Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Mereka Diculik


__ADS_3

Malam ini terlihat begitu indah,rembulan bersinar begitu terang dan dikelilingi oleh bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.


Sinta dengan penuh semangat mengajak Nayla dan kedua kakaknya untuk membeli baju lebaran,tapi kali ini dia tidak membawa Rio.


"Bunda,kita ke sana dulu ya!" ucap Tina.


"Iya sayang,tapi jangan jauh-jauh ya?" sinta memperingatkan,karena takut kehilangan dua anak itu,apalagi di mall saat itu dipenuhi banyak orang,sulit untuk mencari mereka jika nanti mereka terpisah.


David ikut dengan Sinta,sedangkan Nayla asik bermain mesin capit boneka dengan Tina.


"Mau dong kak boneka panda itu!" tunjuk Nayla.


"Bentar ya." Tina langsung memasukkan beberapa koin ke sana,berharap kali ini dia tidak gagal untuk mengambil boneka panda itu lagi.


"Yeay... akhirnya.!" Tina melompat-lompat senang saat dia berhasil mengambil boneka panda itu,dan memberikannya pada Nayla.


"Terimakasih kak Tina." Ucap Nayla penuh ketulusan.


"Eh coba deh kamu lihat ke sana! bukankah itu tante Prilly?" Tina menunjuk ke arah seorang wanita yang berdiri di samping toko perhiasan.


"Itu memang tante Prilly,tapi dia sama siapa?" Nayla penasaran.


"Sepertinya dia sedang memilih perhiasan deh,kita ke sana yuk!" ajak Tina,tanpa berpikir panjang Nayla langsung mengikuti kakaknya.


\*\*\*\*


"Tante Prilly ngapain di sini?" tanya Tina dengan nada sinisnya.


Alvin menatap dua anak di depannya tanpa rasa terkejut,sebab dia sudah kenal mereka berdua. "Kalian nggak lihat tante sedang membeli perhiasan?" Prilly balik bertanya tak kalah sinisnya.


"Dan om ini siapa? Selingkuhan tante juga?" sindir Tina. Prilly hanya tersenyum dan dengan sombong berkata. "Dia suami saya,saya tidak suka berselingkuh bukan seperti papa kalian itu."


"Itu karena tante juga yang sudah ngerayu papa saya!" Ucap Tina keras,tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang berlalu lalang disekitar mereka.


"Sayang sudahlah nggak usah diladenin cuma anak-anak," ucap Alvin,menenangkan istrinya yang tengah naik darah saat itu.


"Kak,ayo kita pulang! Malu di lihat sama orang-orang," bisik Nayla. Namun Tina semakin menjadi-jadi dia bahkan dengan lantangnya menyebut Prilly sebagai pelakor.

__ADS_1


"Tina! Kamu dengar baik-baik ya! Saya mendekati papa kamu itu untuk mencari bukti bahwa dia lah orang yang telah menabrak anak saya dan pergi begitu saja tanpa mau bertanggung jawab dan menyebabkan anak saya meninggal," ucap Prilly penuh emosi. Nayla terkejut mendengarnya,dan segera melihat ekspresi diwajah kakaknya,Tina tidak terkejut sama sekali karena dia sudah lebih dulu mengetahuinya.


"Kakak... Apa kakak juga sudah tahu soal ini?" tanya Nayla,dia merasa kalau Tina menyembunyikan hal itu dari dirinya.


"Aku baru saja ingin mengatakannya sama kamu." Ucap Tina menjelaskan,biar Nayla tidak salah paham.


"Berarti semua ini nggak ada sangkut pautnya sama aku,lalu kenapa papa menyalahkan aku atas semua ini,padahal papa sendiri yang bersalah karena sudah menabrak anak tante prilly," Nayla marah dia sedih dan menangis,akhirnya dia memilih pergi dari sana,pergi menjauh dari Tina.


"Tante,ini semua gara-gara tante!" ucap Tina penuh amarah,kemudian dia berlari mengejar Nayla.


"Tina terlalu buru-buru hingga dia tidak sadar kalau handphonenya terjatuh di lantai mall itu,Alvin yang melihat Tina menjatuhkan ponselnya segera memungut ponsel itu dan menyimpannya.


"Kamu sudah membuat mereka berdua salah paham Prilly,kamu bahkan tidak terlihat menyesal," kata Alvin lelaki itu merasa bersalah dengan tindakan istrinya.


