
Sekarang semua orang sudah mengambil posisi duduknya di kursi meja makan,sambil menunggu waktunya berbuka mereka mengobrol. "Wah,ada rendang,kesukaan bunda bangat ni!" celetuk Sinta.
"Jadi ngiler nengoknya ya kak,sabar dulu masih belum waktunya untuk berbuka." Ucap Ayu.
"Coba tebak siapa yang buatin ini?" ucap bu Lastri.
"Ibu lah,siapa lagi memangnya? Kalau Ayu mah,cuma tahu makannya doang,kalau masak dia mana bisa," ledek Sinta. Ayu jadi cemberut dibuatnya.
"Salah,Nayla yang buatin rendang itu." Ucap Nayla,membuat Sinta hampir tidak percaya.
" Masa sih?" Sinta tidak yakin.
"Benar kak,memang Nayla yang buatin," tambah Ayu membenarkan.
"Kalau bohong nanti pahala puasanya batal loh!" Sinta masih tidak yakin,dia berpikir mana mungkin Nayla bisa membuat masakan seperti itu,dia kan masih kecil.
"Nggak percaya ya sudah," ucap Nayla,pura-pura kecewa.
Sinta kemudian mengalihkan pandangannya kearah Rio yang sejak tadi asik menyusun potongan puzzle.
"Rio sayang,kamu tahu nggak siapa yang bikin rendang ini untuk bunda?" tanya Sinta dia sih sebenarnya cuma iseng doang,nggak ada niat seriusan,tapi siapa yang sangka Rio malah menjawabnya. "Kakak,kak Nay-la buat untuk bunda," jawabnya lancar.
"Wah semakin pintar aja anak bunda bicaranya ya," kini Sinta baru percaya,kalau memang Nayla yang sudah membuat masak rendang itu untuk dirinya.
"Alhamdulillah..." ucap Ayu penuh semangat saat mendengar adzan berkumandang,dia segera meminum air di depannya. Mereka semua terperangah melihat sikapnya itu,kayak orang yang sudah tiga hari tidak makan.
"Kak Ayu kenapa buru-buru gitu,bukankah kak Ayu juga tidak puasa?" ungkap Nayla,membuat Sinta dan ibunya terkejut.
"Jadi kamu nggak puasa?" tanya Sinta menatapnya tajam.
"Eh,nggak... Nggak gitu,mbak sama ibu jangan salah paham dulu," ucapnya gelagapan,matanya melotot kesal ke arah Nayla yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Terus kamu mau bilang kalau Nayla bohong gitu?" ucap bu Lastri.
__ADS_1
"Tadi aku lihat kak Ayu mengambil air yang ada di kulkas," ungkap Nayla dengan wajah polosnya yang melihat ke arah Ayu tanpa rasa bersalah karena sudah membuatnya kesal.
"Ah,Nayla ngapain ngomong sih kalau kakak nggak puasa? Kan tadi sudah kak Ayu bilang lagi datang bulan," ucap Ayu memberi alasan supaya mereka tidak salah paham.
"Ooo..." mereka baru tahu sekarang,jadi tidak mempermasalahkan hal itu lagi.
"Enak juga rendangnya,pintar Nayla membuatnya." Puji Sinta.
"Nggak cuma Nayla bun,tapi dibantu sama ibu dan kakak juga," Nayla buru-buru membetulkan ucapan Sinta,yang menurutnya sedikit kurang tepat.
\*\*\*\*
Saat pulang tarawih David dan Tina juga Alif terus ngobrol di sepanjang jalan,mereka berjalan dengan begitu santainya,tidak memperhatikan bahwa ada seseorang yang berjalan di belakang mereka dan sepertinya memang sengaja ingin mendengar pembicaraan mereka bertiga.
"Jadi kak Tina berniat untuk ikut campur dalam masalah ini?" tanya Alif.
"Kalau kita nggak ikut campur terus siapa yang bisa nolongin papa?" tanya Tina.
"Aku rasa ini terlalu berbahaya Tin,biarkan saja papa yang menyelesaikannya sendiri." Ucap David,mulai tidak setuju dengan idenya Tina.
tambah Alif ikut bersuara.
"Kapan kita berbuka puasa di rumah tante Sinta?" tanya Alif kemudian,dia merubah topik pembicaraan yang membuat David dan Tina merasa aneh.
