Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Ramadhan Pertama


__ADS_3

Tepat jam tiga Nayla dan kedua kakaknya bangun,mereka membantu Sinta di dapur,dan saat jarum jam menunjukkan pukul 04 : 00 mereka sudah menyiapkan semuanya,makanan sudah di letakkan semua di atas meja,tapi suasana sahur saat itu agak sedikit aneh,tidak ada yang bicara mereka hanya diam saja,Sinta tidak tahu kalau ketiga anak itu sebenarnya mendengar pertengkaran antara dirinya dengan pak Arman semalam. Nayla juga tidak tahu kalau semalam Tina hanya berpura-pura tidur saat dirinya masuk dalam kamar,dan Tina juga tidak tahu kalau David juga mengetahui hal itu,mereka terus fokus memakan makanannya masing-masing,dengan menu seadanya sayur sop,tempe,tahu,dan ayam goreng.


Sinta mulai merasa ada yang aneh dengan anak-anak itu,jadi dia bertanya "Apa kalian tidak suka dengan makanannya.?"


"Suka kok bunda." Tina langsung menjawab,tapi sangat singkat terkesan dipaksakan.


"Aku sendiri masih merasa ingin kembali tidur bun." Ucap David,dia mencoba mencairkan suasana yang tampak tegang itu.


"Sebentar lagi juga subuh kak,untuk apa tidur lagi." Ujar Tina kemudian,hanya Nayla yang masih terdiam,dia masih terus mengunyah makanannya,tapi pikirannya jelas tidak fokus dia terus kepikiran tentang kejadian semalam.


"Nayla makannya jangan sambil melamun sayang,nanti tersedak lho," tegur Sinta mengingatkan.


"Heheh." Nayla hanya tersenyum mendengar ucapan Sinta,dia sama sekali tidak menampakkan wajah sedihnya,sebenarnya menjadi Nayla sangat susah,serba salah,tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya dan kemudian tinggal dengan orang lain pun membuat orang tuanya juga marah,yang benar mungkin dia harus menghilang dari dunia ini,baru kedua orang tuanya bisa hidup tenang.


"Kalian jangan lupa baca niat puasanya ya." Sinta mengingatkan.


"Iya bunda!!" jawab mereka.


\*\*\*\*


Pagi hari disambut oleh mentari yang bersinar terang,Sinta setelah selesai memandikan Rio langsung membawanya ke rumah bu Lastri untuk dititipkan sebentar pada wanita itu.


"Kamu mau kemana nak?" bu Lastri bertanya,karena melihat Sinta sudah berpakaian sangat rapi,dan dia juga terlihat buru-buru


"Aku mau ke kantor dulu bu,setelah itu pergi ke rumah mas Arman."


"Ya sudah hati-hati di jalan ya?"

__ADS_1


"Iya bu," jawab Sinta,dia mencium tangan bu Lastri seperti biasanya sebelum pergi,mereka sudah seperti ibu dan anak.


"Berarti Nayla sendiri dong di rumah." Ucap Ayu yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya,kamu kalau nggak ada kerjaan boleh dong temanin dia,karena aku juga harus mengantar David dan Tina pulang ke rumahnya."Tutur Sinta memberitahu.


"Baiklah kalau begitu." Ayu menjawab setuju. "Tapi jangan lupa kue untuk aku berbuka nanti kakak,ya?" lanjut ayu mengingatkan.


"Kamu selalu ada maunya," sindir bu Lastri.


"Hehe..." Ayu terkekeh mendengar perkataan sang ibu.


"Nggak apa-apa bu,nanti aku bawain kue yang enak buat kamu dan ibu,oh iya bu kalau Sinta mungkin pulang agak kesorean deh,ibu kalau mau masak buat nanti buka puasa masak aja di rumah,Sinta sudah membeli semua bahannya,ibu mau kan?" tanya Sinta memastikan,setengah berharap karena dia tahu kalau nanti pulang pasti tidak sempat masak.


"Buat kamu apa yang nggak boleh sih,nanti kamu pulang semua pasti sudah selesai ibu siapkan,tinggal makan saja." Ucap bu Lastri seraya tersenyum.


"Sudah! jangan banyak bicara lagimending kakak segera ke kantor nanti terlambat lagi," suruh Ayu,dan Sinta berpamitan sekali lagi kemudian segera pergi.


