Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Ibu Tiri Baik Hati


__ADS_3

Saat pulang sekolah,Tina dan David sangat terkejut begitu mendengar suara tangis anak kecil dalam rumah mereka.


"Apa ada tamu ya kak?" ucap Tina pada David.


"Entah,tidak biasanya rumah kita kedatangan tamu" jawab David,dia tidak peduli dengan hal yang menurutnya tidak penting itu. Jadi dia langsung masuk ke dalam dan memberi salam.


"Assalammualaikum!" ucap mereka bersamaan.


"Waalaikumussalam!" seorang wanita muda yang cantik menjawab salam mereka,wanita itu menggendong anaknya dapat diperkirakan usia anak itu sekitar dua tahunan. Mereka masih tampak bingung karena sama sekali tidak mengenali siapa wanita itu.


"Kok pada bengong sih? Ganti baju kalian sana! Sebentar lagi papa pulang,kita makan siang bersama hari ini." Ucap bu Amel.


"Tante ini siapa,ma?" akhirnya Tina yang tidak sanggup menahan rasa penasarannya bertanya juga.


"Ini tante Sinta,istri kedua papa. Kalian bisa memanggilnya bunda saja," ucap bu Amel dengan gamblangnya,bahkan dia merasa itu hal biasa,menurutnya untuk apa menutup-nutupi lagi dari anak-anaknya,lambat laun mereka juga pasti akan tahu,dari pada mereka tahu dari orang lain lebih baik dia sendiri yang memberitahu pada mereka.


David dan Tina sama sekali tidak terlihat terkejut saat mendengar ucapan mamanya itu,mereka hanya tersenyum kepada Sinta dan kemudian masuk ke kamarnya masing-masing untuk ganti baju.


"Aku lihat kamu biasa saja saat mendengar perkataan mama tadi Tin,kamu sudah tahu mengenai istri kedua papa?" tanya David saat mereka sudah berada di lantai atas.


"Iya,aku sudah lama mengetahui hal ini,saat mama dan papa berantem hari itu," jawab Tina,dan David terbelalak kaget mendengarnya.


"Kamu juga mendengarnya?"


"Iya,saat kakak sudah pergi ke kamarnya Nayla,saat itu aku keluar kamar niatnya mau pergi ke dapur,tapi langkah aku terhenti karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar mama,karena penasaran ya aku nguping aja pembicaraan mereka," jelas Tina dengan gayanya yang cuek itu,dia terlihat tidak peduli sama sekali dengan hal begituan.


"Kamu tidak marah papa nikah lagi?" tanya David,dia masih tidak habis pikir dengan sikap santai adiknya.


"Tidak,selama tante Sinta tidak mengundang masalah dalam keluarga kita mengapa harus marah? Lagian aku marah sama papa bukan karena papa nikah lagi,tapi karena papa suka main tangan sama Nayla." Ungkap Tina,kemudian dia segera masuk ke kamarnya dan meninggalkan David sendiri yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya seperti orang linglung.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Semua menu sudah terletak di atas meja makan,mereka sudah duduk di kursi masing-masing,Sinta juga sudah tidak perlu menggendong anaknya lagi karena Rio sudah tidur pulas di kamar bayi,kamar yang dulu di siapkan untuk Nayla,tapi karena Nayla lahir dengan keadaan yang tidak mereka inginkan maka kamar itupun tidak terpakai sama sekali.


"Wah,enak-enak semua ini." Ucap pak Arman tersenyum senang,lelaki itu memang sangat senang saat ini karena dua istrinya terlihat sangat akrab.


"Di makan dong jangan di lihatin aja!" ucap bu Amel.


"Kenapa cuma kita yang makan di sini,Nayla mana?" tanya Sinta,dia tidak tahu pertanyaannya itu membuat selera makannya pak Arman hilang,bu Amel menyadari perubahan wajah suaminya,jadi dia buru-buru mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana.


David dan Tina tidak menyangka kalau Sinta begitu perhatiannya dengan Nayla,padahal wanita itu baru pertama kali bertemu Nayla.


"Nayla ada di kamarnya tante." Ucap David.


"Tante,ups... Maksudnya bunda." Ucap Tina seperti sedang mengolok-olok,entah apa maksudnya berbicara seperti itu. "Bunda Sinta,boleh nggak ambilkan sedikit makanan untuk Nayla,biar Tina bawa ke kamarnya aja," pinta Tina,ternyata dia cukup pintar juga. Dia sengaja menggunakan Sinta karena dia tahu papanya tidak akan berani marah di depan ibu tirinya itu.


