
Pagi harinya,Tina dan Nayla sangat terkejut saat anak buahnya pak Bondan membangunkan mereka dengan kasarnya.
"Ayo cepat keluar!" bentak lelaki bertubuh gemuk,salah satu dari anak buahnya pak bondan.
"Hei gendut,siapa suruh kau memperlakukan mereka dengan kasar seperti itu,kau tidak dengar apa,bos menyuruh kita untuk menjaga mereka dengan baik,jangan sampai lecet sedikitpun,mereka itu tambang emasnya si bos," temannya memperingatkan.
Tina buru-buru mengambil tasnya,dan dia segera di bawa oleh dua orang itu. Nayla sebelum keluar dari sana dia memberikan boneka pandanya kepada Alin,dia tersenyum dan berbisik. "Kita pasti akan menepatinya." Ucap Nayla sambil memberikan boneka itu kepada Alin, "Jaga baik-baik ya kak,boneka kesayangan Nayla!" lanjutnya lagi untuk yang terakhir kali.
"Iya,kakak pasti akan menjaganya dengan baik," jawab Alin dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian hati-hati ya!" tambah Yuna.
"Sudah,buruan! Kebanyakan dramanya ni anak," ucap lelaki gendut tadi,dia langsung menyeret Tina dan Nayla keluar dari ruangan itu,dan mereka kemudian dimasukkan ke dalam mobil van milik pak Bondan,mobil yang juga digunakan untuk menculik mereka.
Nayla melihat ke sekeliling jalan yang mereka lalui,ternyata benar seperti Alin dan Yuna katakan tempat mereka disekap memang jauh dari pemukiman penduduk. Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah gedung yang terlihat kumuh,sepertinya itu adalah tempat pak Bondan akan bertemu dengan papa mereka.
"Kak,itu mobilnya papa!" tunjuk Nayla. Tina segera melihat ke arah yang di tunjuk adiknya,benar saja mobil papanya sudah terparkir
di sana.
\*\*\*\*
Pak Arman sangat senang begitu melihat keadaan Tina baik-baik saja.
"Kemarikan uangnya!" suruh pak Bondan.
"Kembalikan dulu anak-anak saya!" pak Arman berkata tegas.
"Saya harus memastikan dulu uang itu asli atau bukan!" pak Bondan semakin tidak sabaran.
Mendengar ucapan lelaki itu pak Arman tersenyum sinis. "Kamu meragukan uang yang saya bawa? Kamu ini tidak tahu ya,uang segini masih terlalu sedikit untuk saya,jadi saya tidak mungkin menggunakan uang palsu." Ucapnya penuh kesombongan.
__ADS_1
Pak Bondan yang sudah tidak sabaran ingin mengambil uangnya,langsung saja menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Nayla dan Tina,kedua anak itu berjalan dengan tenang menuju papa mereka,Tina senang sekarang berbeda dengan Nayla,perasaannya menjadi tak tentu dia merasa ada sesuatu yang aneh,apalagi saat melihat senyum yang terukir dibibir papanya.
"Itu uang yang kalian minta! Mulai sekarang kita tidak ada urusan apa-apa lagi,jadi jangan mengganggu keluarga saya,kalau kalian tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk dengan pekerjaan kalian itu!" ancam pak Arman.
"Bagaimana yuda? Uangnya asli tidak?" tanya pak Bondan,lelaki itu tidak mau ditipu oleh mereka.
"Asli bos!" jawab Yuda dan dia kembali menutup tas berisi uang ratusan miliar yang dibawa pak Arman.
\*\*\*\*
Ternyata masalah belum usai,setelah keluar dari gedung itu,tak lama setelahnya pak Bondan kembali mengejar mereka. Pak Arman membuat masalah baru dengan memasukkan uang palsu ke dalam uang tebusan tersebut.
Pak Arman semakin melajukan mobilnya,membuat Tina dan Nayla gemetaran di dalamnya mereka ketakutan setengah mati.
"Papa,kita sudah jauh dari mereka,lagian papa ngapain takut mereka juga nggak akan ngejar kita kok,kan uangnya sudah kita kasih untuk mereka." Tutur Tina,dia merasa aneh dengan papanya yang membawa mobil begitu kencangnya kayak orang kesetanan aja,saat itu dia belum tahu apa yang sudah di lakukan oleh papanya.
"Tapi kak,di belakang ada mobil van miliknya pak Bondan,sepertinya mereka mengejar kita deh," ucap Nayla memberitahu,sambil terus mengamati mobil van yang makin mendekat ke arah mereka.
Pak Arman semakin menambah kecepatan mobilnya,tidak menghiraukan ucapan Tina.
"Apa papa menukar uang itu dengan uang palsu?" Nayla bertanya.
"Diam kamu!" teriak pak Arman marah.
"Ini semua juga gara-gara kamu,kalau kamu tidak kabur-kaburan malam itu,Tina juga nggak bakalan diculik,dasar pembawa sial!" umpat pak Arman emosi.
Perkataannya membuat Nayla terdiam. Nayla juga tahu semua itu disebabkan oleh dirinya,jadi dia hanya bisa menerima ujaran kebencian yang terlontar dari mulut papanya. Tina memegang erat tangan adiknya,dia sendiri tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini,mereka sekarang benar-benar dalam masalah,bahaya besar sedang menghadang di depan mereka.
