Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Tentang Nayla


__ADS_3

"Di luar langit terlihat mendung, sepertinya hujan akan turun." Ucap Tina sambil terus menatap keluar jendela kamarnya.


"Papa menyuruh kita untuk mengajak Nayla pulang."


"Memangnya papa sudah tahu dia di mana?" tanya Tina,dia masih berdiri di depan jendela kamarnya,tidak melihat ke arah David sama sekali.


"Sudah,papa bilang kemungkinan besar Nayla semalam tidur di rumah Alif dan hari ini kan hari libur kita juga nggak ada kerjaan,mending jemput Nayla sekarang yuk!" ajak David. Tina kemudian duduk di samping kakaknya dan berkata "Kalau nanti uminya Alif nanya kita ini siapanya Nayla,kita mau jawab apa coba?" David kebingungan mendengar perkataan Tina,adiknya itu ada benarnya juga,nanti mereka mau jawab apa?


"Aha...!" seru David,sepertinya dia ingat sesuatu.


"Bukankah Nayla bilang kalau dia anak pembantu di rumah kita? Nah,kita jawab saja seperti apa yang Nayla katakan itu,dengan begitu uminya Alif tidak akan curiga." Tutur David senang karena sudah menemukan jawaban yang pas.


"Oke,kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!" ucap Tina,di ikuti dengan anggukan kepala oleh David.


\*\*\*\*\*\*\*\*


"Saya sudah mendapat informasi tentang bu Amel pak,ini berkasnya!" Hendra memberikan map yang berisi data tentang bu Amel.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya pak Jufri beliau sangat kagum dengan cara dia bekerja,apa saja yang disuruh begitu cepat di selesaikannya.


"Dari Noli," jawabnya singkat.


"Bagus,nanti siang kita akan ke kampung ini kamu temani saya ya!"


"Baik pak," sambil menganggukkan kepalanya.


Sedangkan di tempat lain di waktu yang sama Tina dan David sedang berada di rumah Alif,umi tidak mengizinkan mereka pulang dulu,karena saat itu umi Fitri sedang mengajarkan Nayla dan Alif tentang arti sebuah kasih sayang,jadi bu Fitri juga menyuruh David dan Tina untuk mendengarkannya,dengan senang hati kedua anak itu duduk untuk ikut mendengarkan.


"Dalam sebuah keluarga kasih sayang dan perhatian itu sangat dibutuhkan,coba kalian bayangkan bagaimana hidup kita jika tanpa kasih dan sayang?" ucap bu Fitri,beliau melihat satu persatu wajah anak-anak di depannya.


"Tentu saja tidak enak umi,apalagi kalau kita memiliki orang tua yang tidak pernah menyayangi kita,tentunya kita akan merasa seperti hidup sebatang kara,dan itu pasti sangat menyedihkan." Jawab Alif.


Tina dan David hanya diam saja,ucapan umi tadi seperti sedang menyindir mereka,namun mereka mengakui apa yang dikatakan umi memang benar.


"Tapi Nayla sangat beruntung kan,memiliki orang-orang yang sangat menyayangi Nayla,seperti keluarga pak Arman." Ucap bu Fitri,beliau sengaja mengatakan hal itu entah apa maksudnya.

__ADS_1


"Ya umi,Nayla memang sangat beruntung,kak Tina dan kak David juga sangat menyayangi Nayla," jawab Nayla,saat itu kebahagiaan terpancar di wajahnya dan umi Fitri yakin kali ini Nayla tidak sedang bersandiwara.


"Baguslah kalau begitu umi senang mendengarnya," ucap bu Fitri tersenyum. "Dan Nayla juga jangan lupa untuk terus berdoa pada Allah,agar kedua orang tua Nayla bahagia di alam sana," tambah beliau lagi.


Krekkk!! David dan Tina tidak bisa menyembunyikan kekagetannya,dua bola mata mereka seolah ingin meloncat keluar dari tempatnya karena tidak menyangka rupanya Nayla mengaku kepada umi kalau kedua orang tuanya sudah meninggal. Umi sendiri tahu David dan Tina terkejut mendengar perkataannya tadi,sekarang dirinya yakin bahwa Nayla pasti punya hubungan darah dengan mereka.


"Kalian berdua kenapa?" tanya umi.


"Tidak kenapa-kenapa umi." Jawab Tina diikuti dengan senyumannya biar tidak terlihat terlalu gugup.


"David Tina,Nayla kan sekarang tinggal di rumah kalian,jadi umi berharap kalian bisa menjaga dia dengan baik,meski pun kalian tidak punya hubungan darah sama sekali," pesan bu Fitri.


"Iya umi,kita pasti bakalan jaga Nayla dengan baik," jawab David meyakinkan.


"Nah,berhubung sebentar lagi waktunya makan siang,kalian makan siang di sini ya!" ajak umi Fitri.


"Nggak usah umi nanti ngerepotin," jawab Tina lembut.


