Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Nayla Dan Luna Mulai Berteman


__ADS_3

Hari ini Nayla di antar sampai ke depan pintu kelasnya oleh Sinta,sepanjang koridor sekolah tidak ada yang berani mengejeknya seperti kemarin karena mereka baru menyadari bahwa Nayla adalah anak donatur tetap di sekolah mereka. Siapa yang tidak kenal dengan Sinta di sana,dia sudah beberapa kali datang ke sekolah itu,bahkan dia juga sering membagi-bagikan makanan untuk anak-anak yang kurang mampu yang ada di sekolah tersebut.


"Hari ini bunda pastikan tidak ada yang mengganggu kamu lagi,bunda akan bicara dengan kepala sekolah kalian," ucap Sinta.


"Makasih bunda." Balas Nayla tersenyum senang.


"Kalau begitu kamu langsung masuk aja! Bunda mau ke ruang kepala sekolah dulu," sebelum pergi,seperti biasanya Sinta mencium pipi Nayla! dulu dengan penuh kasih,Sinta benar-benar memperlakukan Nayla seperti anak kandungnya sendiri,kalau ada orang yang melihat keakraban mereka berdua mungkin mereka tidak akan percaya kalau sebenarnya Nayla adalah anak tiri Sinta.


Nayla masuk ke kelasnya begitu Sinta pergi,dan semua mata sekarang memandang kearah Nayla dengan pandangan yang berbeda-beda.


"Itu mama kamu Nayla?" tanya Luna teman sebangkunya,Nayla hanya mengangguk mengiyakan.


"Mama kamu sangat cantik Nayla dan tampak masih sangat muda," puji Tuti,gadis kecil yang duduk di depan mereka. Nayla hanya tersenyum saja mendengar pujian temannya.


Dira tampak tidak suka mendengar kata-kata yang diucapkan temannya,dia terus memandang Nayla dengan tatapan sinis penuh kebencian.


Tak lama kemudian bel tanda masuk dibunyikan,mereka sudah duduk dengan rapi dan menunggu guru yang akan mengisi jam pelajaran pertama hari itu. Namun yang datang bukanlah guru yang mereka tunggu,melainkan pak Jacky kepala sekolah. Ada gerangan apa sehingga beliau datang ke kelas mereka? Mereka terlihat sedikit takut,suasana menjadi tegang saat itu karena pak Jacky dikenal sebagai orang yang sangat tegas di sekolah mereka,kepala sekolah mereka adalah orang yang tidak pandang bulu,tidak memilih kasih,mau miskin atau kaya semua sama saja,jika melakukan kesalahan pasti akan dihukum.


"Ehem..." pak Jacky berdehem,matanya memandang lekat wajah Nayla. Nayla tidak terlihat gugup sama sekali,dia duduk dengan tenang di bangkunya. Sedangkan yang lain mulai penasaran,mereka mulai berpikir kalau Nayla mungkin sudah melakukan kesalahan.


"Pasti sangat sakit." Ucap pak Jacky sambil menyentuh dahi Nayla.


"Sudah tidak terlalu sakit lagi kok pak,semalam sudah di obatin sama bunda." Jawab Nayla dengan lembut dan sopan.


"Dira,ke sini kamu!" panggil lelaki itu menyuruh anaknya untuk segera bangun dari bangkunya. Mendengar nada bicara papanya yang tidak selembut biasanya membuat Dira ketakutan. "Mamanya Nayla pasti sudah mengadukan hal ini pada papa," ucapnya dalam hati.


"A-ada apa,pa?" tanya Dira gugup.


"Ada apa... Ada apa,jangan pura-pura tidak tahu! Kamu kan yang sudah menyebabkan Nayla seperti ini? Sekarang kamu minta maaf sama dia!" suruh lelaki itu,suasana hening seketika,semua murid terdiam tidak ada yang berani mengeluarkan suara.

__ADS_1


Dengan hati kesal Dira akhirnya meminta maaf juga sama Nayla,dia tidak tahu kalau papanya itu bersikap sangat tegas di sekolah,karena di rumah Dira selalu melihat sifat papanya yang penuh kelembutan dan sangat memanjakannya,jadi ternyata begini sifat papanya kalau berada di sekolah.


"Aku minta maaf ya Nay,aku janji tidak akan menganggu kamu lagi." Ucap Dira,wajahnya terlihat sedih,tapi tidak tahu sedih karena apa.