"Woi berhenti...!" teriak anak buah pak Bondan,syukurnya mereka nggak bawa pistol.
Pak Arman semakin menambah kecepatan mobilnya,jalan yang mereka lalui bahkan tidak ada satupun orang yang lewat,sangat sepi disisi kiri ada jurang,bagaimanapun dalam keadaan terjepit seperti ini pak Arman masih tetap harus berhati-hati membawa mobilnya.
__ADS_1
"Tin,jangan lupa sabuk pengamannya,papa akan menambah kecepatan mobilnya." Pak Arman mengingatkan,namun naas mobil yang di kendarai anak buahnya pak Bondan sudah menyerempet mobil mereka. Karena tidak fokus membuat pak Arman memutar setir mobilnya ke samping,hingga akhirnya mobil mereka jatuh terperosok ke dalam jurang.
"Papa hati-hati!" teriak Tina penuh ketakutan.
Mobil yang dikendarai mereka terus terjun masuk ke jurang. Kecelakaan itu pun terjadi,dan semuanya berawal dari ulah pak Arman sendiri.
\*\*\*\*
Dalam jurang yang dalam,entah berapa jam telah terlewat,saat itu Nayla tersadar dari pingsannya,dia melihat keadaan Tina yang dipenuhi dengan darah,kaca mobil pecah dan papanya juga terlihat masih setengah sadar.
mobil mereka posisinya sudah terbalik sangat susah untuk keluar.
"Akkhh..." pak Arman mengerang menahan rasa sakit ditubuhnya. Nayla mencoba membantu kakaknya keluar dari mobil itu.
"Tina... Tina maafkan papa nak!" ucap lelaki itu menangis melihat keadaan Tina yang sudah dipenuhi darah,sepertinya dia terluka cukup parah.
"Papa,ayo kita keluarkan kak Tina dari sini!" ajak Nayla,dia masih mencoba terlihat kuat meski sebenarnya tubuhnya juga sakit,kakinya bahkan sebelah lagi terjepit. Pak Arman yang melihat ada percikan api di sekitar mobilnya langsung berusaha untuk keluar dari sana,dia juga membantu Tina untuk keluar,saat itu Tina sudah tidak sadarkan diri.
"Tina...! Tina,bangun sayang!" pak Arman menepuk-nepuk halus pipi anaknya,berharap Tina segera sadar,dia bahkan melupakan Nayla yang masih berada dalam mobil.
"Ya Allah bagaimana ini,kaki Nayla nggak bisa dilepasin,kaki Nayla terjepit." Nayla menangis,dia terus memanggil papanya. Kaca jendela mobilnya juga tidak bisa dibuka,dia mencoba keluar melalui pintu depan mobil, karena hanya pintu itu yang terbuka,tapi tetap saja tidak bisa karena sebelah kakinya terjepit dan yang bisa membantunya hanya papa,tapi pak Arman bahkan tidak menghiraukannya,lelaki itu terlalu khawatir dengan keadaan putri pertamanya hingga teriakan Nayla sama sekali tidak terdengar olehnya.
"Papa...!" panggil Nayla,dia menjerit ketakutan,karena api yang semakin meluas dan sebentar lagi mobil itu juga akan meledak. "Papa,kaki Nayla terjepit pa! Papa tolong nayla!" teriak Nayla,dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa keluar dari mobil itu.
"Nay-Nayla di mana,pa?" Tina mulai membuka matanya,dia teringat akan adiknya,saat itu pak Arman baru sadar kalau dia tidak membawa Nayla keluar dari mobil itu. Namun,saat pak Arman hendak kembali ke mobilnya,mobil itu meledak.
Boom...! terdengar suara ledakan yang begitu besar,pak Arman terlambat,dia tidak bisa menyelamatkan Nayla.
Nayla yang masih berada dalam mobil dengan tangis pilunya,anak itu hanya bisa merasakan tubuhnya yang panas dilalap api🔥. Dia menatap papanya dengan tatapan mata yang menyimpan rasa rindu yang mendalam,Nayla sadar ini hari terakhir dia melihat dunia,hanya sampai di sini kehidupannya,dia akan pergi.
Nayla masih sadarkan diri belum sepenuhnya mati rasa,hingga Tuhan memanggilnya untuk segera kembali,dia pergi dalam keadaan hati sedih,rasa sepi karena di sisihkan oleh kedua orang tuanya,bahkan disaat terakhirnya dia juga tidak bisa mendapatkan pelukan dari orang tuanya,hanya kata-kata kebencian yang selalu di dengarnya. Tumbuh dalam luka,mencoba menghibur diri sendiri saat sedih,tak pernah mengeluh dengan semua cobaan yang Tuhan berikan,dia adalah gadis kecil berhati mulia,mereka yang telah menyia-nyiakan dirinya akan merasakan rasa sesal yang amat dalam.
__ADS_1
"Papa kenapa tidak menyelamatkan Nayla.?" Tina menangis pilu dan setelah itu dia tidak sadarkan diri lagi.
∆∆∆∆