Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Mencari Cara Agar Bisa Bebas


__ADS_3

Menjelang pagi,seorang pria bertubuh kekar masuk ke ruangan tempat mereka disekap,lelaki itu membawa beberapa kantong plastik yang berisi makanan di dalamnya.


Lelaki itu tampak membagi-bagikan satu persatu makanan untuk anak-anak yang ada di sana,begitu tiba giliran Tina dan Nayla,mereka langsung menolak makanan itu.


"Kalian nggak usah takut,makanan ini tidak mengandung racun." Ucap lelaki itu dengan wajah sangarnya.


"Kita lagi puasa!" sahut Tina dengan lantangnya.


"Heh,puasa?" lelaki itu tersenyum sinis mendengar ucapan Tina. "Sebentar lagi puasa kalian juga tidak akan ada gunanya lagi,kalian belum tahu ya tempat seperti apa ini?"


"Maaf ya om,saya tidak punya waktu untuk berbicara omong kosong dengan om ini,lebih baik panggil pak Bondan sekarang juga!" suruh Tina,dia terlihat begitu berani dan terkesan memerintah.


"Ngapain saya melakukan hal itu untuk kamu? Dasar anak ingusan!" lelaki itu tidak suka dengan cara Tina menyuruhnya.


"Ada hal yang sangat penting yang harus kami bicarakan."


"Saya tidak mau!" sahut lelaki itu tegas.


Tina mengambil kalung emas yang dipakainya, dan kemudian menyodorkannya kepada lelaki itu. "Bagaimana dengan ini? Apa om masih tidak mau memanggilnya?" bujuk Tina,berharap cara itu berhasil,dan benar saja lelaki itu langsung pergi dari sana dan memanggil bosnya.


"Kamu mencoba begitu keras Tin,semoga saja usaha kamu membuahkan hasil," harap Yuna.


"Aku melakukan semua ini untuk kita semua kak,aku ingin mereka semua bisa keluar dengan selamat dari sini." Ujar Tina,dia memang sangat berharap anak-anak itu juga bisa bebas dari tempat mengerikan tersebut.


"Apa yang akan kakak lakukan dengan menyuruh om itu memanggil pak Bondan?" tanya Nayla penasaran dengan rencana Tina.


"Pokoknya ada deh,kamu lihat saja nanti." Tina menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


Tak berapa lama kemudian,pak Bondan dan dua anak buahnya datang. Lelaki itu langsung duduk di atas kursi tepat di depan Tina,menyilangkan kedua kakinya dan melihat mereka dengan tatapan meremehkan.


"Ada apa kamu menyuruh saya datang ke sini,ingin bernegosiasi dengan saya?" tanya pak Bondan memperlihatkan sikap angkuhnya.


"Jangan terlalu sombong begitu,saya tahu seperti apapun pak Bondan berusaha keras untuk mencari uang dengan cara kotor seperti ini,tetap saja miskin." Ucap Tina santai. Mendengar omongan Tina yang menghinanya seperti itu,membuat amarah pak Bondan kembali muncul.


"Kamu cuma anak kecil,berani sekali kamu menghina saya seperti itu,kamu benar-benar ingin mati!" api kemarahan terlihat berkobar-kobar di mata lelaki itu,suara pak Bondan menggema memenuhi ruangan. Nayla mulai panas dingin disamping kakaknya,begitu juga dengan Yuna dan Alin. Tina sendiri masih terlihat tenang dia tidak takut dengan gertak sambal pak Bondan.


"Apa yang aku bicarakan tadi itu benar adanya,jadi tidak perlu marah-marah."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu banyak bicara,karena saya tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini,dan adik kamu akan saya jual kepada pelanggan saya!" tegasnya dengan wajah datar.


"Berapa banyak uang yang mereka tawarkan?" tanya Tina dengan sombongnya.


"Heh!" pak bondan tersenyum sinis, "Sudah seperti ini tapi kamu masih saja berani bersikap sombong seperti itu,untuk apa kamu menanyakan hal itu? Lagi pula itu adalah harga yang sangat mahal dan kamu tidak akan sanggup menebusnya," lanjutnya lagi,pak Bondan belum tahu seberapa kaya keluarga Tina.


"Katakan saja berapa,jangan bertele-tele!" bentak Tina dia jadi kesal dengan cara lelaki itu bicara.


Pak Bondan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang,seorang anak kecil berani membentaknya seperti itu,besar sekali nyalinya.


"10 Milliar!" jawabnya kemudian. Tina terdiam mendengar harga 10 milliar,mulutnya bungkam. Pak Bondan semakin melebarkan senyumnya penuh kemenangan,karena dia pikir Tina terkejut mendengar harga semahal itu,tapi nyatanya Tina malah mengucapkan kata-kata yang meremehkannya. "Pelangganmu bahkan juga sangat miskin,menghargai adikku dengan harga yang begitu murah,kalau pak Bondan mau,saya bisa memberikan lebih dari pada itu." Ucap Tina menawarkan,Nayla terdiam melihat kakaknya,dia tidak mengerti saat itu apa yang akan dilakukan Tina. Tina memang sangat pintar.