"Aku tidak marah sama kamu,sekarang kita temenan kan?" tanya Nayla berharap.


"Iya!" jawab Dira,dia terlihat terpaksa mengiyakannya.


"Jangan marah sama aku Ra,kita satu kelas kalau kamu marah hanya karena aku bisa menjawab banyak pertanyaan dari guru,aku rasa itu bukan alasan yang tepat. Aku hanya ingin kita berteman dengan begitu kita bisa belajar sama-sama," ucap Nayla,perkataannya yang begitu bijak membuat pak Jacky kagum,Nayla memiliki pikiran seperti orang dewasa.


"Kamu sangat pintar nak,bu Sinta benar-benar beruntung karena memiliki anak seperti kamu." Puji pak Jacky bangga.


Dira sepertinya juga baru sadar akan kesalahannya,dia langsung memeluk Nayla untuk meminta maaf sekali lagi,dan kali ini gadis itu tulus melakukannya.


\*\*\*\*


"Tumben ada kak David sama kak Tina,apa mama nggak bakalan marah nanti kalau tahu kalian di jemput sama bunda?" tanya Nayla khawatir.


"Tidak dong,bunda kan sudah bilang sama mama tadi." Yang dijawab Sinta. Kali ini Sinta juga membawa Rio bersamanya.


"Jadi sekarang kita akan kemana,bu?" tanya pak Anton sopir pribadinya Sinta.


"Kita ke mall saja dulu pak,saya mau beliin baju buat mereka," jawab Sinta.


"Kita mau kemana bunda?" tanya Tina.


"Bunda juga nggak tahu mau kemana,pengennya sih jalan-jalan tapi nggak tahu tempat yang bagus," jawab Sinta seraya menoleh kebelakang menatap ketiga anak di belakangnya.


"Bagaimana kalau ke pantai aja!?" usul Tina.

__ADS_1


"Yach... kepantai lagi,kamu pasti mau makan di sana kan?" tebak David.


"Iya benar sekali,soalnya makanan di sana enak-enak semua lho bun,kita ke pantai itu aja ya," ajak Tina.


"Semua terserah kalian,hari ini kemanapun kalian ajak,bunda ngikut aja deh," perkataan Sinta membuat mereka semakin semangat.


\*\*\*\*


Mereka sekarang sudah mengganti seragam sekolahnya,dan kembali masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan,tidak butuh waktu lama untuk sampai di pantai jingga tempat yang dikatakan Tina tadi. Dari mall tempat mereka membeli pakaian hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja sudah sampai.


"Sampai juga akhirnya!" ucap Tina sambil tersenyum,dia saat itu sudah membayangkan makanan lezat yang sudah di idam-idamkannya seminggu yang lalu,padahal dia juga sudah mengajak mama dan papanya ke sana,tapi mereka belum punya waktu untuk memenuhi keinginannya.


Sinta sudah berjalan duluan untuk memilih tempat duduk yang mengarah ke pantai,sedangkan Tina,David dan Nayla mereka masih berdiri di luar,mereka sedang memperhatikan seorang lelaki dan seorang wanita yang seumuran dengan mamanya.


"Mungkinkah itu mama?" Tina bertanya,meski dia sendiri sudah yakin kalau wanita yang sekarang mereka lihat bukan lah mamanya.


"Lalu papa dengan siapa?" David juga semakin penasaran,ketiga anak itu saling pandang dan kemudian sama-sama berkata. "Selingkuhan!"


Pak Arman terlihat sangat mesra dengan wanita itu,mereka berpegangan tangan dan berjalan menyusuri tepian pantai,tidak tahu kalau dia sedang diperhatikan oleh anak-anaknya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tina panik.


"Yang pasti kita tidak boleh membiarkan bunda tahu soal ini," ujar David.


"Iya,kita harus merahasiakannya,begitu pula dengan mama. Mama juga tidak boleh tahu hal ini," tambah Nayla.


"Tapi,sekarang kita berada di tempat yang sama,bagaimana kalau sebentar lagi papa ikutan masuk untuk memesan makanan dan bertemu dengan kita?" ucap Tina masih khawatir,dia tidak ingin keluarganya hancur berantakan karena ulah papanya.


"Tina,David,Nayla... Kalian kenapa masih disini?" tanya Sinta,kehadirannya yang tiba-tiba itu membuat mereka semakin panik.

__ADS_1


__ADS_2