Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
022 - Akhir Dari Perburuan


__ADS_3

"A-apa ini?" ucap Rena sambil mencoba untuk bertahan dengan menancapkan pedangnya.


"Sampai jumpa," ucap Erik pelan.


Namun, usahanya itu tidak berhasil karena tak lama kemudian tubuh mereka berempat terbang ke belakang melewati lorong yang telah mereka lewati hingga berakhir di ruangan pertama setelah pintu masuk dari rumah besar tersebut.


Buukk …!


Arya dan Rena sama-sama meringis kesakitan setelah tubuh mereka sama-sama menghantam beberapa perabotan yang ada di sana. Sedangkan Victor mendarat dengan aman dan selamat tanpa terluka dengan memanfaatkan kemampuan dari velisnya.


"Aaww …!! Rasanya tulang punggungku hampir patah," ringis Arya sambil mencoba berdiri dengan perlahan.


"Dasar lemah! Itu saja sudah kesakitan," ejek Victor.


"Ha?! Apa katamu? Coba ulangi-"


"Sudahlah! Sekarang bukan waktunya untuk berdebat!" potong Rena sebelum Arya semakin terpancing.


Arya merasa kesal sendiri. Lalu, dia pun memalingkan pandangannya ke arah lain sambil melipat kedua tangannya.


"Oh ya, di mana Rian?" tanya Rena ketika menyadari bahwa Rian tidak ada di sekitar mereka.


Seketika Arya pun tersadar dan langsung berlari ke dalam rumah besar tersebut lagi untuk mencari Rian di ruangan yang tadi Erik beritahu.


Namun, belum sempat Arya melangkah masuk ke dalam lorong yang mengarah ke tempat tadi mereka berada, tiba-tiba dia harus menghentikan langkahnya karena melihat Rian yang tengah berjalan kembali dari dalam sana sambil menggendong Bella di punggungnya.


Di punggung Rian, Bella terlihat ketakutan dengan air mata yang mengalir tanpa suara sambil memegang erat bahu Rian. Beberapa saat setelah mereka berlima berkumpul, tiba-tiba dari luar terdengar suara sirene polisi dan cahaya dari lampu-lampu mobil menyoroti ke dalam rumah tersebut.


"Arya," panggil Victor. 


"Temui aku di tempat 'Itu' tiga hari lagi dari sekarang setelah pulang sekolah. Itu pun jika kau ingin aku tak muncul lagi di hadapanmu," sambungnya yang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah besar tersebut. 


Keadaan terasa hening begitu Victor pergi meninggalkan mereka berempat di sana. Tapi, sesaat kemudian, tiba-tiba pintu masuk didobrak sehingga keheningan yang terbentuk pun terpecahkan. Beberapa orang berseragam masuk dengan senter yang menyala yang terpasang di senjata api yang mereka pegang.


Untungnya sebelum mereka sempat melihat, Arya dan Rena terlebih dulu berhasil menyembunyikan kekuatan mereka sehingga pedang mereka pun menghilang.


"Angkat kedua tangan kalian!" perintah salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Maaf Pak! Sebenarnya kami-'


Bugh!


Tanpa peringatan tiba-tiba perut Arya dipukul menggunakan popor senjata oleh salah satu dari mereka begitu dia mendekat dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


"Diam dan lakukan saja seperti yang kami perintahkan!" bentak mereka memperingatkan Arya.


Kemudian kedua tangan mereka bertiga diborgol di belakang dan mereka pun dituntun keluar sambil ditodongkan senjata, sedangkan Bella diturunkan dari punggung Rian dan dia keluar secara terpisah.


Saat mereka keluar, cahaya lampu menyoroti mereka, begitu menyilaukan di mata. Di depan mereka terlihat ada banyak mobil  yang membarikade bagian depan rumah dengan beberapa pasukan bersenjata di posisi siap menembak.


Karena cahaya tersebut Bella membuka matanya perlahan, dilihatnya satu per satu dari setiap orang yang berada di sana dan perhatiannya tertuju ke seorang pria yang baru keluar dari mobil dengan setelan jas formal.


Bella merasa mengenali pria tersebut dan kemudian berlari ke arahnya sambil memanggilnya dengan sebutan 'Paman Rei'. Pria tersebut menyambut Bella dalam pelukannya dan mereka pun menangis melepas rindu.


"Sepertinya dia pamannya Bella," ujar Rian kepada Arya.


