamanya,karena Nayla tahu mamanya sama sekali tidak peduli.


Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu,Nayla berpikir bahwa dia akan di sayang oleh keluarganya,ternyata semua hanyalah bayangannya saja,karena pada kenyataannya tidak ada satupun yang menyayanginya.

__ADS_1


Nayla mengambil nasi yang tadi di belinya,dia membuka bungkusan nasi itu dan memakannya,mengunyah makanan saja harus pelan-pelan,ternyata pukulan tadi membuat anak itu kesusahan saat makan,Nayla hanya memakannya sedikit dia kembali membungkus nasi itu dan di simpan untuk makan malamnya nanti.


"Nenek,Nayla rindu sama nenek." Lirih Nayla sambil menangis,dia selalu merindukan neneknya yang penuh kasih sayang itu,nenek yang merawatnya dari bayi yang seharusnya saat itu mamanyalah yang merawat dia,tapi karena mama tidak menginginkannya maka dia di rawat oleh neneknya. Nayla kemudian kembali terbayang malam di mana dia meminta untuk di belikan daging oleh neneknya.


"Nek,Nayla sangat ingin memakan daging. Bagaimana rasanya,ya.?"



"Rasanya sudah pasti enak." Jawab nek Ijah.


"Ayo kita beli!" ajak Nayla,namun dengan sedih neneknya menjawab. "kita sedang tidak punya uang nak,kalau nanti nenek punya uang pasti nenek belikan."


"Iya tidak apa-apa,yang penting sehari-harinya kita bisa makan,itu juga Nayla sudah sangat bersyukur." Jawab Nayla cepat,agar neneknya tidak bersedih. Dia kemudian pergi dan duduk di luar,malam itu adalah malam lebaran,biasanya orang-orang di kampung itu akan menyalakan petasan,jadi Nayla keluar untuk melihatnya. Di saat itu lah tercium bau masakan dari rumah tetangga,baunya enak sekali hingga membuat Nayla ingin merasakannya.


"Mereka pasti sedang memasak daging sapi," batin Nayla sambil memegang perutnya. Setiap lebaran Nayla selalu berharap ada tetangga yang datang dan memberi mereka sedikit daging yang sudah di masak,tapi tidak ada yang datang,setiap hari Nayla hanya bisa mencium aroma masakan dari rumah tetangga tanpa bisa merasakannya. terkadang dia dan neneknya harus berbuka puasa dengan air putih saja,meskipun begitu,Nayla sangat bahagia hidup dengan neneknya,dia merasa aman meski serba kekurangan,tidak mengapa di kucilkan oleh tetangganya,karena dia tahu dalam pandangan Allah derajat manusia sama,hanya iman dan taqwa yang membedakan. Nenek mengajarkannya begitu banyak tentang agama, hal itulah yang membuat dia bahagia hidup dengan neneknya.



Nayla terus membayangkan hari-hari yang dilewati bersama sang nenek,tanpa sadar dia tertidur begitu saja di atas lantai,mungkin karena tubuhnya yang juga sudah terlalu lemah hingga membuat dia langsung tertidur. Gadis kecil yang malang,dia harus menghadapi kejamnya dunia,kenapa tidak meninggalkannya saja di panti asuhan kalau memang sudah tidak di inginkan,dari pada di siksa terus menerus seperti itu,mereka sama saja dengan membunuhnya secara perlahan-lahan.

__ADS_1



\_\_\_\_\_


__ADS_2