
Arya sedikit tersentak dan mencoba mengingat-ingat kembali siapa dia sebenarnya. Namun, Arya tidak mendapat jawabannya, yang dia tahu satu-satunya orang berwajah mirip dengannya hanyalah Wulan seorang, itu pun wajahnya sekarang sudah tampak berbeda dengan Arya.
"Haa … sepertinya kau masih belum tahu jawabannya. Aku adalah suara pertama yang membantumu mengalahkan agmar yang kau lawan, meskipun pada akhirnya kau gagal karena kekuatan yang kuberikan masih sedikit membebani tubuhmu dan kondisimu juga yang telah mencapai batasnya," jelasnya.
"Jadi, itu kau?" tanya Arya yang masih tidak percaya.
"Siapa kau sebenarnya? Ada begitu banyak pertanyaan di dalam kepalaku yang ingin kutanyakan padamu," tanya Arya lagi.
"Aku tahu itu, tapi tolong simpanlah semua pertanyaanmu itu. Untuk sekarang pertemuan ini sudah lebih dari cukup, aku akan menjawab sebagian dari pertanyaanmu di pertemuan kita yang berikutnya,"
"Ta-tapi, memangnya pertemuan selanjutnya itu kapan?"
"Waktu berjalan begitu cepat, sampai-sampai kita tak akan bisa menyadarinya. Pertemuan kita yang berikutnya akan segera tiba. Jadi, tidak perlu terburu-buru, sekarang pergilah, saat ini … ada orang yang sedang menunggumu," ucapnya seraya mendorong tubuh Arya dengan pelan.
Pria itu memang mendorong Arya dengan pelan, tetapi anehnya Arya merasa terus terdorong menjauh dari pria tersebut dengan sekelilingnya yang mulai berubah menjadi gelap gulita dan tak lama kemudian semuanya lenyap seketika.
*****
Sinar matahari menembus gorden yang menutupi jendela dan menyinari Arya yang terbaring di atas sebuah ranjang. Untuk yang kedua kalinya, Arya pun membuka kedua matanya dan bangkit.
Tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit seperti terbentur dengan sesuatu dan dia pun memutuskan untuk duduk di atas ranjangnya terlebih dulu untuk sesaat.
Setelah beberapa saat, sakit kepalanya perlahan mulai mereda, dan perhatiannya mulai berpindah ke perban yang membalut perut, kedua tangan, hingga kepalanya.
Sedikit demi sedikit kepingan demi kepingan ingatan tentang pertarungannya dengan Vera pada malam itu mulai bisa diingatnya kembali. Arya juga ingat akan hasil akhir dari pertarungannya yang di mana dia kalah karena tiba-tiba kehilangan kesadaran.
"Oh ya, sebelumnya aku bertarung melawan agmar level tiga dan aku kalah karena pingsan. Tapi … kenapa aku bisa di sini?" batinnya.
__ADS_1
Arya mengarahkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang dia tempati dan dia pun sadar bahwa dirinya tengah berada di sebuah kamar yang sangat dikenalnya. Ya, kamar yang sangat dikenalnya, yaitu kamar rawat inap di rumah sakit tentunya.
Di tepi ranjang tempat Arya berbaring, ada seorang gadis yang tengah tertidur lelap di sana dengan posisi membenamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang dilipat.
Rambut hitam panjang dan pakaian yang dikenakannya membuat Arya langsung dapat mengenali siapa gadis tersebut yang adalah kembarannya sendiri, yaitu Wulan tanpa perlu memastikannya. Arya hendak membangunkannya, tetapi dia pun segera mengurungkan niatnya.
"Sudahlah, siapa tahu dia sedang kelelahan," batinnya sambil tersenyum hangat ke arahnya.
Arya menghentikan tangannya yang hampir menyentuh bahu Wulan dan hendak menjauhkan tangannya kembali darinya, tetapi tiba-tiba saja Wulan bersuara dan berbicara padanya tanpa mengubah posisinya terlebih dulu.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Arya merasa terkejut saat mendengar suaranya dan dengan cepat dia langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela dan memasang wajah dingin.
"Ti-tidak ada, kau sudah bangun?" tanya Arya mengalihkan topik pembicaraan.
"Be-beberapa hari?!"
Sekali lagi Arya terkejut dan dengan cepat menoleh ke arah Wulan. Wulan pun mulai mengangkat wajahnya dan menatap Arya dengan tatapan yang biasa diperlihatkannya.
"Iya, jika dihitung dengan pagi ini, maka ini sudah hari ketiga kau tidak sadarkan diri."
Arya termenung sesaat setelah mendengarnya dan kemudian dia pun tersadar akan suatu hal yang menurutnya sangat penting untuk ditanyakan.
"Bagaimana keadaan Rena dan Rian?"
"Jika kau menanyakan Rian itu sudah biasa, tapi jika kau menanyakan Rena itu baru luar biasa. Biasanya kau tidak terlalu memperdulikan orang lain, jadi kenapa kali ini kau tiba-tiba menanyakan keadaannya juga?"
__ADS_1
"Sudahlah, jawab saja pertanyaanku," perintah Arya dengan kedua mata yang dipejam.
"Hmm … ada yang mencurigakan," balas Wulan dengan mata yang menyipit layaknya seorang detektif yang sedang mencurigai seseorang.
"Aku bilang jawab saja pertanyaanku!"
"Kalau aku tidak mau?"
Arya merasa geram padanya dan menggertakkan giginya. Dengan kedua matanya yang kembali dibuka dan raut wajah kesal yang diperlihatkannya, Arya pun membalas, "Kau Wulan bisa tidak jangan membuatku kes- aduduh …!!"
Arya meringis sambil menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di area sekitar dadanya yang membuat ucapannya menjadi terpotong.
"Tuh kan, makanya jadi orang harus sabar …!" nasihat Wulan dengan nada seakan dialah pemenang.
"Sudah cukup! Jangan banyak basa-basi dan cepat beritahu aku!"
"Apa kau yakin ingin tahu?" tanya Wulan dengan nada dan tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Tentu saja, memangnya kapan aku bercanda?" sahutnya.
Wulan kemudian bangkit dari kursi yang didudukinya di samping ranjang tempat Arya berbaring dan berjalan ke arah jendela di kamar tersebut. Dia membuka gorden yang menutupinya dan seketika cahaya matahari yang terhalang pun dengan cepat masuk dan menerangi seisi kamar menjadi lebih terang.
"Ketika ditemukan … Rian dalam keadaan baik-baik saja, tapi sayangnya … Rena …,"
"Rena kenapa? Dia baik-baik saja kan?"
Raut wajah Wulan kembali berubah dan kini menjadi murung dengan kedua telapak tangannya digenggam dengan kuat diatas kosen jendela. Melihat genggaman tangannya itu membuat Arya menjadi sedikit takut untuk mendengar kelanjutannya.
__ADS_1
"Rena … karena dia mengalami pendarahan yang cukup parah, dia … dia tidak dapat diselamatkan," sambungnya sambil menoleh ke arah Arya dan menampakkan raut wajah kesedihan padanya.