
"Terserah. Sudah ya, sebentar lagi bel masuk, kami ke kelas dulu dan terima kasih atas bantuanmu hari ini, dah …!"
Nanda berpamitan pada Arya dan kemudian berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai dua sambil melambaikan tangan dan menarik lengan Bella lagi.
Arya tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa membalas lambaian tangan tersebut dan berjalan ke dalam gedung sekolah, menuju kelasnya yang berada di lantai tiga.
*****
Jam demi jam pelajaran telah berlalu dan bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa, Rian pergi ke atap gedung sekolah untuk menyantap roti yang dibelinya di kantin.
Tetapi, sesampainya di sana, dia sedikit dikejutkan dengan kehadiran Bella yang tengah asyik menikmati pemandangan kota di dekat pagar pembatas atap gedung.
"Tak biasanya kau di sini, ada apa?" sapa Rian sambil berjalan dan duduk di kursi panjang di sana yang biasa dia duduki.
"Ee … tidak ada apa-apa, aku hanya sedang menikmati pemandangan dari sini saja," jawabnya sambil kembali menikmati pemandangan dari balik pagar kawat di depannya.
"Aku sangat suka menikmati pemandangan dari tempat yang tinggi. Tapi, entah sudah berapa lama … aku tidak pernah melakukan hal ini lagi," sambungnya.
Rian merasa ada yang aneh dengan sikap Bella. Dia kemudian melirik ke arah Bella di sela-selanya makan, mencoba mencari tahu keanehan tersebut.
Bella menoleh ke arah Rian yang meliriknya sambil mengunyah roti yang berada dalam mulutnya. "Oh ya, kau temannya Arya, kan? Kau sangat tertutup, meski sejak awal aku masuk SMA kita sudah sering bertemu, tapi aku masih belum mengetahui apa-apa tentangmu."
Rian menghentikan makannya sesaat, pandangannya menatap mata Bella sejenak tanpa berkedip. Tetapi sesaat kemudian Rian menoleh ke arah roti yang dia makan.
"Maaf, namaku Rian, Rian Kamajaya. Kau juga terlihat tertutup," jawab Rian yang kemudian disambung dengan makannya lagi.
Bella sama sekali tidak terkejut dengan perkenalan yang singkat itu, mengingat sikap seperti itulah yang sering ditunjukkannya. Dia berjalan mendekati Rian yang masih memakan rotinya dan kemudian duduk di sampingnya.
"Kau mau?" tawar Rian menawarkan rotinya pada Bella.
"Ti-tidak,"
"Kalau tidak mau tidak apa-apa, aku makan saja sendiri,"
"Ee … Rian, apa kau dekat dengan Arya?" tanya Bella dengan sedikit takut.
__ADS_1
"Iya,"
"Kalau begitu bagaimana caranya agar bisa akrab dengannya?"
"Entahlah, kami sudah lama berteman, tapi aku tidak pernah tahu apa yang membuat kami dekat,"
"Begitu ya. Di antara kalian berdua, siapa yang lebih kuat?"
Rian sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut dan menoleh cepat ke arah Bella.
"Apa maksudmu?"
"Ma-maaf. Maksudku … jika kalian bersama kalian itu sekuat apa? Apa berita tentang kalian berdua yang mengalahkan satu geng motor setahun yang lalu itu benar?"
Rian memandangi Bella sesaat, lalu menjawab sambil bersiap pergi dari atap gedung, "Sepertinya kau tertarik dengan berita itu, tapi maaf aku dan Arya tak mau membahas berita itu lagi,"
"Ka-kalau begitu sekali lagi maaf. Tapi … apa kalian selalu pulang sekolah bersama-sama?"
Langkah Rian yang sudah berada di depan tangga turun berhenti dan melirik tajam ke arah Bella yang berada di belakang.
"Jujur saja, aku merasa jengkel dengan pertanyaan yang kau ajukan itu. Ada apa denganmu? Kenapa kau ingin sekali mengetahui tentang aku dan Arya?"
Rian yang mendengar kata 'maaf' lagi dari mulut Bella merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk segera melanjutkan langkahnya menuruni tangga, sedangkan Bella memandangi Rian hingga dirinya menghilang dari pandangannya.