"Kalian sudah lama lho bertetangga sama umi,tapi tidak pernah sekalipun bertamu ke sini,jadi sekali-kali nggak apa-apa dong,Nayla juga tidak keberatan kan?" tanya bu Fitri,Nayla menjawabnya dengan anggukan kepala saja. Sebenarnya dia bahkan sudah tidak ingin pulang ke rumahnya itu,coba saja bu Fitri mau mengadopsi Nayla dan menjadikannya sebagai anak angkat pasti deh hidup Nayla akan lebih bahagia lagi.


"Apa benar Hen,ini rumahnya?" tanya pak Jufri,beliau tidak yakin akan apa yang di lihat di depannya,rumah seperti gubuk itu mana mungkin itu rumahnya keluarga bu Amel.


"Memang benar ini rumahnya,bapak kan dengar sendiri tadi apa yang dikatakan oleh pemilik warung kopi itu,kalau di kampung ini hanya rumahnya Nayla yang paling jelek,nah ini rumahnya!" Hendra mengulang kembali apa yang dikatakan oleh si pemilik warung.


"Aneh," gumam pak Jufri penuh tanda tanya.


"Nah itu ada ibu-ibu!" ucap Hendra,dia kemudian segera memanggil ibu-ibu itu untuk bertanya.


"Permisi bu,maaaf mengganggu waktunya,ini saya mau nanya,benar tidak kalau itu rumahnya nek Ijah?"


"Oh ya mas,itu memang benar rumahnya nek Ijah,mas ini dari kota ya?" tanya wanita itu,saat melihat pakaian Hendra yang sangat rapi, tentu saja,dia kan pekerja kantoran.


"Maaf bu,boleh kami tahu tidak sedikit informasi tentang nek Ijah?" tanya Hendra,lelaki itu paling bisa diandalkan untuk mencari informasi seperti ini.


"Boleh,tapi ceritanya di rumah saya saja ya,tidak jauh dari sini cuma berselang tiga rumah lagi sudah sampai."

__ADS_1


"Wah terimakasih sekali kalau begitu bu." Hendra sangat senang,ternyata pekerjaan yang diberikan kepadanya cukup mudah diselesaikan.


Mereka pun mengikuti wanita itu dari belakang.


....


"Jadi nek Ijah itu tinggal dengan cucunya namanya Nayla," ucap wanita itu,yang tak lain adalah bu Iis.


"Masud ibu ini bagaimana sih? Lalu kedua orang tua Nayla ke mana?" tanya pak Jufri.


"Kedua orang tua Nayla tidak mau merawat anaknya,dikarenakan Nayla itu cacat dan mereka malu punya anak cacat,makanya Nayla di bawalah ke sini untuk di rawat oleh neneknya," ungkap bu Iis menjelaskan secara rinci.


"Apa orang tua dia miskin?" giliran Hendra yang bertanya.


"Miskin apanya,anaknya itu kaya bangat malah,suaminya pun pengusaha sukses,cuma ya gitu kacang lupa pada kulitnya," cibir bu Iis,tampak sekali dia tidak senang saat mengatakan tentang anaknya nek Ijah.


"Maksud ibu?" pak Jufri semakin penasaran saja dibuatnya.


"Nek Ijah itu hidupnya dulu tidak seperti itu,beliau memiliki hidup yang baik,berkecukupan dan memiliki rumah yang bagus,dan dulunya nek Ijah adalah warga kampung sebelah,cuma rumahnya itu terpaksa di jual hanya untuk membiayai kuliah anaknya di jakarta. Tidak ada satupun dari hartanya yang tersisa,tanah,rumah semuanya di jual,tapi begitu anaknya sukses tidak sekalipun tuh ngirimin duit buat orang tuanya,hingga nek Ijah harus bekerja sendiri di usianya yang sudah semakin tua," jelas bu Iis panjang lebar.


"Apa nama anaknya nek Ijah itu Amel,dan suaminya Arman?" tanya pak Jufri memastikan.


"Ya,benar sekali bapak kenal sama mereka?"


"Saya tetangganya." Jawab pak Jufri yang membuat bu Iis kaget setengah mati,wanita itu baru menyadari ternyata mereka ingin mengetahui tentang siapa sebenarnya bu Amel. "Jadi bapak datang ke sini ingin menggali informasi dari saya begitu?"


"Wah ibu jangan salah sangka dulu,jadi begini bu,menurut kabar yang beredar di komplek perumahan kami anak bu Amel itu sudah meninggal 7 tahun yang lalu," kini Hendra yang menjelaskan.


"Wah benar-benar nggak punya hati itu si Amel,anak masih hidup di bilang sudah tiada,sudah jadi anak durhaka,jadi orang tua yang tidak bertanggung jawab lagi." Ucap bu Iis geram.


"Berarti Nayla itu memang anaknya bu Amel kan?" tanya pak Jufri sekali lagi.


"Iya itu memang anak dia,setelah ibunya meninggal dia menyuruh sopir pribadinya untuk menjemput Nayla di sini," ucap bu Iis,pak Jufri tidak menyangka kalau bu Amel ternyata sekejam itu.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2