Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
017 - Perburuan Malam (2)


__ADS_3

"Hahaha! Sepertinya kau kebingungan ya? Singkatnya kita sekarang sedang berada dalam penghalang buatan kami. Teknik ini sebenarnya hanya dimiliki oleh agmar level tiga ke atas, tapi kami berhasil membuat versi kami sendiri.


"Penghalang agmar level tiga bersifat mengurung siapa pun yang berada di dalamnya, termasuk penggunanya sendiri, dan juga penghalang ini akan membuat manusia biasa yang berada di dalam maupun di area sekitarnya menjadi pingsan akibat reaksi dari energi gelap penghalang.


"Penghalang milik kami juga demikian, meskipun ya … semakin lama semakin melemah. Tapi jangan meragukannya karena penghalang milik kami ini masih sangatlah berguna," jelas Herman dengan senyum lebar.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Rian dengan tatapan yang masih tajam.


"Baiklah, aku tak akan basa-basi lagi, kuberikan kau dua pilihan. Pertama, serahkan Bella padaku secara baik-baik dan pulanglah dengan damai atau kedua, kurebut dia dengan paksa dan kukirim kau ke neraka, bagaimana?"


"Bagaimana kalau aku memilih yang ketiga?"


"Ketiga? Tidak ada pilihan ketiga,"


"Tentu saja ada, yaitu kuhajar kalian semua dan kalian yang kukirim ke neraka!"


Herman mematung sesaat mendengar jawaban Rian tersebut. Lalu dia pun tertawa terbahak-bahak lagi bersama orang-orang yang berada di atas kendaraan yang berseragam hitam layaknya pasukan Demon hunter.


"Seperti yang sudah kuduga dari bocah keras kepala sepertimu. Kalau begitu, habisi bocah itu dan rebut Bella secara paksa!" perintah Herman yang kemudian kembali berjalan mundur hingga ke tepi.


Mendengar perintah tersebut, semua orang berseragam hitam yang merupakan anak buah Herman turun dari atas kendaraan mereka.


Mereka membentuk beberapa kelompok yang terdiri dari beberapa orang yang berjalan mendekati Rian secara bergantian sambil memperlihatkan sebilah pedang di tangan mereka, berniat menakut-nakutinya.


Satu kelompok anak buah Herman berdiri di depan Rian, mereka menatap tajam ke arah Rian sambil sesekali menatap ke arah teman-teman mereka seperti sedang menunggu salah satu dari mereka untuk maju duluan.


Lalu, tak lama kemudian salah seorang dari mereka yang berada di tengah berlari ke arah Rian sambil bersiap mengayunkan pedang yang berada di tangannya ke leher Rian dengan cepat.


Buugh …!!


Ayunan pedang tersebut berhasil dihindarinya dan Rian pun maju mendekatinya sambil melayangkan sebuah pukulan telak ke ulu hatinya yang mampu membuatnya terpental jauh ke belakang.


Kejadian tersebut membuat semua yang lainnya terkejut dengan mata yang terbelalak, kecuali Herman yang melihatnya dengan senyuman licik.


"Bella! Tetaplah berada di belakangku, jika keadaan semakin buruk, larilah!" ucap Rian sambil membimbing Bella menjauh ke belakangnya.


"Pengguna kekuatan supernatural ya? Tak kusangka aku bisa bertemu yang lain selain Victor," ujar Herman yang tampak tertarik dengannya.


Beberapa anak buah Herman berlari menyerang untuk membalas perlakuan Rian kepada rekannya.

__ADS_1


Buuk!


Buuk!


Buuk!


"Empat, berikutnya!" tantang Rian setelah berhasil menumbangkan tiga orang yang datang padanya.


Anak buah Herman yang lain menyaksikan kejadian itu dengan rasa ragu dan takut. Mereka mulai melangkah perlahan dan kemudian berlari ke arah Rian secara bersamaan sambil bersiap untuk menebas tubuh besarnya dengan pedang di tangan mereka.


Rian merasakan bahaya yang akan dihadapinya akan lebih besar dari yang sebelumnya. Oleh karena itu, dia pun menerjang maju ke kerumunan anak buah Herman dan menjauhi Bella untuk mulai menghajar satu per satu dari mereka.


Buuk!


Buuk!


"14." 


Rian menumbangkan setiap anak buah Herman dengan tinju keras dari dua kepalan tangannya. Lalu menghitung satu demi satu dari mereka yang berhasil dia tumbangkan. 


Dengan gigih Rian terus menghadapi mereka yang jumlahnya lebih banyak darinya, meskipun darahnya mulai berterbangan ke mana-mana akibat tebasan pedang yang mulai berhasil melukainya.