"Iya, pasti tidak salah lagi. Semoga kali ini dia aman," ucap Arya sambil memandangi Bella yang masih berada dalam pelukan pamannya.


Karena kedua tangan Arya terborgol di belakang tubuhnya, maka dengan susah payah dia pun memutar kedua tangannya ke depan melalui kedua kakinya dan akhirnya dia pun mengangkatnya.


"Halo? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Arya cemas setelah melihat yang meneleponnya itu adalah Wulan.


"Kalau aku baik-baik saja, tapi sayangnya tangan kiri Nanda patah. Oh ya, bagaimana keadaan Bella dan Rena?"


"Rena juga baik-baik saja, sedangkan Bella … sekarang dia sudah bertemu dengan pamannya kembali," jelasnya dengan nada yang tak senang.


"Baguslah kalau begitu, dan bagaimana keadaanmu? Apa ku baik-baik juga?" tanya Wulan yang membuat Arya seketika terkejut.


Dia sama sekali tidak menyangka Wulan akan menanyakan hal itu padanya. Arya terdiam sesaat dengan pikiran dan perasaan yang sedikit kacau.


"Arya? Apa kau masih di sana?" tanya Wulan memastikan.


"Ah, tentu saja. Kau ingin bertanya keadaan Bella dan Rena, kan?" ucap Arya yang terlihat bingung sendiri.


"Apa maksudmu? Kau sudah memberitahu keadaan mereka tadi, apa kau tidak mendengar pertanyaanku?"

__ADS_1


Arya terdiam sejenak dan menjawab dengan suara pelan dan sedikit patah-patah, "Ti-tidak." 


"Yang ingin kutanyakan itu keadaanmu, apa kau baik-baik saja?"


Kedua mata Arya mulai berkaca-kaca dan akhirnya menetes keluar ke pipinya. Arya menyapu air matanya tersebut dan mencoba untuk membendungnya.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku akan segera pulang," jawabnya yang kemudian mengakhiri telepon dari Wulan tersebut.


*****


Tiga hari pun berlalu, kini keadaan Bella sudah membaik dan kembali bersekolah seperti biasa. Tapi sekarang dia tak lagi tinggal di rumah besar di pinggir kota, melainkan di kos-kosan sederhana yang mudah dipantau oleh pamannya agar hal buruk tidak lagi terjadi padanya.


Sehari sebelumnya, Rian dan Arya kembali masuk ke sekolah. Tetapi mereka sama-sama mendapat perlakuan buruk kembali dari semua murid di sekolahnya setelah tujuh bulan terakhir ini kesan buruk mereka mulai berkurang.


Seperti biasa, setiap kali jam istirahat tiba Arya dan Rian pergi ke atap gedung sekolahnya. Tapi kali ini bukan untuk menikmati jajanan mereka, melainkan untuk saling mengadu nasib buruk yang kembali menimpa mereka kemarin dan hari ini.


Kriiet .…


Pintu menuju atap tersebut perlahan dibuka dari dalam dan seorang gadis yang dikenal agak tomboy pun muncul dari balik pintu tersebut.


"Yo! Bagaimana keadaan kalian?" sapa Nanda dengan semangat. 


Arya dan Rian menoleh sesaat ke arah Nanda, pandangan mereka tertuju ke arah tangan kirinya yang patah. Mereka berdua sama-sama merasa bersalah dan kemudian mereka pun menoleh bawah, merenungi kesalahan mereka.


"Kalian ini kenapa? Seperti mayat yang sudah kehilangan nyawa saja," ujar Nanda.


"Menurutnya bagaimana? Sejak kemarin barang-barangku terus saja disembunyikan," jawab Arya.


"Dan mejaku lagi-lagi dicoret dengan gambar-gambar yang seharusnya tidak boleh ada," sambung Rian.


"Haa … sudahlah tidak perlu terlalu dipikirkan, lagi pula mereka masih bocah, lama-lama nanti mereka pasti bosan sendiri," hibur Nanda.


"Bosan dari mananya? Tujuh bulan yang lalu sebelum sikapku sedikit berubah mereka selalu melakukan hal ini setiap hari tanpa henti. Dan sekarang usahaku untuk berubah tersebut menjadi sia-sia karena pada akhirnya mereka kembali melakukannya lagi padaku," ucap Arya panjang lebar.


"Ya … setidaknya karena sikapmu berubah itu kau jadi dapat masa tenang selama tujuh bulan," balas Nanda. 


"Jadi bagaimana? Setelah kejadian pada malam itu, apa kalian baik-baik saja?" sambungnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2