Ramadhan Terakhir Untuk Nayla

Ramadhan Terakhir Untuk Nayla
Mimpi


__ADS_3

"Kamu!" ucap bu Amel,wajahnya terlihat tegang seketika saat melihat Nayla kini sudah berdiri di depan mereka,begitu pula dengan suaminya. Bahkan pak Arman berharap kalau saat ini dirinya sedang bermimpi,bagaimana bisa Nayla kembali ke rumah mereka.


"Iya,mama pasti kaget karena melihat Nayla bisa kembali lagi ke rumah ini,iya kan?" ucap David marah,dia marah kepada mamanya karena sudah tega membuang anaknya sendiri di jalanan.


"Tadi ada mbak-mbak baik hati yang nganterin dia ke sini," ujar Tina memberitahu.


Mereka kemudian meninggalkan mama dan papanya yang hanya bisa bengong saja melihat Nayla bisa kembali lagi dengan mudah ke rumahnya.


"Pa,aku sudah membawanya jauh dari rumah kita,bahkan aku juga sangat yakin kalau dia tidak akan tahu arah jalan pulang ke sini." Ungkap bu Amel.


"Papa pusing ma,sepertinya papa harus tidur dulu." Ucap pak Arman mengakhiri obrolannya dengan sang istri,dan dia berjalan menuju kamarnya dalam keadaan masih seperti orang linglung,baginya sangat aneh karena Nayla bisa tiba-tiba tahu alamat rumahnya,padahal anak itu tidak pernah sekali pun keluar dari rumah dan pergi jalan-jalan keluar sejauh itu.


"Kami sangat khawatir kamu tidak akan bisa kembali lagi ke sini Nay," ucap Tina sambil terus menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya.


"Alhamdulillah kak,tadi aku ketemu sama kakak-kakak yang baik hati." Jawab Nayla senang.


"Lain kali kamu jangan percaya lagi sama omongan mama ya,kalau mama ngajak kamu pergi ke suatu tempat pokoknya kamu jangan mau! Kamu ngerti kan?" ucap David mengingatkan.


"Kamu jangan buat kita khawatir lagi," Tina memeluk adiknya dengan erat,dia sangat menyayangi Nayla sekarang dan dia tidak ingin siapa pun berbuat jahat terhadap adiknya itu,termasuk mamanya sendiri.


"Iya,Nayla akan lebih berhati-hati lagi." Nayla ikut memeluk kakaknya,mereka bertiga berpelukan sambil menangis,suasana menjadi haru. Sepertinya sekarang sangat sulit bagi pak Arman dan bu Amel untuk memisahkan Nayla dari kedua kakaknya itu.


\*\*\*\*\*\*


"Bu,ibu tolong izinin Amel buat kuliah di kota ya?" pinta gadis itu terus membujuk ibunya.


"Terus kamu mau ninggalin ibu sendirian di sini Mel?" tanya sang ibu.


"Amel ingin mengejar cita-cita Amel bu,Amel ingin sukses. Nanti kalau sedang libur Amel juga bakal balik ke sini lagi,boleh ya bu!?" rengek Amel meminta persetujuan dari ibunya.


"Ya sudah kalau kamu maunya begitu." Ucap si ibu,akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan menuruti kemauan anaknya.

__ADS_1


"Kalau sudah tiba di sana kamu harus pandai-pandai jaga diri ya,ingat! Jangan tinggalkan shalat lima waktu," sambung ibunya mengingatkan,Amel hanya mengangguk dan tersenyum kemudian memeluk ibunya,dia sangat senang karena akhirnya mendapat izin dari ibunya untuk melanjutkan kuliah di kota.


Padahal saat itu ibunya tidak yakin dengan keputusan sang anak,ketika masih di kampung anaknya itu adalah wanita baik hati dan muslimah tidak pernah sekalipun menampakkan auratnya,tapi setelah sampai di kota besar,Amel berubah,dia tidak memakai lagi jilbabnya dan bahkan tidak lagi melaksanakan shalat lima waktu,dia juga mulai melupakan ibunya,Amel hanya menghubungi ibunya ketika dia membutuhkan uang saja.


"Amel...!" panggil ibunya.


"Ibu!" Amel terkejut melihat ibu yang sekarang sudah berada di sampingnya.


"Lama kamu tidak menjenguk ibu,nak." Ucap wanita itu dengan wajah sedih. Amel terdiam dia masih tidak percaya akan apa yang di lihatnya sekarang.


"Ibu,aku tidak melupakan ibu,aku hanya tidak---


"Kamu memang sudah melupakan ibu nak,kamu juga sudah menelantarkan anakmu,kamu tidak seperti Amel yang dulu,kamu seperti bukan anak yang ibu lahirkan." Ucap wanita itu tanpa menunggu Amel menyelesaikan ucapannya,sosoknya pun kemudian menghilang.


