
Sebuah bola api tiba-tiba muncul dari arah samping dan menghantam tubuh Vera sampai membuatnya terpental menjauh.
Arya yang nyaris kehilangan kesadarannya mencoba untuk melihat ke arah bola api itu berasal dan dia melihat sesosok gadis yaitu Rena berdiri dengan posisi kuda-kuda dan tangan yang masih dalam posisi melepaskan sihir.
Arya menjatuhkan dirinya ke atas rumput karena sudah tak sanggup lagi berdiri. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Rena lagi dan seketika dia pun tersadar dengan apa yang baru saja terjadi.
"Tidak tidak tidak! Apa yang kau lakukan dasar bodoh?!" teriak Arya sembari mencoba bangkit.
"Apa maksudmu? Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena aku telah menyelamatkanmu," balas Rena sambil berjalan mendekat ke arah Arya.
"Seharusnya kau tidak menyerang-"
"Sayang sekali, ada orang lain yang melanggar peraturannya, padahal suasana hatiku tadi sedang bagus. Tapi, ya … sekarang tidak," potong Vera dari balik kepulan asap hitam yang terbentuk akibat sihir bola api yang mengenainya.
Kepulan asap hitam tersebut mulai menghilang dan Vera pun mulai terlihat dari balik asap tersebut.
"Tapi, selamat! Selamat kau berhasil memenangkan permainannya meskipun tadinya nyaris gagal," puji Vera.
Arya merasa bingung dan menatap ke arah Vera dengan tanda tanya di kepalanya.
"Apa?" tanyanya.
"Tepat sebelum sihir gadis itu mengenaiku, waktu permainannya telah berakhir, selamat! Kau adalah pemenangnya!" puji Vera sekali lagi sambil bertepuk tangan.
Sebuah senyuman terukir di wajah Arya dan Rena yang mendengar ucapan tersebut malah merasa kebingungan.
"Tapi, meskipun kau menang, kalian tetap tak akan kubiarkan selamat. Toh, sejak awal juga aku tak berniat untuk menepati janjiku."
Seketika Arya terkejut mendengar kata-kata tersebut. Dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah Vera, tetapi dengan cepat Vera menarik benangnya yang membuat Rena segera terlilit oleh benang-benangnya.
"Bergabunglah dengan teman besarnya yang ada di sana!"
Vera menarik benangnya sekali lagi dan seketika Rena langsung dipaksa untuk bergerak hingga berhenti tepat di samping Rian yang masih terlilit oleh benang-benang yang melilit tubuhnya di udara.
Rena mencoba meraih pedangnya, tetapi benang-benang yang melilit tubuhnya segera mengencang dan melukai tubuhnya sehingga darah pun mulai menetes keluar dari tangannya yang kini terluka.
"Jangan bergerak! Jika kau terus bergerak maka benang-benang ini akan semakin mengencang sampai tubuhmu terpotong," terang Rian.
Mendengar hal itu, Rena langsung berhenti bergerak dan hanya bisa berdiam diri sambil menyaksikan apa yang akan terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau tidak menepati janjimu?!" teriak Arya yang marah melihat tindakan Vera terhadap Rena.
"Dasar bodoh! Seperti yang tadi kukatakan, sejak awal aku tak berniat untuk menepati janji,"
"Apa?"
"Hahahaha …!! Aneh sekali, benar-benar aneh. Melihat wajahmu sekarang tiba-tiba saja aku jadi teringat kepada seorang wanita yang dulu pernah kutemui sepuluh tahun yang lalu. Dia sama bodohnya denganmu, sama-sama percaya dengan ucapan agmar, hahahaha …!!" tawa Vera yang senang melihat ekspresi keterkejutan Arya.
"Wanita?"
"Iya, benar, seorang wanita. Hanya demi melindungi anaknya dia rela mengikuti permainan ini dan kau tahu? Dia pikir dia punya tubuh yang kuat, tapi sayangnya dia langsung mati mengenaskan di depan anaknya begitu dia baru menerima satu serangan," terang Vera.
"Saat itu aku sedang tidak beruntung, para Demon hunter tiba-tiba datang dan menangkapku sebelum aku sempat memakan jasad wanita tersebut beserta anaknya. Tapi tidak apa, hawa dari energi spiritmu ini hampir mirip dengannya, jadi pasti rasa dagingmu akan sama dengannya," tambahnya dengan senyum yang mengerikan.