"Haa … padahal tadi kesempatanku, tapi aku membuatnya menjadi terbuang percuma. Kalau begini … bagaimana caranya agar aku dapat perlindungan dari mereka?" gumam Bella pasrah dengan apa yang terjadi.
*****
Hari berganti menjadi malam dan sekarang jam menunjukkan pukul delapan malam. Setelah makan malam, Wulan, Romi, dan Rena membereskan dapur dan meja makan bersama-sama, sedangkan Arya sendiri langsung kembali ke kamarnya.
Setelah sekian lama melakukannya sendiri, akhirnya Romi dibantu lagi oleh Wulan dan dengan ditambah oleh Rena yang juga ikut membantu. Di sela-sela membersihkan dapur, Rena memberanikan diri untuk bertanya kepada Wulan.
"Kak! Apa Kak Nanda itu benar-benar jago bela diri?"
"Nanda yang mana? Apa maksudmu Nanda Amara?" tanya Wulan balik yang merasa tidak yakin dengan Nanda mana yang dimaksud.
__ADS_1
"Iya, Nanda yang itu,"
"Tentu saja, yang aku dengar ketika dia kelas satu SMA saja dia sudah menjuarai beberapa turnamen bela diri dan sekarang dia sudah membawa pulang juara dua lagi," jelas Romi mendahului Wulan.
Rena sedikit tertegun mendengar hal itu, dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang tampak tomboy dan agak preman sepertinya memiliki prestasi yang luar biasa di bidang bela diri.
"Hahaha! Tentu saja, sejak kecil dia memang sudah jago berkelahi. Meskipun lawannya selalu orang yang lebih tua darinya, tapi dia tetap bisa selalu menang melawannya," kata Wulan setelah tertawa lepas sesaat. "Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran saja, karena di sekolah ada banyak orang yang membicarakannya dan menyeganinnya,"
"Begitu ya? Ternyata cewek itu sudah jadi orang hebat, kira-kira … kapan Arya juga bisa seperti itu?" gumamnya sambil melamun.
*****
Angin malam berhembus membawa kesunyian bersamanya. Di sebuah taman yang gelap, seorang gadis duduk di sebuah bangku panjang sambil menangis tersedu-sedu dan hanya ditemani oleh sebuah lampu dari tiang di sampingnya yang meneranginya.
Rian yang sedang dalam perjalanan pulang setelah bekerja melihat gadis tersebut dari kejauhan. Awalnya Rian berniat melewatinya dan tidak mau memperdulikannya.
Tetapi semakin dia mendekat, Rian pun menyadari bahwa gadis yang sedang menangis tersebut adalah Bella. Karena itu, dengan berat hati dia pun memutuskan untuk menghampirinya dan mencoba menghiburnya sebisanya. Meskipun dalam hati kecilnya dirinya tidak mau ikut campur dalam masalah siapa pun.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Rian yang datang dari arah depan.
Bella yang menyadari kehadirannya segera menyeka air matanya dan membuang mukanya ke arah lain agar tidak dilihat oleh Rian.
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa," jawabnya bohong.
Rian tahu kalau Bella sekarang sedang berbohong, karena itu dia pun duduk di sampingnya sambil mencoba untuk menatap wajahnya beberapa kali.
Namun, Bella selalu saja menghindarinya. Sekaleng minuman diberikan Rian kepada Bella dan diletakkan ke bangku panjang di antara mereka berdua.
"Ini, minumlah agar kau merasa lebih baik,"
"Te-terima kasih,"
"Aku tidak akan bertanya dan tidak akan memintamu untuk bercerita. Tapi kau tidak perlu memendamnya seorang diri, jika kau merasa tidak sanggup, kau boleh menceritakannya padaku sampai kau merasa baikan."
__ADS_1
Seketika air matanya yang sudah susah payah dibendungnya sejak tadi pun seketika pecah begitu saja. Isak tangisnya membuat Rian merasa tak nyaman, tetapi Rian tetap pada posisinya, pada tujuannya, dan membiarkan Bella seperti itu untuk beberapa saat.
"Aku … hiks! Aku tidak tahu harus bagaimana … hiks! Aku rindu dengan kedua orang tuaku," ucapnya dengan air mata yang terus mengalir deras.