Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Mencurigai Orang Yang Salah


__ADS_3

"Entah apa yang sedang mereka bicarakan di dalam." Ucap Tina sambil mengupas kulit jeruk di tangannya.


"Pastinya masalah tante Prilly dan papa kalian," jawab Alif seadanya.


"Ah,jangan terlalu dipikirkan,itu bukan urusan kita." David mencoba menghentikan pembicaraan kedua orang itu yang menurutnya tidak penting.


"Eh,ngomong-ngomong kak David sama kak Tina tidur di sini ya?" tanya Alif penasaran.


"Iya dong," mereka menjawab kompak.


"Kalau begitu bagaimana kalau besok kita berbuka bersama?" usul Alif penuh semangat.


"Enggak ah,jangan besok," tolak David.


"Ya sudah,minggu depan aja bagaimana?" usul Nayla.


"Nah kalau itu aku setuju." Ucap David bersemangat,di ikutin anggukan kepala oleh Tina.


\*\*\*


DI KEDIAMAN PAK ARMAN


Bu Amel terus berjalan mondar mandir,pikirannya benar-benar kacau begitu juga dengan pak Arman.


"Pa,sekarang semua orang di kantorku pasti sudah melihat berita ini." Ucap bu Amel wajahnya terlihat cemas.


"Bukan cuma mama,papa juga begitu," pak Arman terus memperhatikan pesan yang tersebar di group karyawan kantornya.


"Kira-kira siapa yang melakukan semua ini?" gumam bu Amel,mencoba berpikir tapi dia tidak punya orang yang dapat di curigainya,dia tidak punya musuh. Namun tiba-tiba bu Amel menatap suaminya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Kenapa mama menatap papa seperti itu?" tanya pak Arman saat melihat tatapan aneh istrinya.


"Mungkinkah Prilly yang melakukan semua ini?" ujarnya kemudian.

__ADS_1


"Mana mungkin,dia tidak akan melakukan hal seperti itu." Pak Arman menyangkal,lelaki itu mencoba membela wanita yang menjadi selingkuhannya.


"Tidak mungkin,tidak mungkin papa bilang? Kita bahkan tidak tahu wanita seperti apa dia." Bu Amel mulai emosi.


"Kamu jangan membawa-bawa Prilly dalam masalah ini,dia tidak ada hubungannya.


"Lalu menurut papa siapa?"


"Sinta," jawabnya,lelaki itu mulai mencurigai istri keduanya.


Bu Amel tidak habis pikir dengan pikiran suaminya. "Sepertinya papa benar-benar sudah di cuci otak oleh wanita ular itu!" cibir istrinya,dia tidak setuju dengan suaminya yang sembarangan menuduh Sinta.


"Aku berkata benar,karena tadi siang..." pak Arman langsung diam,dia tidak jadi melanjutkan omongannya,kalau menceritakan apa yang dikatakan Sinta tentu saja akan membuat bu Amel tahu kalau tadi siang dia kembali bertemu dengan Prilly.


"Tadi siang apa?" tanya istrinya penasaran.


"Tidak ada apa-apa," jawab pak Arman.


"Papa pasti menyembunyikan sesuatu," batin bu Amel,dia tidak berniat melanjutkan lagi pertanyaannya,dia ingin langsung bertemu Sinta dan menanyakan apa yang sudah terjadi tadi siang.


"Iya,mereka bilang ingin sahur di sana semalam," jawab bu Amel,hatinya masih menyimpan kecurigaan terhadap suaminya.


"Aku akan menjemput mereka,mereka tidak boleh tidur di sana." Pak Arman langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari kamarnya tanpa banyak bicara lagi,bu Amel membiarkan saja,wanita itu ingin melihat apa yang akan dilakukan suaminya.


\*\*\*\*\*


"David sama Tina di mana?" tanya pak Arman,matanya merah dan wajahnya terlihat sedang menahan emosi


"Mas kenapa datang tidak mengabari dulu,anak-anak sudah pada tidur," jawabnya,saat itu dia sedang memotong sayuran di dapur untuk di masak nanti sahur.


"Aku ingin mengajak mereka pulang," jawab pak Arman,tanpa melihat ke arah Sinta. Sinta tidak tahu setan apa yang sedang merasuki suaminya kali ini.


"Kamu masih marah soal tadi siang?" tanya Sinta lagi.

__ADS_1


"Kamu benar-benar licik,aku kira kamu wanita yang baik ternyata bukan," ucap pak Arman mulai memandang rendah istrinya.


"Apanya yang licik? Mas marah karena aku mengatakan hal seperti itu kepada mbak Prilly? Mas membela dia silahkan! Tapi jangan pernah menyalahkan aku,memang kesalahan apa yang sudah aku buat?"