"Berapa harga yang dapat kamu berikan?" tanya lelaki itu,sepertinya pak Bondan mulai sedikit tertarik dengan tawaran Tina.


"Berapa yang bapak mau?" Tina balik bertanya.


Pak bondan menatapnya aneh,dia mulai berpikir apa mungkin anak di depannya itu mau mempermainkannya.?


"50 milliar!" tegasnya,dia tersenyum dan berpikir Tina tidak akan sanggup,tapi lelaki itu juga masih sedikit ragu,bisa jadi Tina mampu membayarnya kerena pak bondan tahu kalau Tina berasal dari keluarga kaya,meski dia tidak tahu seberapa kaya keluarga Tina.


Tidak butuh tawaran untuk kedua kalinya pak Bondan langsung menyetujuinya,lagi pula yang lelaki itu butuhkan memang uang.


"Baik,saya setuju! Katakan berapa yang dapat kamu berikan?" tanya pak Bondan bersemangat,karena sebentar lagi dia akan memiliki uang yang begitu banyaknya.


"150 milliar!" ucapnya penuh keseriusan. Dua anak buah pak Bondan tercengang mendengar jumlah uang yang ditawarkan oleh Tina,anak kecil seperti dirinya memilki uang begitu banyaknya,sangat sulit dipercaya.


"Bos yakin dengan ucapan anak itu?" tanya anak buah disebelah kirinya.


"Kita lihat saja kedepannya apa yang akan dia lakukan,kalau dia berani mempermainkan kita maka nyawanya akan melayang." Ujar pak Bondan.


"Bagaimana? Apa pak Bondan setuju?" Tina bertanya saat melihat lelaki itu masih belum memberinya jawaban.


"Oke,saya setuju.!"


"Kalau begitu tolong telpon nomor ini untuk saya!" pinta Tina. Nah di sinilah pak Bondan mulai merasa curiga,mungkinkah Tina memang benar sedang mempermainkannya.


"Siapa yang akan kamu hubungi? Jangan bermain-main dengan saya,atau kamu akan tahu akibatnya!" ucap lelaki itu mengancam.

__ADS_1


"Ini hanya nomor hp saya,dan sekarang saya tidak tahu hp saya terjatuh dimana." Tina menjawab jujur.


"Kenapa harus nomor kamu,kenapa bukan nomor orang tuamu?" tanya pak Bondan,menurutnya keinginan Tina itu sangat aneh.


"Karena saya tidak hafal nomor hp kedua orang tua saya," jawab Tina mencoba meyakinkan lelaki itu.


\*\*\*\*


KEDIAMAN KELUARGA PRILLY.


"Prill,tadi anak buahku mengatakan kalau keluarga pak Arman sedang dalam keadaan tidak baik." Ucap Alvin pada istrinya yang saat itu sedang menyiapkan makanan untuk berbuka.


"Maksud mas?" Prilly mengernyitkan dahinya.


"Mereka dapat kabar kalau Tina dan Nayla diculik," jawab Alvin memberitahu. Prilly menghentikan kegiatannya,menatap ke arah suaminya dengan tatapan masih tidak percaya.


"Kamu tidak percaya?" tanya Alvin.


"Mas tidak sedang bercanda kan?" Prilly balik bertanya,masih tidak yakin dengan apa yang barusan didengarnya.


"Aku serius."


Dan saat mereka sedang membicarakan tentang Nayla dan Tina,tiba-tiba handphone Tina berdering,Alvin langsung mengambilnya.


"Siapa mas?" tanya Prilly.


"Aku tidak tahu,mungkin orang tuanya," jawab Alvin,tangannya mulai gemetaran.


"Cepat diangkat! Jangan sampai mereka mencurigai kita," Suruh Prilly,dia tidak mau Arman mengambil kesempatan saat itu,apalagi sekarang handphonenya Tina ada ditangan mereka.


"Hallo,ini siapa?" tanya seseorang di telpon.


"Saya Alvin,orang yang menemukan handphone ini."


"Om bisa tolong lihat nomor kedua orang tua saya tidak? Saya sedang sangat membutuhkannya." Ucap orang itu lagi,yang ternyata adalah Tina.


Prilly tersenyum saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu,dia yakin 100% kalau anak itu memang Tina. Dengan cepat Prilly mengambil handphone itu dari tangan suaminya,sepertinya wanita itu ingin memanfaatkan keadaan saat ini untuk mendapatkan bukti tentang kesalahan papanya Tina.

__ADS_1


__ADS_2