
Arya masih merasa ragu dengan apa yang dikatakan oleh suara yang didengarnya itu, dia menggenggam tanah di kedua tangannya sambil mencoba menenangkan diri.
"Tenanglah Arya, kau bisa gila jika seperti ini terus, tenanglah! Suara itu hanyalah khayalanmu saja," ucap Arya dalam benaknya.
"Siapa yang kau sebut khayalan?! Jangan samakan kami dengan khayalan bodohmu dasar idiot!" sindir suara lain yang tiba-tiba dia dengar.
"Dengar! Jika kau masih ingin hidup, maka lakukan apa yang dia katakan!" tambahnya lagi.
Arya terkejut dengan kemunculan suara lain dalam kepalanya. Sepertinya pemilik suara tersebut adalah orang yang kasar.
Tapi, ucapannya itu berhasil membuat Arya tersadar dan melakukan apa yang dikatakan oleh suara yang pertama.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Vera yang heran melihat Arya yang bangkit kembali dan mengarahkan pedang patahnya ke arahnya.
"Percayalah padaku, larilah ke arah agmar itu dan jangan berhenti walau sesaat pun," perintah suara yang pertama.
Arya mematuhi suara tersebut dan mulai berlari perlahan sambil menyeret pedang patahnya tersebut.
"Haa … kau pasti sudah gila ya?" ujar Vera.
Vera menarik sehelai benangnya untuk menyerang Arya dan sehelai benangnya yang lain pun muncul satu per satu dan mendekat ke arah Arya.
Tetapi beberapa saat kemudian, sebuah energi berwarna putih tiba-tiba terpancar keluar dari pedang Arya yang patah dengan diiringi oleh listrik-listrik kecil yang terus bermunculan pada bilah pedangnya.
Slash!
Benang-benang yang menyerangnya tersebut terpotong dengan mudahnya hanya dengan sekali ayunan. Arya terkejut melihatnya, karena itu dia pun mulai menjadi percaya diri dan menambah kecepatan berlarinya sebisa mungkin.
"Apa?! Bagaimana bisa?" batin Vera.
Vera terkejut melihat kejadian tersebut, dia tidak terima dengan apa yang terjadi dan menarik benang-benangnya sekali lagi.
Slash!
Slash!
Slash!
__ADS_1
Lagi-lagi benang-benangnya terpotong dengan mudah, jarak antara Arya dengan Vera semakin lama mulai semakin dekat. Vera menjadi kesal dan mulai mundur terus-menerus sambil terus menarik benangnya karena Arya yang terus mendekat.
"Bagus! Tetap seperti ini dan jangan berhenti, dengan lukamu yang sekarang akan sulit bagimu untuk bangkit lagi," ucap suara yang pertama.
"Benar, hanya ini satu-satunya kesempatan terakhirku untuk mengalahkannya, jadi mohon bantuannya!" balas Arya.
Arya terus berlari sekuat tenaga ke arah Vera sambil terus memotong benang-benang yang berdatangan, meskipun dirinya sudah hampir tidak punya tenaga dan kedua kakinya semakin terasa sakit, tetapi dia mencoba untuk tidak berhenti dan terus berlari mendekati Vera yang terus berusaha menjauhinya.
"Hei, sekarang sudah saatnya kau juga ikut membantu," kata suara pertama kepada suara kedua.
"Apa?! Kau pikir aku mau membagikan kekuatanku kepada orang sepertinya?"
"Dasar brengsek! Rasakan ini!" geram Vera.
Vera menarik beberapa benangnya sekaligus menjadi satu sambil tetap melompat menjauhi Arya. Tiba-tiba beberapa benang besar yang terdiri dari ratusan helaian benang yang menjadi satu muncul secara bersamaan untuk menghancurkan tubuh Arya.
"Gawat! Jika sebesar itu, apa aku bisa memotongnya?" ucap Arya dalam hati.
"Tenanglah, hanya untuk kali ini saja … akan aku pinjamkan kekuatanku dengan percuma," ucap suara kedua secara tiba-tiba.
Jraazz …!!
Energi yang terpancar tersebut terasa seperti api yang tengah berkobar, bahkan hawanya terasa begitu berat dan mengerikan sampai-sampai rasanya Arya tak berani untuk menganyungkannya.
"Cepat! Ayunkan pedangmu sekarang!" perintah suara pertama.
Arya mengumpulkan tenaganya dan menganyungkannya sekuat mungkin. Pedangnya menyentuh benang-benang besar itu dan seketika semua benang tersebut pun terpotong dan hancur menjadi potongan kecil-kecil oleh api berwarna ungu yang menjalar ke setiap benang tersebut.
