Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Tidur Di Rumah Alif


__ADS_3

"Umi ngerasa ada yang aneh nggak?" tanya pak Jufri begitu Nayla dan Alif hilang dari pandangan mereka.


"Tentu saja aneh,sekarang abi percayan kan dengan apa yang umi bilang beberapa waktu yang lalu."


"Tapi masalah ini kita tidak bisa langsung mengambil tindakan begitu saja,kita juga harus menyelidikinya dulu dan menanyakan sendiri pada Nayla." Ucap pak Jufri.


"Nayla datang ke sini malam-malam dengan wajah seperti itu dan dia tidak membawa tongkatnya,apa dia pergi terburu-buru?" bu Fitri semakin bingung,ingin sekali menanyakannya langsung kepada Nayla tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang apa Nayla mau menjawabnya dengan jujur?


"Mungkin tongkatnya memang sengaja nggak di bawa," jawab pak Jufri,mereka tidak tahu bahwa tongkat itu sudah di bakar oleh papanya.


"Ah,dari pada penasaran begini mending umi tanyakan langsung sama orangnya aja," ucap bu Fitri sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


"Lho,umi mau ke mana?"


"Kemana lagi bi,kalau bukan ke kamar Nayla. Umi mau tanyain langsung ke orangnya," jawab bu Fitri sambil melangkah menuju kamar yang di tempati Nayla.


\*\*\*\*\*\*


Setelah Alif pergi bu Fitri langsung menutup pintu kamar itu,dan sekarang hanya ada dirinya dengan Nayla.


"Nayla,kenapa baju yang umi kasih nggak di pakai?" tanya bu Fitri dengan suaranya yang lembut.


"Baju yang umi kasih terlalu bagus kalau untuk dipakai duduk di rumah saja." Jawab Nayla dengan polosnya.


"Nayla sudah makan?" tanya bu Fitri,beliau sebenarnya sedang mencoba mencari informasi tentang apa yang sebenarnya sedang di alami oleh gadis itu.


"Nayla belum makan umi," jawabnya jujur,Nayla memegangi perutnya yang saat itu ikut berbunyi.


"Nayla tunggu dulu ya! Umi ambil makanan dulu di dapur."


"Makasih umi," ucap Nayla dengan suaranya yang kecil hampir tidak terdengar. Nayla sedih dan juga bahagia ternyata di dunia ini dia masih bisa bertemu dengan orang yang baik seperti uminya Alif. "Coba aja mama seperti umi Fitri pasti Nayla senang," batin Nayla.

__ADS_1


Sosok orang tua itu seharusnya menjadi contoh yang baik bagi sang anak,ayah yang bekerja keras agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dan ibu yang menjaga dan membimbing anaknya dengan baik,keduanya saling bekerja sama untuk menjaga putra putri mereka,memastikan anak-anaknya tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun,tapi itu tidak berlaku untuk Nayla. Dia yang di lahirkan tapi tidak di harapkan,entah bagaimana cara menjelaskannya.


\*\*\*\*\*\*\*


Bu fitri terus melihat Nayla makan sepertinya anak itu sangat kelaparan,makannya pun sangat lahap. "Mungkinkah benar kalau selama ini pak Arman dan istrinya tidak mengurus Nayla dengan baik," batin wanita itu.


"Alhamdulillah,Nayla sudah kenyang!" ucap Nayla senang setelah memakan makanannya sampai habis. Umi merasa senang melihat senyum yang terukir bibirnya Nayla.


"Wajah Nayla kenapa?" kini bu Fitri mulai menginterogasi kayak polisi aja.


"Jatuh di kamar mandi umi," jawab Nayla sambil menunduk. Tentu saja umi tidak percaya dengan omongannya.


"Pak Arman sama bu Amel baik nggak sama Nayla?" tanya bu Fitri lagi,beliau tidak akan menyerah begitu saja kalau informasi yang di inginkannya belum di dapat juga.


"Baik,mereka sangat baik sama Nayla." Nayla menjawab cepat,tapi di lihat dari matanya jelas ada keragu-raguan di sana yang membuat bu Fitri semakin yakin kalau pak Arman menyiksa anak itu.


\*\*\*\*\*\*\*


"Maksud kakak dia pergi dari rumah,malam-malam begini?"


"Iya,dan sekarang papa pergi mencari dia," jawab David gelisah.


