Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Tangis


__ADS_3

Usai shalat maghrib semua keluarga pak Arman sudah berada di meja makan,mereka mengambil posisi duduknya masing-masing dan siap untuk menikmati makan malamnya.


Nayla hanya mengintip dari balik pintu kamarnya,perutnya sudah mulai keroncongan saat itu.


"Nayla...!" seru Sinta


"Nayla,keluar dulu sayang,kita makan malam sama-sama di sini!" panggil Sinta menyuruh Nayla untuk keluar.


David dan Tina saling pandang,mereka sama-sama tersenyum karena melihat keberanian istri kedua papanya yang mengajak Nayla makan bersama saat itu,meski Sinta sudah tahu kalau mama dan papa mereka tidak suka melihat Nayla,apalagi sampai satu meja makan dengan mereka.


Pak Arman dan bu Amel tidak menghiraukannya sama sekali,mereka membiarkan saja Sinta berbuat sesuka hatinya.


"Biarkan saja,aku harus tahan emosi ini di depan Sinta hanya untuk semalam saja," bisik pak Arman dalam hatinya.


Nayla keluar dari kamarnya dan dia langsung pergi ke ruang makan,sampai di sana dia hanya menunduk tidak berani menatap mama dan papanya.


"Nasinya sudah bunda taruh dalam piring,kamu mau lauknya yang mana?" tanya Sinta,Nayla melihat di atas meja itu ada ikan asin juga jadi dia hanya minta ikan asin saja.


"Nayla ikan asin aja bun,sama nasi putih ini sudah cukup," jawab Nayla.


"Sayurnya kamu nggak mau Nay,masa makan nggak ada kuahnya gitu,sambel juga ada ni,daging ayam lagi kamu beneran nggak mau?" tanya sinta,dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu,Nayla cuma makan nasi putih dan ikan asin.


"Nay makannya yang bergizi dong!" sambung Tina.


"Nggak apa-apa,aku lebih suka seperti ini," jawab Nayla mengambil piring nasinya yang dipegang Sinta,dia langsung pergi dari sana setelah mengucapkan terimakasih.


"Kamu tidak makan di sini Nay?" tanya David setengah berteriak.

__ADS_1


"Aku makan di kamar saja kak" sahut Nayla tanpa menoleh ke belakang.


Sinta merasa ada yang aneh dengan sikap Nayla.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan,dia memang seperti itu." Ucap bu Amel saat melihat wajah Sinta yang tampak khawatir.


Nayla menutup pintunya rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Dia mulai memasukkan nasi itu sesuap demi sesuap ke dalam mulutnya dengan air mata yang terus mengalir. Nayla menangis bukan karena makanannya,tapi karena dia merasa terasingkan di tengah-tengah keluarganya sendiri.


"Bisa makan hari ini saja nenek sudah sangat bersyukur Nay,meski hanya dengan nasi putih dan tempe goreng,di luar sana masih banyak orang yang kelaparan karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan." Perkataan neneknya masih terngiang-ngiang di telinganya. Nayla sangat merindukan neneknya saat itu.


Nayla terus memasukkan nasi itu kemulutnya,meski sebenarnya dia sudah tidak sanggup lagi untuk memakannya,anak kecil itu sangat menderita kapan penderitaannya akan berakhir? Itu hanya sebuah pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawabannya,selama Nayla masih bernafas dia harus menanggung semua derita itu,dia harus terus melangkah meski terjatuh berkali-kali. Dia harus bangkit sendiri dan mengobati lukanya sendiri,tidak semua orang yang ada di dekatnya itu jahat,ada yang baik hati yang mau dengan tulus menolongnya,tapi Nayla segan dia tidak mau menyusahkan orang lain,biar sakit itu dia yang merasakan sendiri,tak perlu berbagi sekalipun kepada kedua kakaknya.


Setelah menghabiskan makanannya Nayla membuka lemari miliknya yang hanya memiliki satu pintu itu,ya lemari yang bu Amel letakkan di kamar Nayla memang berukuran kecil,karena bajunya juga tidak banyak hanya ada lima potong pakaian saja.


