Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
031 - Album Foto


__ADS_3

"Mereka masih ada sedikit urusan, karena itu mereka akan menyusul kita nanti,"


"Haa … benar-benar merepotkan, kalau begitu ayo! Sebaiknya kita jangan membuang-buang waktu lagi, lebih cepat lebih baik," ajak Rena.


"Baiklah."


Rian bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Rena dari belakang menuju ke terminal bus terdekat yang memiliki tujuan ke Gunung Seribu.


Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai di terminal tersebut. Keadaan terminal tersebut tampak lebih sepi dari biasanya, mungkin karena hari sudah hampir malam. Jadi, mereka tidak perlu mengantri terlalu lama untuk membeli karcis.


"Rena," panggil Rian ketika berada di depan pintu masuk bus.


"Ada apa?" balas Rena sambil berbalik dan menatap Rian.


"Apa kau punya rencana?"


"Tentu, kita masuk dulu dan akan kuberitahu rencananya nanti."


Mereka berdua pun masuk ke dalam bus dan memilih bangku paling belakang agar pembicaraan mereka tidak didengar oleh sopir dan beberapa penumpang lainnya.


Beberapa saat setelah mereka duduk, pintu bus pun ditutup dan segera melaju meninggalkan terminal. Ketika Rian sedang asyik menatap keluar jendela, Rena yang awalnya duduk di bangku yang berada di sisi kiri bus pun pindah ke samping Rian.


Rian tidak memperdulikan apa yang Rena lakukan dan pandangannya tetap mengarah keluar.


"Kenapa kau duduk terpisah denganku? Apa kau sudah tak mau mendengar rencananya?" tanya Rena.


"Maaf, aku lupa. Jadi, apa rencananya?" tanya Rian balas tanpa menoleh ke arah Rena.


Rena tersenyum, lalu tertawa kecil sambil memandangi wajah Rian yang mengarah keluar, Rian yang tak mengerti maksud dari tawa tersebut pun meliriknya sesaat dan kembali lagi melihat keluar jendela bus.


"Ternyata kau juga bisa bersikap seperti Arya," 


"Benarkah?"


"Iya. Jadi, rencananya mudah, kita hanya akan membuat dan menjaga jarak antara posisi agmar itu dengan tempat camping anak kelas dua sampai bantuan yang kau katakan itu tiba, apa kau mengerti?"


"Mengerti, tapi apa kau sebelumnya pernah melawan agmar level tiga?"

__ADS_1


"Tentu saja belum, para Demon Hunter dilatih untuk bisa mengalahkan atau setidaknya mengimbangi kekuatan agmar yang berada satu level di atas level mereka, sedangkan aku … masih berada di level satu, " terangnya dengan wajah murung.


"Tidak perlu bersedih, sebenarnya kau itu jauh lebih kuat dari kenyataannya," ucap Rian.


Rena terkejut, pandangannya seketika di arahkan ke arah Rian. Dia merasa kata-katanya itu terlalu berlebihan untuk menghibur dirinya.


"Tidak tidak, kau tidak perlu sampai berkata seperti itu hanya untuk menghiburku,"


"Tidak, yang kukatakan itu benar, jika kau level satu itu berarti kau sanggup mengalahkan agmar level dua. Sedangkan aku? Dengan kekuatanku saja aku masih kesulitan untuk mengalahkan agmar level dua. Karena itu, aku pun mencoba berusaha lebih keras dari Arya untuk bisa melampauinya," jelas Rian sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Kalau begitu kita punya kesamaan." 


Rena menyandarkan tubuhnya ke kursi bus dan memejamkan matanya menikmati perjalanan mereka dengan senyum lega di wajahnya karena tahu dia bukan satu-satunya orang payah dalam hal membunuh agmar.


*****


Di sisi lain, Romi yang sedang merasakan takut tetap berusaha untuk memberanikan dirinya mengintip kamar Arya dari balik lubang kunci. Penglihatannya dari lubang tersebut memang sangatlah terbatas, sehingga dia tidak bisa memastikan apakah Arya ada di dalam atau tidak.


Setelah beberapa saat, akhirnya dia berhenti mengintip dan mencoba memberanikan dirinya sekali lagi, tetapi kali ini untuk meraih gagang pintu kamar tersebut dan membukanya. 