"Bu,ibu...!" panggilnya lagi,namun ibunya sudah pergi.


"Ma... bangun ma!" pak Arman mencoba membangunkan istrinya itu,saat mendengar bu Amel berteriak memanggil ibunya.


"Oh,syukurlah ternyata cuma mimpi." Ucap istrinya sambil melihat kiri kanannya karena tadi itu seperti sangat nyata.


"Hanya mimpi ibu pa,tapi rasanya nyata banget." Ucap bu Amel sambil tangannya meraih gelas air yang ada di atas meja di dekat ranjangnya,dia langsung meminum air itu sampai habis tidak tersisa sedikitpun,kerongkongannya terasa sangat kering.


"Cuma mimpi doang,nggak usah terlalu dipikirin. Ayo kita tidur lagi!" ajak pak Arman,lelaki itu kembali memejamkan matanya.


Bu Amel tidak langsung tidur,wanita itu melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari,perasaannya masih tidak tenang karena tidak biasanya dia memimpikan ibunya.


\*\*\*\*\*\*


Nayla masih tidak berani keluar dari kamarnya,apalagi sekarang David dan Tina sudah pergi ke sekolah,kalau nanti mamanya marah-marah dan melakukan hal buruk terhadapnya siapa yang akan membantunya,dia tidak akan mampu menghadapi mamanya itu.


Sendirian di kamar juga membuat dia sangat bosan,akhirnya Nayla keluar juga dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada anak kecil yang sedang merangkak dan mendekati vas bunga,anak itu bangun dan berusaha meraih vas bunga yang ada di atas meja ruang tengah. Melihat hal itu,Nayla buru-buru datang dan segera memindahkan vas bunga tersebut ketempat lain,hal itu tentu saja membuat si anak menangis.

__ADS_1


"Cup... cup,jangan nangis dong!" ucap Nayla,dia berusaha membuat anak itu diam.


"Huaaa..." bukan berhenti,tapi tangisannya malah semakin kuat hingga kemudian bu Amel dan Sinta datang.


"Kamu lagi,kamu apakan Rio hah?" bentak bu Amel marah.


"Bukan salah Nayla ma,tadi adeknya mau ambil vas bunga ini,jadi nayla pindahin biar nggak jatuh,nanti bisa melukai dia juga." Jawab Nayla jujur.


"Sudah mbak,nggak apa-apa. Rio juga sudah diam,lagian ini bukan salah dia kan,coba aja kalau nggak ada dia mungkin sudah terjadi sesuatu sama Rio." Ucap Sinta membela.


"Kamu sukanya bikin orang naik darah aja," ucap bu Amel di ikuti dengan tangannya yang menoyor jidatnya Nayla,kemudian wanita itu kembali ke dapur. Sinta melihatnya dengan pandangan aneh saat itu.


"Makasih ya Nayla sudah menjaga Rio tadi." Ucap Sinta lembut,sambil membelai kepala anak itu.


"Iya sama-sama tante," jawab Nayla tersenyum.


"Kamu tidak sekolah?" tanya Sinta,dia heran melihat Nayla ada di rumah seharusnya dia itu sudah sekolah.


"Nayla nggak punya biayanya tante,Nayla keluar dulu ya!" pamit Nayla,dia segera keluar dari rumah itu tanpa menunggu jawaban dari Sinta yang hanya bisa bengong saja mendengar jawaban Nayla.


"Nggak punya biaya? Apanya yang nggak punya biaya,mas Arman dan istrinya kan kaya," batin Sinta,dia sudah tahu kalau Nayla itu anak mereka,sebab pak Arman sudah menceritakan semuanya sama dia.


"Sinta...!" panggil bu Amel yang saat itu sedang berada di dapur.


"Iya mbak sebentar!" jawabnya setengah berseru,dia kemudian melangkah menuju dapur dan membawa Rio di gendongannya.


"Lama banget,kamu ngapain di sana?" tanya bu Amel tanpa mengalihkan pandangannya dari wortel yang sedang dipotong-potongnya.


"Tidak ngapa-ngapain,oh iya mbak kenapa Nayla nggak sekolah?" tanya Sinta,dan pertanyaannya itu membuat bu Amel menghentikan aktivitasnya.


"Kamu mau aku menyekolahkan dia,itu sama aja mempermalukan diri sendiri mau di bawa kemana muka aku Sin,kalau ada yang tahu aku ini mempunyai anak cacat seperti dia!" cicit bu Amel sedikit emosi.

__ADS_1


"Lebih baik aku diam saja tidak perlu memancing emosinya mbak Amel,karena percuma saja aku ingatin,dia memang tidak bisa menerima keadaan anaknya itu," batin Sinta dia jadi merasa kasihan dengan Nayla.


\*\*\*\*\*


__ADS_2