Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
026 - Pembalasan (3)


__ADS_3

Sebuah tendangan mendarat di pelipisnya dan membuat Arya mulai kehilangan keseimbangan.


"Hanya segini? Aku benar-benar kecewa," ucap Victor.


Victor meraih tangan Arya dan beberapa saat kemudian dia pun mengangkat tubuh Arya ke udara dan membantingnya dengan keras ke tanah.


Arya terkapar sambil mengerang kesakitan, rasa sakit yang dirasakannya terlalu menyakitkan sehingga dia tidak dapat segera bangkit. 


"Arya, aku tahu kau adalah titisan dari salah satu kesatria cahaya dalam ramalan 200,000 tahun yang lalu," 


"Apa?!" batin Arya.


"Aku sudah tahu sejak pertama kali mendengar tentangmu, lebih tepatnya setahun yang lalu. Saat itu aku sudah berkeinginan untuk membunuhmu dan memenangkan ramalan tersebut karena pada saat itu aku sudah mendapat kekuatanku, sedangkan kau masih belum,"


"Jadi kau titisan ksatria cahaya yang satunya lagi, ya?" gumam Arya sambil berusaha bangkit dengan perlahan.


"Iya, kau benar. Tapi setelah kupikir-pikir itu akan sangat membosankan karena sampai saat ini aku sendiri masih terikat dengan para Penyihir sialan itu," sambungnya.


Pembicaraan mereka membuat semua penonton yang mendengarnya berbisik-bisik karena tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.


"Berarti, jika aku membunuhmu … maka aku akan memenangkan ramalannya?" kata Arya yang telah berhasil bangkit.


"Mungkin, tapi maaf karena akulah yang akan membunuhmu lebih dulu!" 


Victor mengepalkan tangannya dan mulai berlari menyerang Arya sambil menyeringai. Namun, tiba-tiba sebuah batang besi terbang dan mendarat menancap di antara dirinya dan Arya, sehingga membuat langkah Victor pun terhenti.


"Hentikan sekarang juga!" 


Tiba-tiba sebuah suara yang menggelegar terdengar dari arah batang besi tersebut dilempar. Dengan cepat semua mata mulai mengarah ke asal suara tersebut dan seorang pria bertubuh besar berdiri di luar kerumunan dengan sebuah batang besi lainnya di tangan kirinya.


"Rian?" gumam Arya dengan suara kecil yang tak dapat didengar oleh Rian.


"Sekarang semuanya bubar! Atau kuhabisi kalian semua!" ancam Rian sambil mengarahkan batang besinya ke depan, menantang para penonton yang ada.


"Haa … selalu saja ada pengganggu, baiklah Arya, kali ini kau kulepas lagi. Tapi lain kali aku tidak akan menahan diri untuk membunuhmu, ingat itu!" kata Victor sambil berlalu pergi bersama para penonton yang kemudian bubar mengikutinya.


Romi tertegun melihat seluruh kejadian itu. Lalu, tiba-tiba dia pun teringat akan temannya Danu dan mulai mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencarinya.

__ADS_1


"Danu …! Danu …!" teriak Romi sambil menerobos kerumunan penonton yang sedang bubar meninggalkan tempat tersebut.


Tak butuh waktu lama, akhirnya dia pun menemukan Danu yang sedang tertunduk lemas. Romi hendak menghampirinya, tetapi tiba-tiba Alex muncul dan membisikkan sesuatu ke telinga Danu.


Alex menyadari keberadaan Romi dan segera beranjak pergi setelah dia selesai membisikkan sesuatu. Saat Alex sudah cukup jauh, Romi pun segera menghampiri Danu dan memastikan keadaannya.


"Danu! Apa kau baik-baik saja?" tanya Romi yang cemas.


Danu tidak merespon pertanyaannya, pandangannya terlihat kosong, tubuhnya menggigil ketakutan, bahkan napasnya juga tidak beraturan.


"A-aku … harus bagaimana?" tanya Danu sambil menoleh ke arah Romi dengan raut wajah yang amat ketakutan.


*****


"Apa yang kau pikirkan, Arya?! Mengapa kau sampai berkelahi dengannya?!" tanya Nanda dengan nada yang sedikit meninggi.


"Memangnya perlu alasan untuk menghajar orang seperti dia, ya?" balas Arya.


"Memang tidak, tapi kenapa kau pergi sendirian? Kenapa kau menyembunyikannya dariku? Apa malam itu dia menyuruhmu untuk datang tanpa aku?" tanya Rian yang bergabung dalam pembicaraan.


