Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
036 - Antara Duka dan Tawa


__ADS_3

"Diam kau agmar jelek!" hina Kanami.


Sreeet! Sreeet!


Dua helai benang bergerak dari arah belakang dan melukai punggung sekaligus bahu kiri Kanami hingga akhirnya membuatnya jatuh berlutut di depan Vera. Kanami menahan rasa sakitnya dari luka yang diterimanya dan bersiap untuk melakukan sebuah serangan dadakan dengan tombaknya yang jatuh di depannya.


"Rasakan ini!" 


Kanami dengan cepat bangkit dan mengayunkan tombaknya langsung ke kepala Vera. Vera mampu menghindarinya dan kemudian Kanami berputar bersama tombaknya untuk melakukan serangan sekali lagi.


Pats!


Sayangnya serangan kedua dari Kanami tidak berarti apa-apa karena Vera dengan mudah menangkap dan menahan tombak milik Kanami dengan satu tangannya.


"Ternyata kau licik juga," ujar Vera.


"Benarkah?"


Sreeet! Sreeet!


Tiba-tiba dua helai benang yang lain kembali muncul dan mengikat kedua tangan kanami dan menariknya ke kiri dan ke kanan dengan kencang. Sambil menyeringai, Vera memanjangkan semua kuku di tangan kirinya dan menusukkan semuanya ke perut Kanami.


Jleb!


Darah segar mengalir keluar dari lima lubang yang dibuat Vera. Kanami meringis kesakitan dan kemudian memuntahkan darah dari mulutnya. Dia berusaha untuk melepaskan diri, tapi sayangnya usahanya itu lagi-lagi sia-sia.


"Bagaimana rasanya menjadi tidak berdaya, hah? Jadi sekarang beritahu aku siapa namamu!" pinta Vera dengan paksa.


"Ternyata kau sangat penasaran ya? Phuff!"


Kanami tersenyum kecil dan kemudian meludahi wajah Vera dengan air liurnya yang telah bercampur dengan darah. Vera yang merasa terhina pun seketika murka dan menusuknya sekali lagi dengan tangan kirinya lebih dalam dari sebelumnya.


Dan sekarang, baik perut maupun mulutnya sama-sama mengeluarkan darah segar sekali lagi dalam jumlah yang banyak hingga membasahi jubah usang dan seragam Demon hunternya.


"KANAMI …!!!" teriak Rena yang hendak berlari menyelamatkan Kanami.


"TETAP DI SANA DASAR BODOH …!!!" 


Teriakan Kanami seketika menghentikan langkah Rena. Meskipun tubuhnya semakin melemah karena kehilangan banyak darah, Kanami tersenyum tipis sambil berkata pelan, "Biarkan aku seperti ini sebentar lagi saja."

__ADS_1


Ingin sekali Rena berlari ke sana dan menyelamatkannya. Tetapi dia sama sekali tidak berani menentang perintahnya, sungguh kondisi yang sangat menyulitkan untuknya.


"Hahaha … bagaimana rasanya Orang Sombong?" tanya Vera sekali lagi dengan nada mengejek.


"Sungguh, sungguh nikmat, dan sepertinya kau harus merasakannya juga!"


Duuk …!


Kanami menggantungkan tubuhnya pada dua helai benang yang mengikat kedua tangannya dan kemudian mendorong Vera ke belakang dengan sekuat tenaga menggunakan kakinya. 


Karena tubuh Vera yang agak kecil dan berada dalam kondisi yang tidak siap, maka dengan mudahnya dia terdorong ke belakang sejauh beberapa meter. Lalu, tak lama berselang, sebuah ayunan pedang berayun ke arah Vera dari arah kanan dan mendarat tepat di lehernya.


Triiiiingg …!!


Vera bergeming untuk sesaat. Meskipun Arya telah berhasil mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ke lehernya, jangankan luka, goresan pun tak dapat dibuatnya.


"Arya? Sejak kapan dia berada di sana?" batin Rena saat menyadari Arya yang awalnya berada di sampingnya kini telah berada di dekat Vera.


"Heh! Aku terkejut, benar-benar terkejut. Aku sama sekali tidak menyadari kehadiranmu," puji Vera.


"Tapi sayangnya kau tak akan bisa memenggal kepalaku dengan mudah!" sambungnya.


Buukk …!!