"Kalau papa yang menemukan dia duluan aku yakin dia akan dipukul lagi oleh papa dan bisa jadi kali ini lebih parah," ujar Tina khawatir. Ya,pak Arman memang akan menghajarnya habis-habisan.


"Kita harus mencari dia Tin,aku khawatir papa berbuat sesuatu yang buruk terhadap dia."


"Malam ini kita tidak bisa keluar lagi,aku yakin kalau Nayla sedang berada di tempat yang aman," ujar Tina,dia mengatakan begitu bukan karena ingin membuat David tenang,tapi memang hatinya yang berkata demikian.


"Ya,semoga saja."


\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


"Aku tidak menemukannya,ma." Ucap lelaki itu pada istrinya.


"Menurut mama sih malam ini dia di rumahnya bu Fitri,ibunya si Alif. Papa masih ingat kan teman barunya itu?" ucap bu Amel,ternyata dia sudah menduga anaknya akan pergi ke sana,dan begitu mendengar perkataan istrinya pak Arman tersenyum tipis,dia mulai tenang kembali tidak seperti tadi,sekarang entah apa yang sedang direncanakannya.


Selama Nayla masih tinggal dengan kedua orang tuanya,maka selama itu pula gadis kecil itu akan terus menderita,mungkin juga sudah takdirnya seperti itu hidupnya memang sangat sulit.


Malam terus bergulir,Nayla yang saat ini berada di rumah Alif terus kepikiran dengan mama dan papanya,tentang mereka yang tidak pernah menyayanginya,karena keadaannya yang tidak sempurna,dia bahkan pernah berfikir jika kelak nafasnya sudah berhenti berhembus dan jantungnya berhenti berdetak yang terakhir ingin dirasakannya adalah pelukan dari mamanya.


anak itu tidak menginginkan kehidupan yang mewah tapi dia hanya menginginkan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya,kasih sayang yang begitu sulit untuk di dapat.


Dia ada,masih ada di antara kedua orang tuanya,tapi tidak di anggap sama sekali,mungkin jika orang lain yang berada di posisinya mereka akan memilih untuk mati saja,tapi Nayla tidak. dia kuat dia masih ingin berjuang meski dalam ketakutan. Tidak ada yang dapat membantunya saat dia harus mendapat siksaan dari papanya dan tidak ada orang yang berdiri di depan untuk menjadi pelindungnya,jika memang dia sudah tidak kuat lagi dia hanya bisa menangis sendiri,tidak ada seseorang yang dapat dijadikan tempatnya untuk berbagi sakit.


Nayla kembali menangis saat itu,bayangan akan sakit di pukul oleh sang papa rupanya begitu membuat anak itu sangat trauma,dia kesakitan tapi tidak tahu harus mengatakan pada siapa,dia hanya bisa berdoa dalam sujud panjangnya supaya pintu hati kedua orang tuanya segera terbuka dan bisa menerima dia apa adanya.


\*\*\*\*\*\*\*


Umi Fitri ternyata juga belum tidur,malam itu terasa waktu berjalan begitu lambat,saat melihat jam padahal sudah lewat tengah malam.


"Kenapa belum tidur mi?" tanya pak Jufri saat mendapati istrinya belum tidur dan masih duduk di sisi tempat tidur.


"Tidak bisa tidur abi,umi kepikiran Nayla terus,takutnya besok pak Arman akan datang ke sini dan membawa dia pulang," jawab bu Fitri mengungkapkan keresahan di hatinya.


"Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa dulu mi,kita tidak mungkin ikut campur dalam masalah mereka,kalau kita mengatakan bahwa pak Arman sudah melakukan kekerasan terhadap Nayla,nanti kita bisa dikatakan sudah memfitnah dia,dan nanti kalau kita di laporkan ke polisi bagaimana?"


"Kita kan punya bukti,itu tuh biru-biru lebam di tangannya dan wajahnya bagaimana dia akan menjelaskannya coba?" ucap bu Fitri.


"Soal ini umi jangan terlalu memikirkannya dulu,besok abi akan menyuruh Hendra untuk menyelidiki siapa Nayla dan apa hubungan dia dengan keluarga pak Arman,kebetulan juga pak Arman rekan kerjanya Noli," ucap suaminya.


Bu Fitri sudah bisa lebih tenang sekarang karena suaminya juga akan membantu mencari tahu tentang Nayla.


\*°°°~^^^^°~°°°\*

__ADS_1


__ADS_2