Vera lagi-lagi dibuat terkejut olehnya, saking terkejutnya dia sampai tersandung dengan kakinya sendiri dan akhirnya jatuh terlentang di tanah.
Arya hendak mengayunkan pedangnya kepada Vera. Namun, karena dia mulai kehilangan kesadaran dan tenaga telah habis, ayunan pedang Arya pun malah berayun ke depan yang mana Vera kini telah terjatuh dan secara mengejutkan semua energi pada pedang patahnya itu melesat ke depan dalam bentuk gelombang horizontal.
Energi itu terus bergerak maju dan menghancurkan setiap pohon dan apa pun yang menghalanginya hingga rata dengan tanah.
Bruuk …!
Tak lama kemudian, Arya pun ambruk di dekat Vera. Di saat-saat terakhir kesadaran hilang, suara pertama pun berkata untuk yang terakhir kalinya pada Arya.
__ADS_1
"Sekarang kau sudah satu level lebih lebih kuat dari sebelumnya. Berilah nama pada kemampuanmu tersebut dan kau akan bisa menggunakannya lain kali jika kau membutuhkannya."
Kini, kesadaran Arya telah hilang sepenuhnya. Keinginannya untuk bangkit sekali lagi dan mengalahkan Vera tidak dapat terpenuhi karena dirinya telah mencapai batas dari dirinya sendiri.
Vera tidak bergerak untuk beberapa saat, dirinya masih mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat dan tidak masuk akal.
"Bagaimana bocah lemah ini tiba-tiba menjadi kuat? Atau … selama ini dia hanya pura-pura lemah karena kekuatannya ini masih membebani tubuhnya?" pikir Vera sambil memandangi Arya.
Vera tak mau ambil pusing lagi, dia pun segera bangkit dan berdiri di samping Arya yang sedang tidak sadarkan diri.
Dia menoleh ke arah energi pada pedang Arya melesat dan melihat area yang dilewati energinya tersebut telah bersih dari semua yang menghalanginya.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dari mana asal kekuatanmu itu? Apa itu kekuatan dari gerbang pertamamu? Apa pun itu, kau sudah salah karena telah menyembunyikannya dariku," ucap Vera sambil meletakkan kaki kanannya ke atas kepala Arya.
"Kau berhasil membuatku terkejut sampai beberapa kali, karena itu aku akan membunuhmu dengan cepat agar kau dapat mati tanpa merasakan rasa sakit dan juga agar aku bisa memakanmu lebih dulu daripada teman-temanmu."
Vera mulai menekan kepala Arya sedikit demi sedikit dan sesaat kemudian sebuah tangan tiba-tiba muncul dan memegangi bahu kirinya.
"Hei, jauhkan kaki kotormu dari kepala muridku," ucap Torak yang memegangi bahu Vera dari belakang.
"Siapa kau?" tanya Vera sambil mencoba melirik ke arah Torak.
Tangan yang memegangi bahunya itu bergerak ke wajahnya dan kemudian mendorongnya menjauh sampai Vera harus mundur beberapa langkah.
"Kurang ajar! Bagaimana kau bisa masuk ke dalam penghalangku?!" tanya Vera dengan emosi yang mulai naik.
Torak tidak memperdulikan Vera, dia berjongkok dan segera membersihkan wajah Arya dari tanah yang mengotori wajahnya.
Vera menjadi geram dengan tingkahnya yang mengabaikan dirinya dan segera menarik beberapa benang untuk menyerangnya.
Beberapa benang pun datang menghampirinya, tetapi Torak hanya menganyunkan tangannya ke arah benang tersebut datang dan benang-benang itu pun langsung hancur sebelum sempat mengenai tubuhnya.
Kejadian tersebut membuatnya terkejut, Torak pun berdiri kembali dan Vera mulai bersiap di posisinya.
Torak menoleh ke arah Vera, dia menatapnya, dan tersenyum. Meskipun Vera sangat ingin menyerang Torak kembali, tetapi tubuhnya sekarang tiba-tiba tak dapat digerakkan.
"Tadi … kau bertanya bagaimana aku bisa masuk ke dalam penghalangmu, kan? Aku memang bukan seorang ilmuwan, tapi aku punya satu teori yang paling masuk akal," terang Torak.
__ADS_1
Vera mendengarkan ucapannya sambil terus mengerahkan seluruh tenaganya untuk bergerak, namun usahanya itu berakhir sia-sia.
"Teori tersebut adalah orang yang memiliki jumlah energi yang jauh lebih besar dari si pemilik penghalang akan bisa dengan mudahnya keluar masuk dari penghalang dari si pemilik penghalang."