Keringat dinginnya mulai bercucuran saat dia mencoba melakukannya, dia tidak bisa berhenti membayangkan kejadian apa yang akan menimpanya apabila Arya ada di dalam kamar tersebut.


Pintu tersebut tidak dikunci dan perlahan-lahan Romi mendorongnya dengan perasaan waswas. Namun, belum selesai dia mendorong pintu tersebut, tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang dan mengagetkannya.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Seketika Romi pun terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah album foto yang sejak tadi dia pegang ke lantai. Romi tidak segera mengambil album tersebut atau pun berbalik ke sumber suara.


Tapi, setelah beberapa saat akhirnya dia pun berbalik dan menatap Arya yang berdiri di belakangnya dengan tatapan tajam dan sikap yang dingin. Karena tatapan dan sikapnya itu, Romi pun menjadi tak berani untuk bergerak dan hanya menundukkan kepalanya.


"Apa yang ingin kau lakukan di kamarku?" tanya Arya sekali lagi.


Romi hanya terdiam membisu, tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Karena itu, pandangan Arya pun berpindah ke sebuah album yang tadi Romi jatuhkan.


Arya mengambil album tersebut dan mengamatinya sambil membolak-balikkannya beberapa kali.


"Ini … bagaimana bisa album ini ada padamu?!" tanya Arya dengan geram.

__ADS_1


"Aa … itu … k-kak Wulan yang mengambilnya," 


"Untuk apa?"


"Ti-tidak tahu, dia mengambilnya dan meminjamkannya kepada Rena,"


"Apa kau melihat isinya?"


"Te-tentu saja tidak, aku kan sudah berjanji untuk tidak melihat isinya. Aku hanya ingin mengembalikannya saja, hanya itu dan tidak lebih," jawabnya.


Arya terdiam sejenak dan mengembuskan napasnya. Karena sudah tak terdengar suara Arya yang berkata-kata lagi, Romi pun mengangkat kepalanya sedikit demi sedikit sambil memberanikan diri untuk meliriknya.


"Cepat, pergi dari sini!" perintah Arya. 


Romi mengurungkan niatnya dan segera pergi meninggalkan Arya seorang diri. Ketika Romi sudah tak tampak lagi, Arya pun masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.


Arya melempar album yang dipegangnya ke atas kasurnya dan segera berbaring di sampingnya dengan pandangan yang menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Matanya dipejamkan dan dirinya mulai mencoba menikmati kesunyian di dalam kamarnya.


Sesaat kemudian, dia pun kembali bangkit dan meraih album yang tadi dia lempar. Arya menarik napas panjang sebagai persiapan, lalu mulai membuka selembar demi selembar album tersebut.


Foto di dalam album tersebut telah berusia lebih dari 13 tahun dan setiap kali Arya melihat foto-foto di dalamnya, kenangan-kenangan yang membahagiakan pun kembali teringat di dalam kepalanya.


Mulai dari kenangan yang paling disukainya sampai ingatan yang paling dibencinya, semua itu muncul begitu saja seperti dirinya sedang menyaksikan kembali semua kejadian itu.


Di lembaran terakhir, perhatian Arya berhenti di sebuah foto terakhir di album tersebut. Sebuah foto yang berisi kenangan terindah sekaligus kenangan terburuknya, sebuah foto keluarga yang berisi lima orang di dalamnya.


Semakin dilihat, perhatiannya di foto itu semakin tertuju ke seorang wanita yang sedang menggendong seorang anak perempuan berusia tiga tahun di belakang dirinya saat kecil.


Saat itu juga, sesuatu pun akhirnya disadari oleh Arya.


Buk!


Tiba-tiba Arya menutup album tersebut dengan keras dan meletakkannya ke atas meja belajarnya.


Dengan cepat dia keluar kamar dan berlari cepat menuju pintu depan. Romi yang sedang memasak untuk makan malam pun menyaksikan Arya yang terburu-buru dari dapur tanpa bisa berkomentar apa pun.


Arya terus bergerak menuju pintu depan dan sebelum dia berhasil meraih gagang pintu tersebut, terlebih dulu pintu itu dibuka dari luar oleh Pak Alen yang muncul dari balik pintu dengan kantong plastik di tangannya yang berisi barang belanjaan.

__ADS_1


"Minggir!" perintah Arya dengan dingin dan tatapan yang tajam.


"Kau mau ke mana?"


__ADS_2