Cerita Vera tersebut seketika membuat amarah Arya naik, dia menyadari bahwa pedangnya berada tak jauh darinya. Arya yang tak mampu membendung amarahnya itu segera mengambil pedangnya tersebut dan berlari ke arah Vera.
Ayunan demi ayunan pedang dilakukan Arya dengan penuh amarah tetapi Vera selalu menghindarinya dengan santai hingga tak ada satu pun ayunan yang mengenainya.
"Jangan menghindar terus sialan!" umpat Arya sambil terus mengayunkan pedangnya.
"Jika kau ingin menebasku, maka tebaslah dengan benar dan lakukan sekuat tenaga!" balas Vera sambil terus menghindar.
Arya terus mengayunkan pedangnya berkali-kali, tetapi tetap saja masih tak ada satu pun yang mengenainya. Hingga pada sebuah ayunan Vera menangkisnya dengan sehelai benang.
"Hoek …! Hoek …!"
Dirinya telah babak belur akibat permainan yang tadi Vera lakukan. Tetapi, Arya berusaha agar dirinya tidak sampai ambruk lagi.
Vera tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya ke samping seakan-akan dia membiarkan Arya untuk menyerangnya.
"Ayo, bukannya kau ingin menebasku?" pancing Vera.
Arya tidak peduli lagi itu jebakan atau bukan, dia pun berlari ke arah Vera dan melakukan sebuah tebasan dengan seluruh tenaganya yang tersisa.
Triiiiingg …!!
Pedang Arya mendarat di bahu kiri Vera, tak ada luka atau goresan yang berhasil dibuatnya. Namun, selang beberapa saat, bilah pedangnya pun retak dan patah menjadi dua bagian.
"Tidak mungkin," batin Arya yang tidak percaya dengan mata yang melotot ke bilah pedangnya yang telah patah.
__ADS_1
Vera memanfaatkan kesempatan itu, dia memegang wajah Arya dengan sebelah tangannya, lalu melemparnya jauh ke belakang.
"Hehehe … bagaimana? Apa kau sudah tahu seberapa jauh perbedaan kekuatan kita?" tanya Vera dengan sombong.
Arya yang kini jatuh dalam posisi telungkup tidak merespon perkataannya, wajahnya tetap diposisikan menghadap tanah. Melihat hal itu, Vera pun merasa jengkel karena merasa diacuhkan.
"Hei, cepatlah bangun atau aku akan menarik benang yang mengikat teman-temanmu itu dalam hitungan ketiga!" ancam Vera.
"Satu …,"
"Dua …,"
"Tiga!"
Sreet! Sreet!
"Aaakkh ..!!"
Rian dan Rena menjerit kesakitan secara bersamaan. Tubuh mereka teriris dengan benang yang mengikat mereka, dari balik benang tersebut darah mereka pun menetes keluar.
Teriakan mereka begitu keras hingga Arya dapat mendengarnya dengan jelas. Namun, dia tetap pada posisinya seperti tidak mau memperdulikannya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Padahal aku sedang merasa senang lagi, apa kau sudah tidak peduli pada nasib teman-temanmu lagi, hah?!"
Arya tetap tidak menghiraukan Vera, samar-samar suara tangisan yang berasal dari Arya terdengar di telinganya.
"Dasar bocah! Apa kau menangis?" ucap Vera dengan nada mengejek.
"Ini salah, hiks … hiks … aku tak akan bisa mengalahkannya, hiks … seharusnya aku tidak percaya pada ramalan dari Tua Bangka itu, hiks … kenapa … kenapa aku selalu sial? Apa salahku?" ucap Arya dalam tangisannya.
"Sebenarnya kau tidak salah apa-apa, Arya."
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang begitu jelas dan suara itu membuatnya seketika berhenti menangis karena terkejut.
"Semua kesulitanmu ini adalah batu loncatan agar kau bisa menjadi lebih kuat," ucap suara itu lagi.
"Siapa itu? Siapa kau?" tanya Arya pelan sambil memalingkan pandangannya ke sekitarnya untuk mencari sumber suara yang didengarnya.
"Untuk sekarang itu tidaklah penting. Genggam pedangmu, kumpulkan seluruh tenagamu yang tersisa, dan ayunkan kepada agmar itu," tuntun suara itu.
__ADS_1
"Ta-tapi … pedangku sudah patah,"
"Jangan pedulikan itu. Tenanglah, aku akan membantumu, percayalah padaku."