Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
029 - Keberangkatan (1)


__ADS_3

"Sebelum aku lahir, ayahku sudah meninggal dan aku juga tidak punya satu pun saudara. Jadi, jika ayahnya kak Arya membuangku, maka aku tidak akan punya tempat tinggal lagi. Karena itu aku pun mengurus rumah seorang diri setiap hari dan melakukan apa pun agar aku tidak sampai dibuang."


Romi terdiam sejenak dan kedua matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Sekarang kau mengerti? Tindakanmu itu mungkin saja akan membuatku dalam masalah. Kita memang belum lama berteman, awalnya kukira kita bisa saling mengerti, tapi ternyata aku salah. 


"Kalau begitu, selamat tinggal! Selamat menikmati kebebasanmu dan jangan temui aku lagi," ucap Romi sambil pergi meninggalkan Danu sendirian dengan perasaan kecewa di hatinya.


Danu masih belum bergerak dari posisinya, dari cerita yang Romi ceritakan dirinya masih tidak percaya kalau posisi Romi itu jauh lebih buruk daripada dirinya.


Danu menyesal, dirinya sangat menyesal, jika seandainya waktu dapat diputar, maka dia ingin kembali ke waktu sebelum dia berbohong untuk memperbaiki kesalahannya. 


Namun, nasi sudah menjadi bubur, apa yang telah terjadi tidak bisa diperbaiki lagi. Mungkin saja apa yang telah dilakukannya akan segera berdampak bagi Romi.


*****


Di halaman sekolah, terdapat beberapa bus yang sedang terparkir. Seluruh siswa dan siswi kelas dua berbondong-bondong masuk ke dalam bus tersebut agar mereka bisa mendapatkan tempat duduk terbaik, menurut mereka.


Keadaan di sekitar pintu masuk bus memang sangat tidak terkendali, para guru pembimbing yang akan ikut bersama mereka sampai kewalahan dalam menertibkan mereka sehingga beberapa siswa kelas tiga pun terpaksa turun tangan ikut membantu.


Bella berdesak-desakan di antara anak kelas dua lainnya yang berusaha untuk masuk ke dalam bus, karena dia juga ingin mendapat tempat duduk yang terbaik.


Duuk!


Bella terdorong ke belakang dan terjatuh. Keringatnya bercucuran keluar dari keningnya karena hawa panas dalam kerumunan. Bella sudah tidak tahan lagi, dia akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menunggu sampai keadaan menjadi lebih tenang lebih dulu baru dia masuk ke dalam bus.


"Kau tidak apa-apa?" 


Tiba-tiba Rian muncul dan mengulurkan tangannya kepada Bella hendak membantunya berdiri.


"Te-terima kasih," ucap Bella sambil menerima uluran tangannya tersebut.


"Tidak perlu berterima kasih, pasti sulit jika tidak ada Nanda disampingmu, ya?"


"I-iya, karena tangannya masih belum sembuh jadi para guru tidak memperbolehkannya untuk ikut, sungguh sangat disayangkan." Bella memalingkan pandangannya ke arah lain sambil menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal dengan telunjuknya.


"Oh ya, bagaimana keadaan Arya sekarang? Apa kalian sudah berbaikan?" tanyanya tiba-tiba.

__ADS_1


Seketika wajah Rian langsung mengerut saat mendengar pertanyaan tersebut, seakan-akan dia sedang tidak ingin membicarakannya.


"Tidak tahu, lebih baik kau segera masuk ke dalam bus, keadaannya sudah tenang sekarang," jawab Rian dengan wajah yang dipalingkan ke arah lain.


Bella menoleh ke belakang dan ternyata benar, sekarang keadaannya sudah menjadi lebih tenang. Hanya tinggal dirinya dan beberapa siswa saja yang masih belum naik ke dalam bus.


"Dia itu temanmu, kalian itu lebih cocok jika tetap akur, sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa." Bella tersenyum manis ke arah Rian dan segera melangkah masuk ke dalam bus sambil melambaikan tangannya.


Sesaat kemudian, bus yang dinaiki Bella menyala dan mulai melaju meninggalkan SMA Gagak, begitu juga dengan bus-bus lainnya. Rian menatap kepergian semua bus-bus tersebut hingga menghilang di sebuah perempatan jalan.


Tiba-tiba suara seseorang yang sedang berlari terdengar dari arah belakangnya. Sontak Rian pun terkejut dan menoleh cepat ke belakang yang ternyata orang tersebut adalah Rena.


"Ini benar-benar gawat!" ucapnya dengan keringat yang bercucuran di keningnya dan napas yang sedikit terengah-engah.