"Masih berpura-pura tidak tahu? Kamu kan yang sudah menyebarkan gosip tentang aku dan Amel yang memiliki anak cacat?" ucap lelaki itu kasar,suaranya bahkan menggelegar memenuhi dapur,dan bisa saja Nayla mendengarnya. Benar saja Nayla yang saat itu masih belum tidur dapat mendengar suara keras papanya,hingga dia pun keluar dari kamarnya,setelah dia memastikan kalau Tina sudah tidur dengan pulas.


"Tolong kecilin sedikit volume suara mas,kalau anak-anak dengar mereka bisa bangun nantinya," suruh Sinta.


"Aku tidak peduli! Biarkan mereka bangun dan mengetahui sifat asli ibu tirinya." Pak Arman masih terus menyalahkan Sinta,dia sangat yakin kalau Sinta lah yang telah mengatakan pada karyawan dikantornya tentang Nayla.


"Aku sudah bilang aku tidak melakukannya,kenapa mas tidak pergi dan tanyakan sendiri masalah ini sama mbak Prilly,bisa jadi wanita racun itu yang telah melakukan semua ini!" Sinta tidak mau disalahkan,karena memang dia tidak melakukannya.


"Ternyata Nayla benar-benar membawa pengaruh buruk dalam kehidupanku,kalau tahu begini sudah aku bunuh dia sejak lahir." Ucap pak Arman penuh kebencian.


Plak! satu tamparan keras mendarat dipipinya. Kali ini Sinta sudah tidak bisa menahan emosinya,dia bahkan berani menampar suaminya,pak Arman menatapnya tidak percaya.


"Kamu menampar aku hanya karena anak sialan itu?"


Plak.!! satu tamparan lagi,Sinta tidak perduli lagi kalau setelah ini dia akan mendapat bogem mentah dari suaminya.


"Jangan menghina dia didepanku,meski bukan darah daging aku,tapi aku menyayanginya lebih dari pada mas dan mbak Amel!" Sinta setengah berteriak saat mengatakannya.


Nayla saat itu berada di belakang dinding yang menjadi pembatas antara ruang makan dan dapur,terus melihat pertengkaran orang tuanya,dia mulai berpikir bahwa dimana pun dia berada dia selalu membawa masalah,dan sekarang dia sudah membuat rumah tangga bunda dan papanya kacau.


"Sepertinya kamu memang sangat menyayangi dia,mungkin saat ini kamu masih bisa membela diri,karena aku tidak punya bukti. Tapi lihat saja nanti,aku akan secepatnya membuktikan bahwa memang kamu yang sudah melakukan semua ini,kamu ingin mempermalukan aku,karena aku sudah berselingkuh." Ucap pak Arman,lelaki itu langsung pergi,dari sorot matanya jelas dia kecewa,sedih dan hatinya juga hancur,Sinta dapat melihat semuanya dengan jelas.


Setelah kepergian suaminya dia menangis sembari terduduk lemas di lantai,air matanya mengalir deras,dia menggigit kuat bibirnya,berusaha supaya suara tangisnya tidak terdengar,jangan sampai membangunkan anak-anak.


Nayla masih di sana melihat Sinta yang menangis seorang diri,dia tidak berani keluar,karena kalau dia keluar dari sana dan pergi menenangkan bundanya,Sinta akan lebih sedih lagi,sebab Nayla tahu penyebab mereka bertengkar adalah dirinya.


Nayla memutar badannya melangkah pelan-pelan dengan hati-hati biar tidak menimbulkan suara tongkatnya,dia kembali masuk kekamarnya,melihat sang kakak masih tertidur dengan pulas,Nayla baru bisa menghela nafas lega. Gadis itu mulai kebingungan,sekarang semuanya jadi lebih jelas seharusnya dia tidak tinggal dirumah bundanya,wanita itu terlalu baik Nayla sangat menyayanginya,tidak pantas Sinta menanggung derita untuk dirinya,Nayla kecil mulai berpikir untuk pergi secara diam-diam dari rumah itu,tapi dia akan mencari waktu yang tepat.


"Tidak boleh seperti ini,bunda sangat mencintai papa,papa juga begitu bahkan meski bunda sudah menampar wajah papa dua kali,papa tidak membalasnya sekalipun," batin Nayla,matanya berkaca-kaca,tapi dia tidak boleh menangis,meski masih kecil tapi Nayla sudah bisa berpikir dewasa. Sinta sudah sangat baik terhadap dirinya,dia tidak boleh membuat rumah tangga Sinta hancur.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2