
Kini, Rian, Victor, dan Arya tengah menelusuri lorong panjang yang membawa mereka ke bagian tengah rumah besar tersebut. Selama dalam perjalanan, tak jarang mereka bertemu dengan para anak buah Herman yang melihat mereka dan berniat menyerang. Namun ….
Jleb!
Jleb!
Belum sempat mereka menarik pedang mereka, Victor dengan cepat melepaskan belati hitamnya langsung membunuh mereka.
Setiap kali hal itu terjadi, Arya selalu bergetar dan selalu mencoba memintanya untuk menghentikan aksinya itu, hingga akhirnya membuat Victor jengkel dan tak tahan lagi.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, hah?! Apa kau ingin kubunuh juga?" bentak Victor sambil mendorong tubuh Arya menjauh darinya dengan kasar.
"Tindakanmu itu terlalu berlebihan! Kita bisa melumpuhkan mereka daripada harus membunuh mereka, kan?"
"Kau bercanda? Bagaimana kalau mereka bangun dan menyerang kita lagi di saat kita lengah?"
Arya terdiam membisu, dia tak dapat berkata-kata lagi karena merasa telah terpojok.
"Ke arah mana lagi?" tanya Rian memecahkan keheningan yang terjadi.
Seketika mereka berdua pun menoleh ke arah Rian yang kini telah berada di ujung lorong. Victor yang sudah tak tahan dengan Arya pun meninggalkannya dan berjalan ke arah Rian.
Di ujung lorong tersebut, Victor melihat ada sebuah ruangan yang sangat besar. Di sana terdapat dua buah tangga yang terletak di kiri dan kanan ruangan yang sama-sama mengarah ke lantai dua.
Di bawah lantai dua tersebut terdapat tiga lorong yang mengarah jauh ke dalam.
"Sebaiknya kita ke mana?" tanya Rian lagi.
"Jika kalian ingin menyelamatkan teman kalian seharusnya kalian menuju lorong yang ada di lantai dua itu. Tapi sepertinya … ada seseorang yang ingin menyambut kedatangan kita," jawab Victor sambil menyeringai.
Arya dan Rian tak mengerti dengan ucapannya. Namun, tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan yang berasal dari sebuah lorong di lantai dua yang tadi ditunjuk Victor.
Tak lama kemudian, Herman pun muncul dari dalam lorong yang ada di lantai dua dan berhenti sambil menatap ke arah mereka bertiga dengan tatapan sinis.
"Akhirnya kita bertemu lagi. Terutama kau, Victor sialan!" sapa Herman dengan aura membunuh mengarah ke Victor.
"Ya, akhirnya kita bertemu kembali. Dasar penyihir bajing*n!" balas Victor balik.
"Ka-kau mengenalnya?" tanya Arya yang terkejut.
"Hahaha! Sudahlah kau diam saja."
Herman terus melirik ke arah Victor dan kemudian meletakkan tangan kanannya pada pedang yang tersarung di pinggang sebelah kirinya.
"Aku tidak bisa membunuhmu meskipun aku ingin melakukannya sejak lama. Tapi sekarang berbeda, karena kau telah mengganggu tugasku maka aku akan membunuhmu sekarang juga,"
Sriiingg …!!
__ADS_1
"Gerbang pertama : penjaga batu!"
Herman menarik pedangnya, setelah dia mengucapkan serangkaian kata mirip mantra, energi spiritnya yang telah bercampur dengan energi gelap keluar dari bilah pedangnya dan turun ke lantai bawah.
Energi itu terus keluar dan berkumpul yang sesaat kemudian menciptakan dua golem setinggi empat meter dengan kedua kaki agak pendek dan kedua tangan panjang yang dijadikan penopang tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Victor.
"Seharusnya itu pertanyaanku! Bukankah Tuan sudah menyuruhmu untuk menangkapnya? Tapi kenapa kau malah membantunya menyelamatkan Bella?"
"Maksudmu menangkap Arya? Terserah aku mau melakukan apa padanya, karena mulai sekarang aku tak mau diperintah lagi, aku mau hidup dengan caraku sendiri!"
"Berarti kau ingin mati ya? Kalau begitu akan aku kabulkan."
Tiba-tiba salah satu golem menyerang Victor dengan tangannya. Namun, karena serangan tersebut terlihat lambat, Victor pun dapat menghindarinya dengan mudah sambil menyiapkan sebuah belati hitam untuk menyerang Herman.
"Terlalu lambat! Rasakan ini!"