"Apanya yang harus di sesalkan sekarang,ini justru lebih baik,dengan begitu aku akan lebih mudah menghancurkan Arman," ucapnya dengan senyum menyeringai.


"Dia menjatuhkan hpnya,mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang berharga di sana." Ucap Prilly.


\*\*\*


"Kamu cari siapa,nak?" seorang perempuan paruh baya bertanya dengan sopan padanya.


"Apa ibu melihat seorang anak kecil,tingginya sebahu saya dan dia memakai tongkat,apa ibu melihatnya?" tanya Tina.


"Apa anak itu perempuan dan dia memakai kerudung warna hitam?" wanita itu memastikan.


"Iya,benar sekali!" jawab Tina seraya mengangguk,kini perasaanya sedikit lebih tenang.


"Tadi ibu lihat dia ke ujung jalan sana!" kata wanita itu,menunjuk ke arah lorong yang terlihat gelap.


"Makasih bu!" dia buru-buru pergi dari sana untuk mencari Nayla,meski di hatinya ada sedikit keraguan,masa Nayla pergi ke tempat gelap seperti itu. Namun,karena dia terlalu khawatir tentang adiknya jadi dia meyakinkan hatinya untuk melihat,namun siapa sangka Tina ternyata ditipu oleh ibu-ibu tadi,di sana tidak ada siapapun selain pengemis jalanan yang sedang tidur di pinggiran jalan,karena jalan yang gelap itu memang tempat berkumpulnya anak-anak jalanan,tanpa disadarinya dari arah belakang ada seseorang yang membekap mulutnya dengan kain hingga Tina pingsan,dan dia tidak sempat berteriak sama sekali. Dia di culik oleh tiga lelaki yang bertubuh besar dan dimasukkan kedalam mobil van milik mereka,sepertinya mereka memang sudah di incar dari tadi.


\*\*\*


"Gimana bunda,di angkat nggak?" tanya David panik.


Sinta hanya menggelengkan kepalanya dan dia semakin terlihat khawatir.

__ADS_1


"Hpnya Tina nggak aktif,David."


"Kan sudah kita ingetin jangan main jauh-jauh,dia bikin orang khawatir aja," David kesal.


"Bunda telfon papa dulu ya."


"Jangan!" cegah David,dia tidak ingin membuat keadaan heboh. "Kita cari melalui cctv aja," usulnya kemudian.


"Kamu benar,ayo kita ke sana!" akhirnya mereka pergi untuk bertemu dengan petugas di gedung mall itu untuk membantu mereka mencari keberadaan Tina dan Nayla melalui cctv.


Setelah melihat semuanya di cctv,ternyata Nayla dan Tina sudah keluar dari mall itu,jadi David dan Sinta juga bergegas mencari mereka di luar,siapa tahu mereka memang menunggu di sana.


"Gimana ni bun? Tina dan Nayla bahkan tidak ada di sini." David semakin khawatir dia mulai berpikir macam-macam.


Sinta menggigit bibirnya mulai ketakutan,takut terjadi sesuatu dengan anak itu dan kalau mereka diculik itu berarti semua adalah salah dirinya.


\*\*\*\*


Saat membuka matanya Tina terkejut melihat sekelilingnya,dia sekarang berada di tempat yang asing,dan di sampingnya juga banyak anak-anak kecil,tidak hanya itu ada juga beberapa wanita muda,pakaian mereka terlihat sangat tidak sopan,Tina mulai ketakutan menyadari kalau dirinya sekarang berada dalam bahaya.


Tina mengarahkan pandangannya kesamping,melihat anak kecil yang masih tidur disampingnya. Dan ternyata itu Nayla dia masih belum sadarkan diri.


"Nayla,Nayla bangun...!" panggil Tina menggoyangkan tubuh adiknya.


"Nayla bangun!" bisik Tina pelan.


Nayla akhirnya bangun dan langsung memeluk kakaknya. "Kita ada di mana?" tanya Nayla,melihat tempat yang sangat aneh itu membuat dia merinding.


Tina dan Nayla,mereka berdua diletakkan dalam jeruji besi yang berbeda dengan anak lain. mereka hanya berdua,ini sangat aneh.


"Sebentar lagi kalian juga akan menjadi seperti kami." Ucap salah seorang perempuan muda,bisa diperkirakan dia masih berumur 24 tahunan.


"Maksud kakak apa.?" Tina tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.


"Salah satu di antara kalian akan di jual dan satu lagi akan di jadikan pengemis," pertanyaannya di jawab oleh wanita yang lain.


\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2