
Malamnya setelah pak Arman pulang,bu Amel langsung ngamuk-ngamuk di depan suaminya,wanita itu sudah tidak perduli lagi jika sampai pertengkaran mereka didengar oleh David dan Tina.
Dia bahkan sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Kenapa papa berbohong lagi sama mama?" tanya wanita itu,dengan amarah yang sudah berada di ubun-ubun kepalanya,sorot matanya terlihat tajam,seperti singa yang ingin segera menerkam mangsanya.
"Papa baru pulang dari kantor,masih capek mama malah ngajak ribut." Pak Arman masih bergurau,lelaki itu tidak tahu apa yang sudah di lakukan oleh selingkuhannya hingga membuat isterinya itu sangat marah.
"Aku lagi serius pa,kamu ini memang tidak bisa di percaya,katanya sudah tidak memiliki hubungan dengan Prilly,padahal di belakang aku papa masih sering ketemu sama dia iya kan?" ucap bu Amel meminta kejujuran dari suaminya.
"Ketemu sama Prilly?" pak Arman berpura-pura kaget,beliau masih ingin menghindar dari kesalahannya.
"Jangan berlagak bodoh begitu,tidak perlu berpura-pura kaget,ini buktinya!" bu Amel melempar semua foto yang di ambilnya dalam amplop yang berisikan alamat toko kuenya Prilly,dia masih penasaran siapa yang menaruh amplop itu di depan gerbang rumahnya.
Kali ini pak Arman kaget beneran,matanya membulat,jantungnya berdetak kencang,lelaki itu bahkan berharap dirinya sedang mimpi.
"Mama dapat foto ini dari mana?" tanya lelaki itu.
"Itu tidak penting! Aku dapat foto ini dari mana itu bukan hal yang patut papa tanyakan,sekarang papa jawab dulu pertanyaanku,masih mau melanjutkan hubungan ini atau kita cerai saja?" ucap bu Amel,dia sudah tidak ingin mempertahankan rumah tangganya dengan pak Arman.
"Ma,please tolong jangan membicarakan soal perceraian,kita juga harus memikirkan nasib anak-anak,papa tidak sengaja bertemu dengan dia semalam dan di foto ini juga mama bisa lihat sendiri kan,kalau kami berdiri agak sedikit berjauhan,tidak ada hubungan yang spesial antara papa dan Prilly." Ucap pak Arman menjelaskan,berharap isterinya masih mau mempercayai dirinya.
Bu Amel terduduk lemas di ranjangnya,pikirannya benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat itu,dia seperti orang linglung,benci dengan suaminya yang sudah beberapa kali membohonginya,dia ingin mengakhiri hubungan ini sekarang juga,tapi di sisi lain dia juga teringat dengan kedua anaknya,bercerai pun ternyata bukan jalan keluar terbaik.
Pak Arman segera mengambil kesempatan itu,dia langsung duduk di samping isterinya dan merayunya dengan kata-kata manis,dan janji-janjinya yang sudah pasti hanya omong kosong belaka,tapi pada akhirnya bu Amel luluh juga dengan kata-kata dari suaminya.
\*\*\*\*
"Mama sama papa ribut mulu,bosan aku dengarnya," adu Tina pada kakaknya.
__ADS_1
"Besok hari terakhir sekolah,karena lusa sudah masuk bulan ramadhan,aku ingin tinggal di rumah bunda saja." Ucap David. "Jadi kita sudah tidak perlu mendengar pertengkaran mama sama papa lagi," lanjut David.
"Iya,ngapain di sini biarin aja tu,mama sama papa menghabiskan waktu berdua di rumah." Ucap Tina dengan acuhnya.
"Mungkin mereka akan menjadi lebih akrab,"ucap David,setidaknya mereka tidak terpengaruh dengan masalah yang tengah di hadapi oleh kedua orang tuanya.
\*\*\*\*
Nayla sedang bermain-main dengan Rio. Rio terlihat sangat senang ketika bermain dengan Nayla,dia terus tertawa dari tadi. Nayla mengajarinya menggambar,Rio yang masih belum mengerti cara menggambar,jadi dia hanya bisa mencoret kertas putih di depannya secara asal-asalan.
"Ma-ma tidur." Ucap Rio,sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya,ya setiap kali dia menguap dia pasti langsung menutup mulutnya,Nayla yang mengajarkan Rio seperti itu.
"Owh,anak mama sudah ngantuk rupanya." Ucap Sinta. "Bunda temenin Rio dulu ya Nay."
"Iya bunda,Nayla juga sudah ngantuk ni,mau tidur juga." Nayla mengucek-ngucek matanya yang sudah sayu itu.
"Iya bunda," jawab Nayla singkat.
