Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Kecurigaan


__ADS_3

"Kok pada bengong? Katanya mau makan," tegur Sinta yang membuat ketiga anak itu tersadar dari lamunan mereka.


"Ya sudah,ayo kita masuk aku sudah lapar!" ucap Tina mereka segera masuk ke restoran itu.


"Pa-pa,mama papa..." ucap Rio yang saat itu berdiri di samping Sinta dan dia menunjuk-nunjuk ke arah seorang lelaki.


David dan kedua adiknya jadi tegang seketika,mereka harus melakukan sesuatu.


"Papa? Mana ada papa ditempat ini," ujar Sinta sambil menoleh ke arah yang ditunjukkan Rio,beruntungnya saat itu ada sekelompok remaja yang berdiri di depan papa mereka,jadinya Sinta tidak bisa melihat pak Arman dan selingkuhannya.


"Ah,itu pasti karena Rio kangen sama papa." Ucap Nayla.


"Iya,kak Nayla benar. Kamu pasti kangen sama papa ya,nanti malam kita ke rumah papa ya?" Sinta mencoba meyakinkan Rio kalau suaminya memang tidak ada di sana.


\*\*\*\*\*


Sinta mengantarkan Nayla dulu ke rumah dan setelah itu dia baru membawa David dan tina pulang.


"Kamu sendirian dulu di rumah nggak apa kan sayang,bunda mau nganterin kak David sama kak Tina dulu." Ucap Sinta,saat Nayla sudah turun dari mobil.


"Iya,nggak apa-apa,tapi pulangnya jangan kemalaman ya?"


"Iya,kamu nggak perlu takut,setelah Rio ketemu sama papanya bunda langsung pulang,nanti bunda suruh kak Ayu buat nemenin kamu di rumah oke!"


"Oke!" jawab Nayla tersenyum.


"Kita pulang dulu ya,Nay!" pamit Tina dan di ikuti oleh David. Mobil itu kemudian kembali melaju dan Nayla melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka sampai mobil itu sudah tidak terlihat lagi.


\*\*\*\*\*

__ADS_1


Ayu melihat wajah Nayla yang tampak gelisah,gadis itu tidak bisa menahan rasa penasarannya,akhirnya dia pun bertanya pada Nayla apa yang membuat anak kecil itu tidak tenang dari tadi.


"Kamu kenapa Nay? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Ayu.


Nayla hanya menggeleng tanpa melepaskan pandangannya dari siaran tv yang tengah ditontonnya.


"Ya sudah kalau tidak mau cerita." Ucap Ayu,dia tidak memaksa meski dirinya sangat ingin mengetahui apa yang sedang dipikirkan Nayla.


"Nayla kepikiran bunda kak,pasti malam ini bunda tidak akan pulang." Ujar Nayla mulai mengeluarkan isi hatinya.


"Kenapa memang kalau bunda tidak pulang? Biarkan saja lagian kakak kan ada,terus ada ibu lagi di sini,kamu juga tidak akan sendirian kan." Ucap Ayu menghibur Nayla.


"Lihat,ibu bawain pisang goreng buat kalian!" seru bu Lastri,wanita itu membawa piring ditangannya yang berisikan pisang goreng untuk mereka,kemudian menaruhnya di atas meja.


Ayu yang melihat kepulan asap dari pisang goreng buatan ibunya merasa tergugah seleranya untuk langsung memakannya.


"Wah enak nih,masih anget lagi," ucap Ayu sambil mengambil satu pisang goreng dan langsung dilahapnya,tidak peduli dengan tatapan aneh kedua orang di depannya.


Wanita itu segera mengalihkan perhatiannya ke wajah Nayla.


"Nayla kenapa,kok wajahnya murung gitu?" tanya bu Lastri penasaran.


"Menurut ibu sama kak Ayu,apa Nayla ini merepotkan orang lain?" pertanyaan aneh Nayla itu membuat kedua orang di depannya heran.


"Siapa bilang kamu ngerepotin,malah kakak sama ibu senang kamu bisa tinggal di sini sama bunda Sinta dari pada di rumah kamu sendiri," ucap Ayu kesal,dia memang tidak kenal dengan kedua orang tua Nayla,tapi begitu mendengar cerita dari Sinta beberapa hari yang lalu dia jadi merasa sangat membenci kedua orang tua Nayla,yang memperlakukannya dengan buruk.


