
Begitu bel tanda jam istirahat dibunyikan siswa siswi itu langsung berhamburan keluar kelas,mereka langsung pergi ke kantin sekolah untuk jajan.
Sedangkan Nayla dia masih di bangkunya. "Kamu nggak jajan Nay?" tanya Luna teman sebangku Nayla
"Em... nggak Lun,soalnya aku bawa bekal sendiri dari rumah," jawab Nayla sambil mengeluarkan bekal makan siangnya dari dalam tas.
Dira juga masih belum keluar,entah apa yang sedang direncanakan gadis itu,dia terus memperhatikan ke arah Nayla. Nayla yang ingin mencuci tangannya di kran air yang ada di depan kelas langsung saja bangun dari bangkunya. Dan saat itulah Dira dengan sengaja menendang tongkatnya Nayla hingga gadis itu kehilangan keseimbangannya dia pun terjatuh dan kepalanya menghantam kaki meja.
Nayla menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya,Luna yang kebetulan masih berada di dalam kelas,dan melihat perbuatan Dira yang sengaja menendang tongkat Nayla segera berlari untuk membantu temannya bangun.
"Dira! Apa yang kamu lakukan sudah keterlaluan tahu! Perbuatan kamu ini akan aku laporkan sama guru wali kelas!" ancam Luna.
"Laporkan saja kalau berani!" jawab Dira santai,dia tidak takut dengan ancaman Luna karena papanya adalah kepala sekolah di sana,gadis kecil itu langsung keluar meninggalkan mereka berdua.
"Ya ampun Nayla,kepala kamu memar kena kaki meja ini,bagaimana ini apa terasa sangat sakit?" Luna bertanya khawatir.
"Tidak Lun,tidak apa-apa." Nayla berbohong,padahal kepalanya sangat sakit dan dia juga merasa pusing.
\*\*\*\*
Nayla pulang bersama bu Fitri,karena Sinta tidak bisa menjemputnya sebab dia ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan di kantornya.
Begitu tiba di rumah umi langsung mengompres memar di jidatnya Nayla dengan es batu.
"Kamu kenapa nggak lapor sama gurunya sih Nay?" tanya Alif kesal,dia sudah mengomel-ngomel sepanjang perjalanan pulang.
"Iya,kamu kan bisa lapor sama guru,biar itu anak kapok dan nggak bakal jahat lagi ke kamu." Bu Fitri menambahkan.
"Aku nggak berani soalnya dia anak kepala sekolah," jawab Nayla murung.
"Aduh,pelan-pelan umi!" ucap Nayla meringis.
"Assalammualaikum...!" terdengar suara Sinta memberi salam.
"Waalaikumussalam!!!" jawab mereka serempak.
__ADS_1
Umi langsung saja mengadukan hal itu pada Sinta. "Sinta,coba lihat apa yang terjadi pada Nayla!" tunjuk bu Fitri.
Sinta langsung mendekat ke arah mereka dan duduk di sana,pandangannya kini terfokus ke keningnya Nayla.
"Ya ampun,itu kening kamu kenapa?" Sinta panik melihatnya.
Nayla cukup pengertian dia tidak ingin membuat bundanya khawatir,dia sebenarnya juga takut kalau Sinta tahu akan apa yang sebenarnya terjadi.
Sejenak melihat ke arah Alif dan uminya,tapi dua orang itu hanya diam,sepertinya mereka menunggu jawaban dari Nayla. "Nayla jatuh di kelas tadi bunda,karena tidak hati-hati jadi kaki Nayla kesandung meja deh."
"Boho---" Alif baru saja ingin mengatakan yang sebenarnya,tapi Nayla sudah duluan membekap mulutnya Alif,supaya anak itu diam.
"Ada apa ini? Coba katakan yang benar Nayla!" pinta Sinta,dia tahu jawaban yang diberikan Nayla adalah kebohongan.
"Begini Sin,tadi ada anak yang sengaja menendang tongkatnya Nayla saat dia berjalan yang membuat Nayla jatuh,hingga kepala Nayla membentur kaki meja." Ucap bu Fitri menjelaskan.
Mendengar kejadian sebenarnya dari bu Fitri membuat Sinta sangat geram."
"Baru hari pertama masuk sekolah sudah ada anak yang berani memperlakukan kamu seperti ini,apa ibunya guru di sekolah itu?" tanya Sinta.