Bruuukk …!!


Rian mengumpulkan seluruh tenaganya dan melempar salah satu dari mereka yang tangannya berhasil ditangkap ke arah sekelompok anak buah Herman yang hendak menyerangnya.


Akhirnya tindakannya tersebut membuat anak buah Herman yang lain terkejut dan mundur beberapa langkah dan menghentikan penyerangan sesaat.


"Ada apa? Apa kalian mau menyerah? Sekarang aku baru saja masuk ke hitungan 40," tutur Rian dengan pandangannya yang tampak beringas.


Para anak buah Herman semakin ragu untuk maju kembali menyerangnya, bukan karena Rian yang terlalu kuat hingga tak dapat ditumbangkan meski dia kalah jumlah, ataupun karena tatapannya yang kini terlihat seperti hewan buas yang sedang marah. 


Melainkan karena luka di tubuh Rian yang tadinya telah berhasil dibuat oleh rekan-rekan mereka kini mulai menutup dan sembuh seperti tak terluka sedikitpun.


"Tidak mungkin! Dia bisa beregenerasi?" ujar salah satu dari mereka.


"Sialan! Ini malah memakan waktu!" gerutu Herman.


Rian telah berhasil menghabisi hampir setengah dari anak buah Herman yang dalam waktu singkat. Mereka yang telah berhasil ditumbangkan oleh Rian terkapar di atas jalanan sambil mengerang kesakitan karena beberapa tulang mereka patah hanya karena menerima satu pukulan saja.

__ADS_1


Beberapa anak buah Herman yang masih berdiri kembali menyerang bersama. Namun, mereka segera dibuat tak berdaya oleh Rian dalam waktu singkat. Melihat banyak dari rekan mereka yang sekarang telah kalah, membuat mereka kini benar-benar kehilangan minat untuk menyerang.


Hanya ada satu kata untuk menggambarkan gaya bertarung Rian yang begitu beringas, yaitu 'Monster'.


"45, siapa selanjutnya?" tantang Rian lagi yang terlihat haus akan pertarungan setelah kembali menang.


Tak ada jawaban dari para anak buah Herman. Tak ada yang berani menanggapi ataupun bergerak sedikitpun. Oleh karena itu, Rian pun segera berlari ke arah mereka yang berdiri kaku dan menyerang mereka satu per satu.


Bugh!


Buaak!


Pukulan dan tendangan dilancarkan Rian secara bergantian. Baru dua orang yang berhasil ditumbangkannya, yang lainnya langsung berlari menjauhinya karena ketakutan.


"Hah! Apa hanya segini  kemampuan kalian?" ledek Rian sambil menatap remeh ke arah Herman.


"Dasar bocah ingusan! Mari kita lihat apa kau masih bisa berkata seperti itu setelah menerima hadiahku ini?" balas Herman sambil mengarahkan sebuah revolver yang ada di tangannya ke arah Bella.


Rian terkejut melihat revolver tersebut dan dengan cepat dia pun segera melompat ke arah Bella untuk melindunginya.


Doorr! Doorr! Doorr!


Tiga buah peluru diletuskan dan Bella yang mendengarnya pun langsung menutup matanya dan telinganya dengan rapat.


Saat keadaan dirasa aman, dia dengan perlahan membuka kedua matanya. Namun, Rian segera menghentikannya dan menyuruhnya untuk tidak membuka mata.


"Tetap tutup matamu, itu lebih bagus dan seharusnya kau melakukannya sejak awal."


Bella menganggukkan kepalanya pelan dan tetap berada di posisinya. Meskipun dia sudah mulai tenang, tetapi air matanya masih terlihat mengalir tanpa suara.


Sebenarnya Rian merasa lega melihat kondisinya yang sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tetapi, darah segar kini mengalir keluar dari lubang yang dibuat oleh ketiga peluru yang menembus punggungnya.


Ketiga lubang di punggungnya itu tak memperlihatkan tanda-tanda beregenerasi. Tetapi, dengan perlahan Rian berusaha bangkit sambil berbalik menghadap ke arah Herman. Namun, sebelum itu terjadi ….


Jleb …!!


Sebuah pengait ditembakkan dan menembus tubuh Rian. Darahnya terciprat hingga ke wajah Bella yang membuatnya lupa dan membuka matanya untuk melihat kejadian apa yang baru saja terjadi.


"Kyaaaa …!!!"

__ADS_1


Bella berteriak histeris melihat Rian yang berdiri kaku dengan darah yang mengalir deras akibat sebuah pengait yang menembus tubuhnya. Tak lama kemudian, tubuh Rian ditarik menjauh dari Bella dengan paksa menggunakan pengait tersebut.


__ADS_2