"Kurang lebih ucapanmu itu benar, dia memberikan sebuah penawaran padaku yang mana dia tidak akan muncul dan mengganggu kita lagi jika aku bisa mengalahkannya," 


"Pe-permisi …."


Tiba-tiba Bella dan Romi muncul dari arah dapur sambil membawa minuman dan camilan di atas nampan yang mereka bawa. Dengan sangat hati-hati mereka meletakkannya di atas meja dan kemudian duduk di samping Nanda.


"Aku gagal lulus sebanyak tiga kali, sedangkan kau baru sekali. Jika itu jebakan, setidaknya aku tidak membuatmu terseret ke dalamnya yang membuat kau gagal lulus lagi sepertiku," jawab Arya dengan pandangan yang mengarah ke bawah.


"Apa maksudmu? Kita sudah melaluinya bersama dan kau ingin mengakhirinya sendirian?"


"Sudah cukup!" ucap Nanda sambil menggebrak meja dengan cukup keras dengan tangan kanannya.


Suasana yang tadinya mulai menegang kini berubah menjadi hening, baik Rian maupun Arya, mereka sama-sama tak berani berkutik sedikitpun. Rena yang sedari tadi ada di sana tidak bisa berkomentar apa-apa karena ketidaktahuannya akan masalah yang sedang mereka hadapi.


"Tidak perlu membahas hal itu lagi, yang perlu kita bahas sekarang adalah efeknya terhadapmu, Arya. Dan yang terpenting adalah cara mengatasinya, karena jika kau berurusan dengannya maka pasti akan ada hal buruk yang terjadi setelahnya," 


"Boleh aku bertanya?" sela Rena yang sejak tadi diam.

__ADS_1


"Iya, silakan," balas Nanda.


"Siapa itu Vic-"


Braaakk …!!


Seketika Arya menggebrak meja begitu mendengar nama tersebut diucap dan pergi menuju kamarnya dengan raut wajah kesal. Rian yang melihat tingkah Arya hanya bisa menghela napas panjang dan kemudian meminum habis minumannya yang masih berada di atas nampan.


"Maaf, aku buru-buru, sebentar lagi jam kerjaku dimulai."


Rian pun pamit dan segera pergi dari rumah Arya dengan perasaan kecewa.


"Maaf, seharusnya aku tidak menanyakan hal itu," ucap Rena yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu, nanti mereka juga berbaikan sendiri dan sebaiknya lain kali kau jangan mengucapkan nama itu sembarangan lagi," pesan Nanda.


"Baik,"


"Oh ya, sebenarnya orang itu adalah pewaris tunggal dari seorang konglomerat kaya raya dan kami baru mengetahuinya belum lama ini," jelas Nanda yang menjawab pertanyaan Rena yang sempat terpotong.


"Dia adalah tipe orang yang selalu melakukan apa saja yang dia mau, tanpa mau melihat dampak dari tindakan yang diperbuatnya pada pada orang-orang yang berada disekitarnya.


"Tahun lalu Arya dan Rian dijebak oleh geng motor suruhannya. Mereka berdua menghabisi seluruh geng motor tersebut hingga membuat mereka semua berakhir mengenaskan di rumah sakit. 


"Karena tuntutan dari setiap orang tua dari anggota geng motor tersebut, maka pihak sekolah pun memutuskan untuk tidak meluluskan mereka bersua sebagai hukuman dari tindakan mereka," tambah Nanda yang menambah penjelasannya.


"Kalau begitu kenapa mereka tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya saja bahwa orang itulah dalang dari semuanya?" tanya Rena lagi.


"Haa … mereka sudah menceritakannya dan kami juga sudah membantu sebisa kami untuk mencari bukti tentang kebenaran dari kejadian itu. Tapi semua usaha kami sia-sia. Dia memutus kontak dengan para geng motor tersebut dan membayar mereka dengan uang yang sangat banyak untuk tutup mulut dan mengatakan kebohongan,"


"Jadi … itu alasan kenapa kak Arya tidak lulus untuk yang ketiga kalinya, ya?" tutur Romi.


"Iya, dan sepertinya tahun ini juga akan begitu," jawab Nanda dengan tatapan yang mulai kosong.


"Baiklah, sampai di sini saja ya! Sekarang sudah hampir malam," kata Nanda lagi.


"Iya, terima kasih banyak sudah mau mampir," balas Romi.

__ADS_1


Nanda dan Bella pun pamit dan pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah mulai berganti menjadi malam.


Kini, tinggal Romi dan Rena saja yang berada di ruangan itu. Mereka berdua pun membersihkan meja di ruang tamu bersama-sama sebelum akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing.


__ADS_2