Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Mulai Menyayangi


__ADS_3

"David,soal semalam maafin mama ya?" pinta bu Amel saat mereka sedang sarapan pagi itu.



"Iya,lupakan saja ma,oh iya papa kemana?" tanya David saat tidak melihat papanya pagi itu.



"Owh papa mungkin tidur di kantornya,karena semalam papa pergi ke kantor katanya ada pekerjaan yang harus di urus," jelas bu Amel.



"Oh!" hanya itu saja kata yang keluar dari mulut David,dia kembali melanjutkan makannya. Tina tidak ada di sana,dia masih belum sehat jadi David hanya sarapan berdua dengan mamanya,David tahu mamanya itu sedang membohongi dirinya, "mana mungkin papa tidur di kantor,papa pasti tidur di rumah istri keduanya," batin David.



Begitu David berangkat sekolah,bu Amel langsung masuk ke dalam kamar Nayla,saat itu dia sedang mencuci bajunya.



"Setelah selesai nyuci,kamu bersihin itu halaman belakang!" suruh bu Amel,wanita itu seperti sangat dendam pada anaknya yang satu ini.



"Baik ma." Jawab Nayla,dia tidak membantah sama sekali.


"Dan ingat ya! Kamu jangan berani-berani lagi untuk mendekati David,kalau kamu memang masih mau tinggal di sini," ancam bu Amel. Nayla mengangguk cepat,dia masih kecil dan sangat takut kalau di buang di jalanan,tidak ada yang peduli,tidak punya tempat berteduh dia tidak ingin jadi seperti itu.


\*\*\*\*\*\*\*



"Kamu kenapa David?" tanya Andi teman sebangku David sekaligus sahabatnya.



"Kamu pernah nggak di pukul sama papa kamu sendiri?" tanya David yang membuat Andi heran,tumben sekali dia menanyakan hal seperti itu.



"Ya tidaklah,papa aku itu orangnya penyayang,kalau salah ngingetinnya baik-baik nggak pernah main tangan." Jawab Andi jujur.

__ADS_1



"Kamu habis di pukul sama papa kamu,ya?" tanya Andi terlihat curiga.



"Tidak sih." David menjawab sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.



"Kamu kenal Elin nggak,adik kelas kita yang satu kelas sama adik kamu?"



"Nggak,memang ada apa sama dia?"



"Dia itu selalu di pukuli sama ayahnya sendiri,ayahnya itu tukang judi. Nah,kalau kalah taruhan maka Elin lah yang akan jadi mangsanya." Jawab Andi menjelaskan.



"Kamu tahu dari mana?" David mulai penasaran.




Mendengar cerita Andi,David kembali teringat akan Nayla,adiknya juga sering di pukul oleh papanya sendiri,sedangkan dia hanya bisa melihat tanpa membantu.



"Bukankah zaman sekarang memang seperti itu Dav,kita bahkan juga sering melihatnya di tv,anak yang di bunuh oleh ibunya karena depresi,ayah yang memukul anaknya sampai mati,bukankah aneh kenapa manusia bisa bertindak begitu kejam,binatang saja melindungi anaknya." Tutur Andi yang membuat David hanya bisa terdiam,dia sibuk dengan pikirannya sendiri. melihat tidak ada respon sama sekali dari lawan bicaranya,Andi merasa bosan.



"Ah nggak seru ngomong sama kamu Dav,mending ke kantin aja." Ucap Andi meninggalkan David sendiri di dalam kelas yang sepi itu,karena semua murid sudah pada ke kantin untuk makan siang.


********


Tina memperhatikan Nayla yang terus menyapu halaman belakang,seharusnya saat ini Nayla sedang belajar di sekolahnya,tapi karena papa dan mama terlalu membenci dia,jadi dia harus duduk di rumah saja,bahkan dia juga tidak di izinkan keluar oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Jendela kamarnya memang mengarah ke halaman belakang,jadi dia dengan mudah dapat melihat apa yang sedang di lakukan Nayla. Nayla terus mengusap peluh yang bercucuran di keningnya,tina tidak tahan lagi melihatnya dia tidak mungkin terus berdiri di dalam kamarnya,dia harus membantu adiknya itu.