"Dia anak kepala sekolah tante," yang dijawab Alif.
"Kamu benar Sin,anak seperti itu memang tidak bisa di diemin gitu aja,tapi jangan buat keributan ya?" bu Fitri mengingatkan.
"Iya mbak,aku tahu kok apa yang harus aku lakukan." Ucap Sinta sambil mengusap lembut kening Nayla. "Masih sakit nggak?" tanya dia kemudian.
"Sudah agak mendingan sih bun."
"Ya udah karena kamu juga sudah ada di sini,mbak sama Alif langsung pulang dulu ya!" pamit bu Fitri.
"Iya mbak,makasih sekali lagi ya sudah mau antar Nayla sampe ke rumah,maaf juga aku sudah ngerepotin mbak Fitri," ucap Sinta saat mengantarkan mereka sampai di depan pintu keluar.
"Nggak apa-apa,nggak ngerepotin juga kok,mbak langsung pulang ya!" ujar bu Fitri lagi.
"Iya hati-hati ya mbak!" seru Sinta saat itu mobil yang dikendarai bu Fitri sudah pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.
__ADS_1
\*\*\*\*
KEDIAMAN PAK ARMAN...
"Iya sayang nanti aku beliin,aku janji apapun yang kamu minta aku belikan semuanya." Ucap lelaki itu setengah berbisik dan benar saja pak Arman memang masih punya wanita simpanan lain.
"Papa lagi ngomong sama siapa?" pertanyaan bu Amel membuat pak Arman kaget,hampir saja hpnya itu jatuh.
"Lho,ma--- mama sejak kapan ada di sini?" tanya pak Arman sedikit gugup,lelaki itu takut ketahuan sama istrinya.
"Itu nggak penting,papa belum jawab pertanyaan mama. Ngomong sama siapa tadi?" tanya bu Amel masih penasaran,wanita itu masih sangat curiga terhadap suaminya.
"Ngomong sama siapa lagi kalau bukan sama Sinta,ma." Jawab pak Arman santai.
"Mama nggak percaya,coba sini mama lihat.!" Bu Amel langsung menarik handphone di tangan suaminya.
Bu Amel baru bisa bernafas lega,ternyata yang di telfon sama suaminya itu beneran Sinta. Pak Arman tersenyum senang karena kebusukannya itu tidak sampai diketahui sang istri,ya karena nomor selingkuhannya itu sengaja disimpan dengan nama Sinta. Bu Amel tidak teliti saat melihatnya,wanita itu hanya melihat nama Sinta yang tertera di panggilan keluar tanpa melihat dengan detail nomornya.
"Bagaimana,apa mama sudah percaya?"
"Em..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya bu Amel,setelah itu dia langsung pergi meninggalkan suaminya tanpa bicara apa-apa lagi,jujur saja bu Amel masih belum sepenuhnya percaya dengan suaminya itu karena sikap pak Arman juga terlihat aneh akhir-akhir ini.
Wanita itu masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamar dengan kasar,dia menumpahkan kekesalan hatinya. "Aku yakin dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku," gumam bu Amel curiga.
\*\*\*\*
"Kakak tahu,kalau saat ini aku sangat bahagia." Ucap Tina saat dia sedang mengerjakan PRnya di kamar David."
"Bukankah kamu memang selalu bahagia,kamu tipe orang yang sangat santai,tidak peduli dengan keadaan yang sedang kacau atau tidak kamu tetap santai," ucapan david seperti sengaja menyentilnya dan membuat Tina jengkel.
"Aku sedang serius," ucap Tina memasang ekspresi serius di wajahnya.
"Memangnya kamu bahagia kenapa?" tanya David mulai serius.
"Ya,karena Nayla sudah mendapat tempat tinggal yang baru,dan bersama orang yang sangat menyayanginya." Jawab Tina dengan wajah bahagia.
__ADS_1
"Oh iya Tin,ramadhan ini aku ingin tinggal di rumah bunda aja," David mengutarakan keinginannya.
"Iya,aku juga berpikir demikian kak,di sana pasti lebih menyenangkan." Ucap Tina mulai membayangkan suasana ramadhan di rumah Sinta,apa lagi nanti mereka bisa pergi tarawih sama-sama.