"Iya sayang tunggu mama pulang ya!" seru Sinta karena saat itu dia sudah berada dalam mobilnya.


Bu Lastri sudah terbiasa keluar masuk rumah Sinta,sudah seperti rumahnya sendiri saja,bahkan beliau juga sering memasak untuk dia, jadi saat pulang kerja Sinta tidak perlu memasak lagi,bu Lastri memperlakukan Sinta seperti anaknya,karena Sinta juga sudah menganggap bu Lastri seperti ibunya sendiri,bahkan Sinta juga selalu memberikan uang bulanan untuk mereka.


Sinta benar-benar memiliki hati yang sangat baik dan tulus,dan hal inilah yang membuat bu Lastri sangat menyayanginya,tidak hanya mereka,dikomplek itu juga banyak orang yang merasa kagum dengan Sinta karena kebaikannya,meski semua orang tahu kalau dia menjadi istri kedua dari pengusaha ternama,namun bukan berarti hal tersebut bisa merubah pandangan mereka kepada wanita muda itu,mereka malah semakin kagum dengan Sinta karena Sinta bisa akur dengan istri pertama suaminya.



\*\*\*\*

__ADS_1


Setelah selesai menyapu lantai,Nayla kemudian beralih mencuci piring,karena Sinta tadi sangat buru-buru jadi dia tidak sempat melakukan semua itu.


"Kok kamu yang nyuci piringnya Nay?" tanya Ayu,yang saat itu baru tiba.


"Iya kak,soalnya bunda tidak sempat melakukan semua ini,tadi bunda perginya sangat buru-buru." Jawab Nayla.


"Nanti aja Nay kita cuci piringnya sambil menyiapkan makanan untuk berbuka,masih terlalu pagi tahu,mending kita ke belakang aja yuk! Untuk memberi makan ikan-ikan dikolam!" ajak Ayu,dia segera mematikan kran air agar Nayla tidak melanjutkan pekerjaannya yang sedang mencuci piring kotor saat itu.


\*\*\*


"Enak ya duduk disini." Ucap Ayu sambil memejamkan matanya menikmati angin yang berhembus pelan,membuat dia ingin mengambil bantal dan tidur di sana.


"Wah enak ni kalau tidur di sini," tambahnya lagi,sebenarnya dia itu sedang mengajak Nayla untuk bicara karena sejak tadi Nayla diam terus.


"Dari tadi kenapa aku yang bicara? Kamu nggak merespon sama sekali Nay,kamu sedang punya masalah?" tanya Ayu perhatian.


"Nayla baik-baik saja kak,nggak ada masalah," jawabnya dia tidak ingin membagi beban pikirannya dengan Ayu,mereka sangat baik kepadanya. Nayla tidak bisa seperti ini terus,dia terus memikirkan cara untuk pergi dari rumah itu,tapi dia akan ke mana? Dia masih sangat kecil dan tidak tahu bahaya di luar sana sangat besar,gadis kecil seperti dia tidak bisa melawan orang-orang yang berniat buruk padanya.


"Kamu yakin tidak ada masalah apa-apa?" tanya Ayu masih ragu dengan jawabannya Nayla.


"Hemp," jawab Nayla di iringi dengan anggukan kepalanya.


\*\*\*\*


"Mas harus dengerin dulu penjelasan aku!" pinta Sinta,namun pak Arman tidak mempedulikannya sama sekali,sedangkan bu Amel hanya bisa menyimpan rasa penasarannya tentang masalah apa yang telah terjadi antara Sinta dan suaminya.


"Ya sudah sekarang berikan penjelasanmu! Kamu mau mengatakan apa?" suruh lelaki itu.

__ADS_1


"7 tahun yang lalu mas sudah menabrak seorang wanita yang menggendong anaknya,dan membuat anak itu meninggal." Ucap Sinta,seketika membuat mata pak Arman melotot seperti hendak keluar dari pupilnya,lelaki itu tidak bisa menyembunyikan kekagetannya,karena apa yang dikatakan Sinta tadi adalah rahasianya yang hanya dia yang tahu,bahkan istrinya saja tidak tahu.


"Apa? Jadi papa pernah menabrak seseorang hingga dia meninggal?" bu Amel juga hampir tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


__ADS_2