"Tapi,kalau aku keluar mama pasti akan marah,nanti Nayla juga yang bakal kena getahnya." Tina jadi ragu-ragu,akhirnya dia memilih untuk diam saja di kamarnya,dari pada nantinya hanya akan memperburuk keadaan,bu Amel bukanlah orang yang mudah di ajak kompromi sama seperti papanya.



\*\*\*\*\*\*



Saat pulang sekolah David tidak langsung pulang kerumahnya,dia menyuruh mang Adi untuk berkeliling dulu,entah apa yang hendak di carinya,dia sendiri pun tidak tahu.


"Den David kita berhenti di sini sebentar ya,ada sesuatu yang perlu mang Adi beli." Ucap mang Adi seraya mematikan mesin mobilnya.


"Iya mang." Jawab David.


Sambil menunggu sopirnya David menyapu pandangannya ke sekeliling jalan raya dia melihat dari kejauhan beberapa anak kecil yang sedang mengamen di jalanan,ada yang sedang duduk di tepi jalan menunggu belas kasih dari para pejalan kaki agar mau memberikan mereka sedikit uang untuk membeli makanan,miris memang. sebagian dari mereka itu adalah anak-anak yang di buang,yang di telantarkan kedua orang tuanya,tapi tidak ada tangan yang terulur untuk membantu mereka. David semakin merasa bersalah saja karena selama ini membiarkan Nayla kelaparan,dia bahkan tidak ikut melindunginya saat Nayla di siksa oleh papa,dia merasakan dirinya sudah menjadi kakak yang sangat jahat.


"Maaf den,mang Adi sedikit lama." Ucap mang Adi,sekarang lelaki itu sudah berada dalam mobil dan menghidupkan mesin mobil untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Mang,ada nggak orang tua yang tidak menyayangi anaknya?" tanya David. Mang Adi mengerutkan keningnya tidak biasanya David menanyakan hal seperti itu.


"Ada,di berita banyak tu yang di kabarkan meninggal karena di bunuh orang tuanya sendiri." Jawab mang Adi.


"Aku semakin bingung," gumam David semakin pusing.


"Kenapa den David menanyakan hal seperti itu?" tanya mang Adi.


"Ya,penasaran aja oh iya mang menurut mang Adi bagaimana jika ada orang tua yang membenci anaknya karena anak itu cacat?"


"Hanya orang-orang yang tidak bersyukur atas pemberian Allah yang akan melakukan hal demikian,mang Adi juga punya kakak perempuan dia tidak bisa berjalan normal,kakinya cacat tapi orang tua mang Adi sangat menyayanginya, mereka itu sebenarnya hanya cacat fisiknya saja,tapi hatinya tidak." Jelas mang Adi.


David semakin mengerti apa yang dikatakan mang Adi,selama ini sebenarnya David juga sering melihat Nayla shalat di kamarnya,sedangkan mereka yang sempurna fisiknya saja tidak seperti Nayla. Nayla masih kecil tapi begitu taat,David bahkan tidak pernah melihat kedua orang tuanya shalat di rumah, bahkan david dan tina juga tidak pernah di ajarkan tentang agama,semua mereka dapatkan dari sekolah. Kedua orang tuanya pergi ke masjid hanya saat lebaran saja,selebihnya tidak.


David merasa malu sendiri dengan adiknya,dia sudah besar sudah kelas dua SMP, tapi pengetahuan soal agama masih sangat minim.


"Lho,kok den David jadi melamun gitu?" tegur mang Adi saat David hanya diam saja.


"Sedang memikirkan sesuatu mang,kita berhenti sebentar di warung itu ya mang,David mau beli nasi." Ucap David,dia ingin membeli makanan untuk Nayla,karena Nayla biasanya sangat jarang di beri makan oleh mamanya,dan kali ini dia akan membelikan daging ayam untuk Nayla,karena dia tahu Nayla sangat ingin merasakan bagaimana rasanya daging itu."


"Iya den." Jawab mang Adi melihat David yang menyuruhnya untuk berhenti di depan warung makan membuat lelaki itu heran dan penasaran.

__ADS_1


"Tidak biasanya den David beli makanan seperti ini,bukankah di rumah juga ada." Ucap mang Adi dalam hati.


\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2