"Ada apa? Apanya yang gawat?" 


"Aku mendapat sebuah sinyal yang berada di kaki Gunung Seribu, setelah kupastikan, ternyata itu adalah sinyal dari seekor agmar yang sedang aku buru. Tetapi ada yang aneh," 


"Apanya yang aneh?" 


Reaksi Rian tidak terlalu berubah ketika mendengarnya. Raut wajahnya masih tetap datar, namun matanya kemudian menyipit melihat data membingungkan di layar ponselnya.


"Kalau begitu kenapa kau mengatakannya padaku? Kenapa tidak kau laporkan saja kepada atasanmu untuk meminta bantuan?"


Tiiiiiiinngg ...!!! Tiiiiiinngg ...!!!


Bel berbunyi dan untuk sesaat perhatian Rian dan Rena berpindah ke sekeliling mereka. Satu per satu semua murid yang berkeliaran di halaman dan di kantin sekolah mulai berjalan kembali ke kelas mereka. Melihat hal itu, Rena pun melanjutkan pembicaraan mereka sambil mengajak Rian untuk kembali ke kelas bersama-sama.


"Sebenarnya itu adalah masalah pertamanya," jawab Rena. 


Rian tidak mengerti dengan jawabannya dan menunjukkan wajah ketidakpahamannya yang langsung membuat Rena harus menjelaskannya lebih jelas.


"Setelah aku tiba di dunia manusia, tiba-tiba saja ponselku ini yang kugunakan sebagai alat komunikasi dengan divisiku tidak berfungsi dengan semestinya. Akibatnya, aku tidak bisa menghubungi divisiku dan begitu juga sebaliknya. 


Jadi, yang bisa menyelamatkan semua murid kelas dua dari agmar tersebut sekarang hanya tinggal kita berdua dan Arya saja,"


"Seberapa kuat agmar itu?" 

__ADS_1


"Seperti yang tadi kukatakan tadi, seharusnya agmar itu berlevel dua, tapi sekarang malah naik menjadi level tiga. 


"Meski dia hanya beda satu level di atas agmar level dua, tapi kekuatan agmar level tiga bisa mencapai 10 sampai 20 kali lebih kuat dari agmar level dua kebanyakan," 


"Apa?! Sekuat itu?"


"Iya, sebenarnya itu hanya perkiraan dari Divisi 11 saja, jadi hal itu tidak dapat menjadi patokan pasti seberapa kuat agmar level tiga. Tapi, pada kebiasaannya agmar level tiga bisa saja lebih lemah dan bisa juga lebih kuat dari perkiraan tersebut."


Glek ….


Rian menelan air liurnya sendiri saat mendengar penjelasan tersebut. Setelah mencapai lantai dua, mereka menghentikan langkah mereka karena kelas Rena berada di lantai dua, sedangkan Rian berada di lantai tiga.


"Tapi, jika kau tidak mau ikut tidak apa-apa juga, aku tidak akan memaksa," 


"Aku ikut!" sahut Rian.


Rena sedikit terkejut mendengar jawaban tersebut keluar dari mulut Rian, dengan cepat pandangannya diarahkan ke wajah Rian seakan-akan ingin mendengar jawaban tersebut sekali lagi.


"Aku ikut, aku akan membantumu mengalahkan agmar itu," jawab Rian sekali lagi.


"Tapi kenapa? Menyelamatkan mereka itu bukan tugasmu, meskipun aku tidak melarangmu untuk ikut,"


"Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa ada alasan mengapa aku memiliki kekuatan supernatural yang kumiliki saat ini. Dan sepertinya alasan tersebut adalah untuk menyelamatkan orang yang berada dalam bahaya," jawabnya dengan penuh keyakinan.


Rena tersenyum mendengar jawaban yang dia dengar. Lalu dia pun berkata, "Kalau begitu aku akan mengajak Arya dan kita bertiga akan berkumpul jam tiga sore di belakang sekolah,"


"Tidak, kita berkumpul jam lima sore saja, aku akan datang dengan bantuan dari dua orang kenalanku," 


"Bantuan? Dari siapa?"


"Sudahlah, akan kuberitahu nanti sore, sekarang cepat masuk ke kelas, kita sudah terlambat,"


"Baiklah, sampai jumpa di belakang sekolah jam lima sore," ucap Rena mengingatkan.


"Tentu."


Rena kemudian berbalik dan segera berlari menuju kelasnya, begitu begitu juga dengan Rian yang menaiki tangga dengan terburu-buru karena dia sudah terlambat masuk ke kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2