Pukulan itu mendarat di perut Arya dan seketika membuatnya terbang jauh ke langit dan kemudian jatuh di antara pepohonan yang rimbun.


Melihat Arya yang telah terjatuh, dengan semangat Vera pun mengentakkan sebelah kakinya ke tanah dan melesat dengan cepat ke tempat Arya berada, melewati benang-benangnya yang membentang di mana-mana.


Saat Vera sudah tak terlihat lagi, Rena memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari ke tempat Kanami berada dan berusaha untuk melepaskan kedua benang yang mengikat kedua tangannya. Namun, sayangnya itu tidak semudah yang Rena kira.


"Su-sudahlah Rena, tinggalkan saja aku, lebih baik kau-"


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu! Ketua Ares selalu mengatakan bahwa Divisi 7 bukanlah divisi yang meninggalkan rekannya!" potong Rena dengan kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Tapi … kau benar-benar tidak perlu menolongku, karena aku … benar-benar tidak apa-apa …,"


"Tidak apa-apa dengkulmu! Luka separah ini kau bilang tidak apa-apa?! Ini semua karena kau terlalu bergaya dan meremehkannya!" 


Rena menatap luka pada perut Kanami yang darahnya masih tetap mengalir. Kesedihannya sudah tak dapat dibendung lagi dan air matanya pun mulai mengalir saat Rena menyadari dia tak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Kanami.

__ADS_1


"Aku … benar-benar tidak apa-apa, sebaiknya kau membantu anak muda itu, aku tetap akan hidup … karena aku adalah …."


Tiba-tiba ucapan Kanami terputus begitu saja, kedua matanya langsung terpejam perlahan bersamaan dengan suara napasnya yang berhembus dengan keras hingga terdengar di telinga Rena.


"Kanami! Kanami …!!" teriak Rena sambil menyandarkan kepalanya di tubuh kanami dan memukul tubuhnya dengan pelan.


Rena menangis, air matanya mengalir dan membasahi kedua pipinya. Dia tidak menyangka seorang Demon hunter yang selama ini telah menjaga dan merawatnya selama di Divisi 7 tewas mengenaskan seperti itu.


Isak tangisnya tak kunjung berhenti dan beberapa saat kemudian suatu kejadian yang diluar dugaannya pun terjadi.


"Jangan … menangis …."


Tiba-tiba saja Kanami yang dikira Rena telah tewas kini kembali bersuara dengan suara lemah dan pelan. Rena yang terkejut mendengarnya segera menatap wajah Kanami dan terkejut melihat kedua matanya kembali terbuka.


"Kanami? Kau … masih hidup?" tanya Rena sambil sesekali menatap wajahnya dan luka di perutnya secara bergantian.


"Tentu saja aku masih hidup, mana mungkin aku mati dengan cara sekonyol ini?" balas Kanami sambil tersenyum.


"Ta-tapi … tapi tadi-"


"Tapi apa? Hah? Aku hanya tidur sebentar tahu, aku dapat memulihkan lukaku dengan cara tidur, apa kau mengerti?"


Seketika Rena menundukkan kepalanya, wajahnya berubah menjadi merah padam karena malu. Dia tidak menyangka dirinya akan salah paham untuk yang kedua kalinya.


"Hei! Kalau orang tua tanya dijawab, apa kau sudah mengerti?" tanyanya lagi.


"Diam," jawab Rena pelan dengan wajah yang kini tertunduk sambil menahan malu.


"Apa? Coba kau katakan sekali lagi, aku tak bisa mendengarnya No-na Ce-ngeng," olok Kanami sambil menyebutnya dengan julukan semasa kecilnya.


Rena sudah tidak tahan lagi dengan tingkah konyol Kanami dan dia pun memukul perut Kanami dengan sikunya dengan kuat.


"Uugh …!!"


Kanami menahan rasa sakit akibat pukulan siku yang Rena lepaskan kepadanya.


"Apa yang kau lakukan, hah?! Apa kau mau aku mati karena lukaku kembali terbuka?!" ucap Kanami kesal.


"Justru kau, tega-teganya kau membuatku hampir mati karena malu untuk yang kedua kalinya! Kau benar-benar tidak menghargai wanita dasar Kanami bod-"

__ADS_1


"Hei hei … sudahlah, apa menurutmu temanmu itu sanggup melawan agmar level tiga itu sendirian?" potong Kanami cepat.


__ADS_2