Nayla mengambil baju yang dibelikan mamanya beberapa waktu lalu,kedua baju gamis itu tampak cantik. Nayla melihat dirinya di cermin,selama tinggal bersama nenek dia memang tidak pernah dibelikan baju secantik dan semahal itu,Nayla tersenyum senang melihat wajahnya di cermin,dia terlihat cantik dengan gamis yang dikenakannya. Namun,wajahnya kembali murung dan dia juga langsung melipat baju itu dan menyimpannya kembali dalam lemari.


Nayla sadar saat itu mama juga tidak benar-benar ikhlas membelikannya baju baru,semua dilakukan hanya untuk membuat Nayla percaya bahwa mama sudah baik kepadanya,dan kemudian dia bisa dengan mudah ditinggal sendirian di tepi jalan.


"Kenapa lagi mi,akhir-akhir ini melamun terus?" tanya pak Jufri membuyarkan lamunan istrinya.


"Teringat Nayla bi,entah bagaimana keadaan anak itu sekarang," jawab bu Fitri dengan wajahnya yang tampak murung.


"Alif bilang tadi David dan Tina main ke sini."


"Cuma mereka berdua bi,Nayla nggak ada," jawab bu Fitri memberitahu.


"Kenapa bisa begitu,memang umi nggak nanyain nayla nya ke mana?"

__ADS_1


"Mereka bilang Nayla sedang tidak ingin keluar dari rumahnya,begitu kata mereka," jawab bu Fitri.


"Dia capek juga berjalan seperti itu mi,tongkatnya juga sudah dibakar sama papanya," ungkap pak Jufri.


"Serius bi? Abi dapat berita itu dari mana?" tanya umi Fitri penasaran.


"Dari supirnya lah mi,mang Adi." Mendengar perkataan pak Jufri membuat bu Fitri geleng-geleng kepala,beliau tidak habis pikir dengan sifat kejam pak Arman,lelaki itu tidak hanya menyiksa batinnya saja,fisiknya pun ikut disiksa orang tua macam apa itu.


"Pak Arman sudah benar-benar keterlaluan bi,umi nggak bisa diam aja begini," tutur wanita itu beliau terlihat sangat marah.


"Oh iya mi,tadi mereka datang ke sini ngomong apa aja sama umi?" kini beliau mulai penasaran karena tidak biasanya kedua anak itu datang ke rumah mereka apalagi tidak membawa Nayla.


"Mereka mengatakan semuanya bi,mereka bilang Nayla itu memang adik mereka,saat umi tanya,waktu itu mereka bilang ingin berkata jujur tapi belum berani." Ucap bu fitri bercerita.


"Apa ada hal lainnya lagi?"


"Ada,papa mereka ternyata sudah memiliki istri kedua,pak Arman nikah secara diam-diam tanpa diketahui istrinya,tapi syukurlah karena Tina bilang ibu tiri mereka ini sangat baik,bahkan dia juga perhatian dengan Nayla." Ucap bu Fitri mengakhiri ceritanya.


"Syukurlah kalau mereka sudah menikah." Pak Jufri menghela nafas lega.


"Lho,memangnya papa tahu soal ini?" bu Fitri sedikit kaget melihat reaksi suaminya yang terlihat lega setelah mendengar kabar tentang pak Arman yang nikah lagi.


"Abi sebenarnya sudah berkali-kali melihat pak Arman pergi dengan seorang wanita,abi sampai berpikiran macam-macam saat melihatnya,abi pikir pak Arman selingkuh,rupanya itu istri keduanya."


"Umi sedikit lega sih bi saat mendengar kalau ternyata wanita yang dinikahi pak Arman itu ternyata orangnya baik,beliau saja yang bukan ibunya Nayla tapi bisa begitu khawatirnya terhadap keadaan anak itu,sedangkan bu Amel dan pak Arman yang merupakan orang tua kandungnya sama sekali tidak peduli dengan Nayla,mereka bahkan terus menerus menyakitinya."


Malam terus berlalu,Nayla belum juga memejamkan matanya,dia sangat merindukan neneknya,hatinya tidak tenang malam ini.

__ADS_1


Akhirnya,Nayla memilih untuk membaca Alquran setelah lebih dulu mengambil wudhu,Alquran berukuran kecil itu hadiah dari sang nenek yang selalu dikantonginya kemanapun dia pergi. Nayla tidak pernah lupa membacanya dan dia selalu merasa perasaannya jadi lebih tenang setelah membacanya.


\*\*\*\*


__ADS_2