"Ayu,omongan kamu dijaga sedikit napa? Kamu buat Nayla sedih aja," tegur bu Lastri sambil mencubit lengan Ayu sedikit kuat.


"Auw... Sakit tahu!" Ayu memonyongkan mulutnya,dia sekarang jadi cemberut karena dicubit sama ibunya,padahal dia rasa ucapannya itu tidak ada yang salah.

__ADS_1


"Kak Ayu benar bu,dari pada tinggal di rumah bersama mama dan papa,Nayla memang lebih nyaman tinggal bersama bunda di sini,tapi bagaimanapun orang seperti Nayla hanya bisa hidup dengan belas kasih orang lain." Tutur gadis itu yang membuat hati mereka hancur saat mendengarnya.


"Nayla,kamu harus percaya suatu saat nanti mama sama papa kamu pasti akan sayang sama kamu." Bu Lastri mencoba untuk menghibur,namun Nayla menggeleng lemah dan berkata. "Nayla tidak yakin hari itu akan datang bu,mungkin bisa saja terjadi tapi itu saat Nayla sudah tidak ada lagi di dunia ini," ucapnya seraya memandang mereka dengan mata berkaca-kaca.


Ayu yang tidak ingin suasana menjadi sedih,jadi dia segera mengganti topik pembicaraan.


"Kalau bunda tidak pulang malam ini,kak Ayu dan ibu bakalan tidur di sini,kamu nggak keberatan kan?" tanya Ayu memastikan.


"Nggak,malah Nayla sangat senang,jadi aku nggak perlu takut lagi sekarang," jawab Nayla tersenyum senang,perlahan-lahan kesedihan di wajahnya hilang. Nayla sangat bersyukur karena sekarang hidupnya di kelilingi oleh orang-orang yang baik seperti mereka,walaupun dia tidak bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya,tidak mendapatkannya sekarang mungkin nanti,tapi tidak tahu juga,bisa jadi dia tidak akan pernah bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya sampai kapan pun.


\*\*\*\*


"Sinta kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya bu Amel,menatap Sinta dengan tatapan tidak percaya,bukan tidak percaya tapi dia tidak ingin percaya,takut dengan kenyataan yang ada di depannya.


"Nggak mbak,aku serius." Sinta meyakinkan,mereka bisa ngobrol dengan tenang saat itu karena Rio sedang bermain bersama David dan Tina. "Tapi kenapa mbak terlihat sangat gelisah? Apa ada sesuatu tentang mas Arman yang mbak sembunyikan dari aku?" tanya Sinta,dia menatap Amel dengan perasaan curiga.


Bu Amel yang sudah tidak sanggup menyimpannya sendiri,akhirnya mengungkapkan hal itu pada Sinta.


"Beberapa hari yang lalu saat mas Arman pulang kerja mbak mencium bau parfum wanita di kemejanya mas Arman,tapi pas mbak nanya,katanya itu bau parfum kamu karena dia baru pulang dari rumah kamu." Tutur bu Amel bercerita,Sinta tercengang mendengarnya.


"Maksud mbak,mas Arman punya wanita lain,simpanan gitu?"


"Mungkin." Jawab bu Amel singkat di iringi dengan tawanya.


"Kok mbak malah ketawa?" Sinta merasa aneh dengan sikap wanita di depannya yang seperti orang gila,tadi bu Amel tertawa dan sekarang wajahnya terlihat sedih.


"Aku hanya sedang memikirkan tentang kenyataan buruk ini Sin,kita bisa saja sudah di khianati oleh mas Arman," ujar bu Amel dengan ekspresi datarnya.


"Kita jangan berpikiran negatif dulu mbak,kan kita juga tidak punya bukti,tidak tahu apa yang kita pikirkan ini benar atau tidak,"ujar Sinta. Namun bu Amel tetap yakin kalau pak Arman memang selingkuh.

__ADS_1


"Kemarin mbak juga dengar kalau mas Arman bicara dengan seseorang di telefon pakek sayang-sayang lagi,terus waktu mbak nanya itu siapa,mas Arman jawab itu kamu." Ucap bu Amel kembali bercerita.


Mendengar perkataan Amel,Sinta sekarang mulai percaya kalau suaminya itu memang punya wanita lain,karena pak Arman memang tidak pernah menelpon dia sama sekali semenjak Nayla tinggal di rumahnya.


__ADS_2