
"Memangnya kenapa? Sekarang aku sedang sibuk, jadi jangan menggangguku!"
"Kau benar-benar tidak berubah ya? Perlu kau tahu, tadi baru saja ada sekelompok orang berpakaian hitam masuk dan menyerang kami. Aku dan Nanda terluka, Rena diculik, dan sekarang Bella kabur dari kejaran mereka. Jika kau peduli dengannya maka carilah dia sebelum mereka menangkapnya!"
Tuuut .…
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Wulan. Kini, raut wajah Arya berubah menjadi pucat pasi. Victor yang melihat Arya yang seperti itu tersenyum senang.
"Jadi, apa sekarang kita bisa melanjutkan urusan kita lagi?" tanya Victor memastikan.
"Maaf, sekarang aku ada urusan mendadak, kita lanjutkan lain kali saja."
Arya kemudian berbalik dan melompat dengan memperkuat kedua kakinya menggunakan energi spirit ke satu gedung ke gedung lainnya dengan tergesa-gesa.
"Hei …!! Kau tidak bisa seenaknya pergi seperti ini …!" teriak Victor mencoba menghentikannya.
Tapi sayangnya Arya tak menggubris teriakannya dan terus melompati setiap gedung menembus gelapnya malam.
*****
Di bawah puluhan cahaya lampu yang menyinari sepanjang jalanan, seorang gadis berlari sekuat tenaga dengan air matanya yang bercucuran. Dia terus berlari dan berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang berada di sekitarnya yang memperhatikannya dengan keheranan.
Tak lama berselang, Rian muncul dari kejauhan. Rian melihat gadis tersebut yang tengah berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga seperti sedang dikejar setan.
Rian berdiri dan memperhatikan gadis tersebut selama beberapa saat. Setelah itu, dia pun mulai berlari ke arah gadis tersebut agar jarak yang memisahkan mereka segera menghilang.
Terkadang gadis itu sempat terjatuh saat berlari hingga berkali-kali karena kakinya yang sudah terasa letih dan sakit. Namun, dengan cepat dia bangkit kembali dan terus berlari ke arah Rian.
Jarak di antara keduanya semakin memendek dan untuk yang terakhir kalinya gadis itu pun terjatuh, tapi kali ini gadis itu berhasil ditangkap oleh Rian dalam pelukannya.
"Bella? Kenapa kau berlari sambil menangis? Apa yang terjadi?" tanya Rian cemas.
"Aku … aku … membuat mereka dalam bahaya …," ucap Bella dengan napas yang terengah-engah.
Tubuhnya bergetar ketakutan, kulit tangannya dingin, air matanya terus keluar tanpa suara membasahi kemeja Rian.
__ADS_1
"Aku … sudah membuat rencana mereka … berhasil …,"
"Sudah sudah, jangan diteruskan lagi," kata Rian mencoba menenangkannya.
Melihat keadaan Bella yang sekarang membuat Rian menjadi semakin cemas. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi dan segera menelepon Arya untuk meminta bantuan.
"Arya! Di mana kau?" tanya Rian begitu teleponnya tersambung.
"Maaf, aku sedang sibuk! Ada yang sedang menyerang rumahku. Wulan dan Nanda terluka, sedangkan Bella sedang dikejar, jadi tolong kau cari dan selamatkan dia," balas Arya dari balik telepon.
"Ee … sebenarnya sekarang aku sedang bersama dengan Bella, tapi kondisinya sekarang sedang tidak baik,"
"Untuk saat ini itu sudah cukup, aku akan segera ke sana sesegera mungkin setelah aku menyelamatkan Wulan dan Nanda, tolong jaga dia,"
"Serahkan saja padaku."
Arya menutup telepon dan kembali melompati gedung-gedung menuju rumahnya sambil berharap Wulan dan Nanda baik-baik saja.
"Sebenarnya mereka itu siapa? Apakah mereka Demon hunter? Kalau begitu siapa yang melaporkanku? Kumohon… jangan rebut keluargaku lagi!" harap Arya dengan sepenuh hati.
*****
Berbagai usaha telah dilakukannya, namun, tak ada yang berhasil. Bella tetap saja menangis tersedu-sedu sambil memegang erat kemejanya dan Rian pun terpaksa tetap terduduk di aspal bersamanya.