"Shalat isya dulu Nay,habis itu baru tidur!" Sinta mengingatkan.
"Sudah dari tadi bunda," jawab Nayla untuk terakhir kalinya,dan setelah itu dia langsung menutup pintu kamarnya.
\*\*"\*\*
Hari ini Nayla dan Sinta pergi ke pasar buah dan sayur untuk membeli semua keperluan dapur,karena besoknya sudah masuk hari pertama berpuasa.
"Bunda,bagaimana kalau sebagian buah ini kita kasih untuk anak-anak jalanan yang ada di sana?" Nayla meminta persetujuan dari sang bunda.
Sinta langsung menyetujuinya,dan dia segera menyuruh sopirnya untuk memberi sebagian buah-buahan segar yang tadi di beli mereka.
__ADS_1
Sambil menunggu sopirnya selesai membagikan buah-buahan itu,Nayla menatapnya dari kejauhan dan tersenyum haru penuh kebahagiaan,Sinta yang menyaksikannya tahu kalau Nayla sangat senang saat itu.
"Kamu punya hati yang baik nak,semoga hidupmu bahagia,panjang umur dan di berkahi."Ucap Sinta sambil membelai rambut Nayla penuh kasih.
"Bunda mau tidak kalau bulan puasa ini,kita bagi-bagi takjil buat orang-orang yang kurang mampu,sebagiannya kita taruh di masjid,dan sebagian lagi kita bagi-bagi untuk orang-orang seperti mereka," usul Nayla tanpa melepaskan pandangannya dari anak-anak jalanan yang terlihat sangat bahagia itu.
"Tentu mau dong,memang itu yang selalu bunda lakukan setiap bulan ramadhan,dan ada ibu sama kak Ayu juga yang ngebantuin," jelas wanita itu.
"Sekarang mau kemana lagi bu,apa langsung pulang saja?" tanya supir mereka.
"Iya pak kita langsung pulang,karena sudah tidak ada yang perlu saya beli lagi," jawab Sinta.
Nayla masih fokus menatap ke luar,dia saat itu melihat sosok papanya yang berdiri bersama seorang wanita yang tak lain adalah Prilly,dia baru menyadari kalau ternyata selama ini wanita yang terus bersama papanya adalah pemilik toko kue yang ada di dekat sekolah mereka,Nayla masih terus memperhatikannya tanpa sadar kalau papanya juga sedang melihat ke arahnya,saat menyadari hal itu Nayla langsung menundukkan kepalanya dan segera menaikkan kaca jendela mobil,tapi sayang dia terlambat,karena ternyata Sinta juga sudah melihat pak Arman dengan selingkuhannya.
"Kenapa di tutup sayang?" tanya Sinta dengan sikapnya yang tenang.
"I-itu." Nayla jadi gugup. "Debu! ya debu terlalu banyak," lanjutnya lagi.
"Pak sebentar ya,saya pergi ke sana dulu untuk melihat suami saya." Ucap Sinta,wanita itu langsung keluar dari mobilnya.
Sinta berjalan ke arah suaminya dan ini tentu saja membuat pak Arman tidak bisa berkelit lagi,dia tertangkap basah sekarang,wajahnya terlihat tegang,bahkan lelaki itu terlihat lebih takut dengan Sinta dari pada bu Amel.
"Mas ada di sini rupanya." ucap Sinta sambil menatap lekat wajah bu Prilly yang berada di samping suaminya.
"Ka-kamu jangan salah paham dulu Sin,dia rekan bisnis aku." Pak Arman berbohong lagi,Sinta kemudian berkata "Kalau mas mau nikah lagi juga nggak apa-apa. Dan mbak,kalau memang mencintai suami saya minta dinikahi saja sekarang,besok sudah masuk bulan puasa,nggak baik terus berdua-duaan seperti ini,apalagi bukan mahram dosa tahu!" ucap Sinta,nada suaranya sangat lembut tapi sangat menyakitkan ketika di dengar,dia seperti sedang menghina dua orang di depannya.
"Maaf,tapi saya tidak ada hubungan apa-apa dengan pak Arman," jawab Prilly,dia tersinggung dengan ucapan Sinta tadi.
"Kalau ada hubungan juga tidak apa-apa,tapi kalau melahirkan anak pastikan mbak melahirkan anak yang sempurna fisiknya,kalau tidak maka mbak harus siap-siap untuk di tinggalkan." Ucap Sinta untuk terakhir kalinya,kemudian dia langsung pergi dari hadapan mereka tanpa sempat melihat reaksi pak Arman yang terkejut mendengar omongan Sinta yang menjelek-jelekkannya di depan Prilly,pak Arman semakin tidak tenang karena Sinta berani bersikap seperti itu pada dirinya.
__ADS_1