"Tentu saja," jawab Sinta,wanita itu langsung mengambil nasi dan lauk untuk di berikan kepada Nayla.


"Ada yang ngekor ni." Ucap Tina tanpa menoleh ke belakang.


"Malas aja Tin makan di sana,apalagi wajah papa kayak gitu,pahit nggak ada manis-manisnya." Ucap David kesal dengan sikap papanya yang menjengkelkan itu.


\*\*\*\*


"Kakak bawain Nayla makanan tanpa seizin mama dan papa,apa kak Tina dan kak David nggak takut?" tanya Nayla. Kedua kakaknya menggeleng,Nayla menatap mereka dengan wajah murung.


"Kakak berdua memang tidak akan di marahi atau di pukuli,tapi aku? Kita bertiga sangat berbeda." Ucap Nayla masih dengan wajah murung.


"Kamu jangan takut Nay,tidak akan ada yang berani memarahi kamu,apalagi memukuli kamu. Kamu tenang saja selama bunda Sinta ada di sini kamu akan selalu dalam keadaan aman." Ucap David menghibur adiknya.

__ADS_1


"Kamu tahu,tante Sinta kelihatannya cukup baik," ujar Tina menambahkan.


"Iya aku tahu,bahkan tadi pagi saat aku di marahi mama,tante Sinta juga yang membela aku."


"Udahan dulu ngobrolnya ya,aku sudah lapar ni,kita makan dulu yuk!" ajak Tina,dia memang sudah sangat kelaparan dari tadi,cacing-cacing dalam perutnya mungkin sudah melompat-lompat minta di kasih makan. Mereka bertiga pun akhirnya makan,Tina dan David tampak sangat menikmati makan siang mereka,berbeda halnya dengan Nayla,dia tidak memiliki selera sama sekali kalau boleh jujur sebenarnya selama tinggal dirumah itu dia tidak pernah benar-benar menikmati hidupnya,makanan yang di makannya pun tidak pernah terasa enak. Seperti saat ini,meski Tina membawakannya makanan yang cukup lezat,tapi saat dia memakannya rasanya seperti mengunyah karet,dia tidak akan pernah merasa tenang memakan makanan dari uang orang tuanya karena Nayla tahu mereka tidak pernah ikhlas memberikan makanan untuk dirinya,meski itu sudah menjadi hak kedua orang tuanya.


Dia bukan anak yang mereka inginkan,padahal Nayla sangat ingin di sayang oleh mama dan papanya,tapi sepertinya itu hanya sebuah mimpi baginya,jika ingin mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya,itu berarti Nayla harus menjadi sempurna dulu,tidak cacat seperti itu. Sedangkan dia tidak mampu merubah takdir yang telah Allah tentukan untuknya.


\*\*\*\*\*


"Assalammualaikum!" ucap Sinta saat memasuki kamar Nayla.


Tiga anak itu yang sedang asyik-asyiknya bermain dadu langsung menjawab salamnya.


"Waalaikumussalam...!" jawab mereka sama-sama melihat ke arah pintu masuk,dimana kini Sinta sedang berdiri sembari memperhatikan mereka.


"Masuk bunda!" suruh Tina. Sinta langsung masuk dan menghampiri mereka,dia juga tidak lupa untuk kembali menutup pintu.


"Maaf ya,bunda jadi mengganggu kalian bermain." Ucap Sinta,dia sebenarnya masih merasa sedikit canggung untuk berbicara dengan mereka.


"Ya,nggak apa-apa," jawab David.


Kini pandangan mereka sama-sama tertuju ke arah Sinta,dan wanita itu jadi gugup sendiri tidak tahu harus ngomong apa sekarang. Dia baru tahu kalau dirinya ternyata tidak berpengalaman dalam hal mendekati anak-anak,apalagi mengambil perhatian mereka. Contohnya aja seperti saat ini,dia bahkan gugup dan merasa kehabisan kata-kata.


"Kok diam sih bun,nggak tahu ya mau ngomong apa?" tebak Tina di kala suasana tiba-tiba menjadi hening.


"Bingung mau ngomong apa,kalian juga ngeliatin bunda begitu banget,jadinya kan gugup," jawab Sinta jujur.


David seketika tertawa mendengar jawaban jujur dari Sinta,menurutnya itu sangat lucu,ada orang dewasa yang gugup berhadapan sama anak kecil,kan aneh.

__ADS_1


"Bunda ini aneh banget,masa sama kami aja gugup." Ucap David tersenyum lucu.


"Oh iya bunda,sudah berapa lama bunda ini menikah dengan papa?" tanya Tina,ternyata dia cukup berani juga menanyakan sesuatu seperti itu.


__ADS_2