Tak lama kemudian, dari arah Bella muncul banyak cahaya terang yang mulai menyoroti mereka berdua. Rian mengarahkan pandangannya ke arah cahaya itu dan ternyata cahaya itu berasal dari puluhan kendaraan yang melaju mendekat.
Suara deru mesin kendaraan mobil dan motor terdengar dengan jelas di telinga. Puluhan mobil dan motor itu pun semakin mendekat dan akhirnya mengepung mereka berdua dari segala arah.
Rian memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan beberapa kali hingga semua kendaraan tersebut pun berhenti dengan mesin yang dimatikan dan menyisakan lampu pada kendaraan yang masih menyala.
Suasana hening pun terbentuk. Dari setiap jendela yang ada di gedung sekitar mereka, mulai muncul orang-orang yang menengok ke luar jendela karena penasaran dengan suara ribut yang baru saja mereka dengar.
Rian menatap satu per satu orang-orang yang berada dalam gedung tersebut dan kemudian mengarahkan pandangannya ke orang-orang berseragam hitam yang berada di atas motor dan yang berada dalam mobil.
Saking sibuknya Rian memperhatikan orang-orang yang berada sekitarnya, sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa ada seorang pria yang telah turun dari sebuah mobil hitam dan sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Pria tersebut terlihat sudah berumur sekitar 35 tahun, dia mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan kacamata hitam yang digantungkan di saku jasnya.
"Selamat malam, namaku Herman. Maafkan aku karena keponakanku yang satu ini telah menyusahkanmu," ucapnya dengan senyum ramah pada Rian yang masih terduduk di atas aspal jalanan bersama Bella.
Rian hanya terdiam melongo melihat sikap Herman tersebut yang diluar dugaannya. Dia hendak bangkit, namun Bella menarik kemejanya dengan kuat sehingga niat Rian pun terhentikan.
"Ayolah Bella, ini sudah larut malam, jangan menyusahkan temanmu. Ayo, pulanglah denganku," ucap Herman lagi melihat tingkah Bella yang tidak sesuai dengan harapannya.
Herman pun berjongkok dan mengulurkan tangannya kepada Bella, berharap agar dia mau menerima uluran tangannya.
"Ayo, kita pulang."
Herman berkata lagi dengan senyum yang terlihat hangat. Rian yang melihat tindakannya sejak tadi mulai berpikiran bahwa orang tersebut adalah orang yang baik. Namun ….
"Jangan … jangan percaya padanya, dialah orang yang kuceritakan kemarin," ucap Bella pelan.
Herman masih dapat mendengar perkataan Bella dan dia pun segera membantah perkataannya agar hal yang tak diinginkannya tidak terjadi.
"Jangan seperti itu, maaf aku memang salah. Tapi itu bukanlah masalah besar, kita bisa memperbaikinya bersama, jadi ayo pulanglah denganku,"
"Kau menyakiti Bella?" tanya Rian.
"Apa? Kau bilang apa?"
"Aku tanya, apa kau menyakiti Bella?" tanya Rian sekali lagi, tapi kali ini dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang dilepaskan ke arah Herman.
Melihat tatapan tersebut, Herman sempat terkejut. Tetapi kemudian dengan perlahan dia kembali berdiri tegak sambil tertawa terbahak-bahak yang selanjutnya diikuti oleh orang-orang berseragam hitam lainnya yang berada di sekitar.
"Aku sudah berusaha untuk menjadi orang baik dan ramah, tapi sepertinya kau lebih suka jika aku pakai cara kekerasan. Kau pikir aku takut dengan tubuh dan ototmu yang besar itu? Nak, perlu kau ketahui bahwa sekarang kau sedang berhadapan dengan orang yang salah!" tuturnya yang kemudian berjalan mundur beberapa langkah.
"Aktifkan penghalangnya!" perintah Herman.
Seketika semua orang berseragam hitam melemparkan sebuah bola aneh seukuran kelereng ke atas jalanan
Begitu bola-bola tersebut menyentuh jalanan, bola tersebut pun meledak dan menghasilkan gas yang yang membentuk sebuah kubah raksasa yang mengurung mereka di dalamnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" ucap Rian keheranan melihat ada kubah raksasa berwarna merah kehitaman mengurung mereka.