"Kita cari waktu yang tepat dulu deh," jawab Tina.
"Kak,coba kejar aku!" suruh Alif dia segera berlari secepat mungkin diiringi dengan tawanya,mereka masih tidak tahu kenapa Alif bersikap seperti itu.
"Lif,berhenti dulu.!" Tina dengan nafas ngos-ngosannya menarik lengan Alif,agar dia tidak bisa berlari lagi.
"Nih mukena kamu! Pegang sendiri!" David memberikan kembali mukena Tina yang sedari tadi dipegangnya.
"Kamu ngapain sih ngajak lomba lari malam-malam?" tanya Tina setengah bergurau.
__ADS_1
"Kakak berdua nggak lihat ya ada bapak-bapak di belakang kita,dan gelagatnya itu sangat mencurigakan," ucap Alif setengah berbisik.
"Lihat kok,cuma bapak-bapak doang apa yang bisa dicurigakan?" Ucap Tina santai.
"Iya,kamu nggak boleh suudzan sama orang lain,apalagi dibulan ramadhan kayak gini," David mengingatkan.
"Aku bukannya suudzan kak,cuma waspada aja," jawab Alif membela diri.
"Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga sih,bapak itu ada di belakang kita dari pertama kita keluar masjid tadi,bukankah itu juga aneh?" Tina mulai sepemikiran dengan Alif.
"Aduh,kok Alif jadi merinding ya?"
"Kabur!" seru Tina,dia langsung mengambil langkah seribu berlari secepat mungkin,supaya bisa cepat tiba di rumahnya. David juga ikut berlari sedangkan Alif masih berjalan santai karena dia sudah hampir sampai di rumahnya,tinggal melewati rumah pak Johan dan pak Rt.
\*\*\*\*
DI RUMAH PRILLY
"Kamu yang sudah meninggalkan aku hari itu,mas sudah lupa?" Prilly masih bersikap dingin terhadap suaminya.
"Prilly,aku minta maaf,aku janji nggak bakal mengulangi lagi hal yang sama,aku yang salah," lelaki itu terus memohon kepada istrinya,dia bahkan sampai berlutut di hadapan Prilly.
"Aku kecewa sama kamu mas," kini suaranya terdengar lebih lunak.
"Kita mulai semuanya dari awal,aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi,aku janji!" dari matanya dia terlihat bersungguh-sungguh.
Sudah berkali-kali Alvin menemui Prilly,ingin mengajaknya untuk kembali hidup bersama,karena mereka itu sebenarnya masih memiliki hubungan suami istri,hanya karena kesalahpahaman di masa lalu membuat Alvin mengusir Prilly dari rumahnya.
"Kalau kita kembali lagi seperti dulu,apa kamu bisa menghidupkan kembali anak aku?" tanya Prilly,wanita itu mulai terisak. Bertahun sudah berlalu tapi dia masih belum bisa merelakan kematian anaknya,karena menurutnya itu semua terjadi karena kesalahan pak Arman yang tidak mau bertanggung jawab,kalau saja pak Arman hari itu tidak kabur dan mau membawa anaknya ke rumah sakit,mungkin saja nyawa anaknya masih bisa tertolong,itulah yang terus dipikirkan oleh Prilly.
"Ikhlaskan anak kita Prilly,semua sudah Allah takdirkan,kehidupan dia memang hanya sampai disitu,tapi aku akan berusaha membuat pelakunya berakhir dipenjara,aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun,meski tidak memiliki bukti tapi aku bisa menggunakan cara lain." Alvin meyakinkan sang istri,mencoba mengembalikan semangat Prilly.
"Aku sudah mencobanya mas,aku sudah berusaha mendekati dia bahkan sampai sekarang aku tidak mendapatkan apa-apa,selain rasa sakit yang semakin dalam," ungkap Prilly. Alvin membawa Prilly dalam pelukannya,memberi kehangatan kepada wanita yang masih sangat dicintainya itu,bagaimanapun dia juga ikut bersalah dalam hal ini,coba saja waktu itu dia mau mendengarkan penjelasan dari istrinya bahwa Aril hanya sepupu Prilly bukan selingkuhan,pasti semuanya tidak akan terjadi dan sekarang dia hanya bisa menyesalinya,karena sifat egoisnya itulah dia kehilangan buah hatinya.
__ADS_1
🌹 🌹 🌹