Belati tersebut dilesatkannya dengan cepat oleh Victor.
Doorr …!!
Namun, dengan cepat Herman menembak belati tersebut hingga hancur hanya dengan satu tembakan dari sebuah revolver di tangan kirinya.
"Hahaha! Sekarang siapa yang lambat?" balas Herman sambil tersenyum ke arahnya.
Duuk …!!
Braak …!!
Dirinya terpental hingga menghantam tembok. Dia memang berhasil mengurangi dampak langsung dari serangan golem tersebut dengan velisnya, tapi sayangnya tidak dengan bagian belakang tubuhnya yang menghantam tembok.
"Victor!" teriak Rian.
"Sudahlah! Kita tidak perlu mengkhawatirkannya, dia itu juga mus-"
Bruuk …!!
Satu golem lagi berada di dekat mereka menyerang. Mereka memang dapat menghindarinya, tapi beberapa serpihan lantai yang hancur dan berterbangan berhasil sedikit melukai Arya.
Beberapa anak buah Herman muncul dari balik lorong yang berada di belakangnya dan Herman pun segera memerintahkan mereka untuk melakukan formasi penyerangan.
Beberapa dari mereka melompat turun dan menyerang Arya sehingga Rian terpaksa menghadapi golem yang menyerangnya itu seorang diri.
"Sialan kau Herman!"
Victor melesatkan beberapa belati hitamnya lagi. Namun semua belatinya segera dihancurkan oleh tembakan Herman beserta beberapa anak buahnya yang tetap berada di dekatnya.
__ADS_1
"Hahaha …! Kau masih berada di level yang sangat jauh di bawahku! Jadi hadapilah golemku yang akan mengantarkanmu kepada maut hahahahaha …!"
Victor berusaha semampunya untuk menyerang sebuah golem yang menjadi lawannya. Tetapi dari semua serangannya, tak ada satu pun yang mempan, jangankan terluka, bahkan serangan Victor terasa seperti tak pernah ada.
Bruuk!
Tangan dari golem yang dilawan Rian mendarat di depannya dan dengan segera dia pun menaikinya menuju kepala golem tersebut.
Duuk!
Pukulannya masuk dengan sempurna ke kepalanya, tetapi tak berefek sama sekali. Tangan satunya lagi dari golem tersebut bergerak hendak menangkapnya, tetapi dengan mudah dapat dihindarinya dan melompat ke dekat tangga menuju lantai dua.
Doorr!
Doorr!
Dua peluru ditembakkan oleh Herman ke arah Rian yang mengiringinya kembali ke dekat golem yang dilawannya.
"Jangan kabur dan terus hadapi golemku!" teriak Herman dari lantai dua.
Bruuk!
Sekali lagi golem tersebut menyerang dan Rian kembali berhasil menghindar.
"Sial! Ini tak akan berakhir, golem-golem ini tidak mempan jika diserang bagaimana pun, bahkan Victor yang malam itu bisa mengalahkanku saja tak bisa berbuat apa-apa.
"Ditambah lagi jika aku mendekati tangga, Herman dan anak buahnya akan menembakiku," batin Rian.
Slaash!
Suara tebasan terdengar, selagi Rian menghindari serangan golem yang menyerangnya, dia menengok ke arah Arya yang sedang menghadapi beberapa anak buah Herman sekaligus.
Arya jatuh terkapar di lantai dengan darahnya yang mengalir dari luka tebasan yang baru saja diterimanya. Beberapa anak buah Herman yang tadi bertarung melawan Arya mulai mengepungnya dari dekat dan mengarahkan pedang mereka ke atas kepala Arya.
"Arya!"
Bruuk!
Dirinya hendak pergi membantu, tetapi golem yang dia hadapi tidak memberinya sedikit kesempatan untuk pergi.
"Aku kira kau hebat, tapi ternyata hanya orang yang terlihat hebat yang sebenarnya tidak berani melukai lawannya sedikit pun," ujar salah satu anak buah Herman yang mengepungnya.
Arya mencoba bangkit, tetapi dengan cepat dia dipaksa untuk tetap terkapar oleh ujung pedang mereka yang diarahkan padanya.
"Tidak perlu bangkit lagi, kisah hidupmu akan berakhir di sini," ucap salah satu dari mereka sambil mengangkat pedang mereka bersama-sama ke atas, bersiap menusuk Arya.
"Arya!" teriak Rian lagi.
__ADS_1
Di saat yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba seekor kucing hitam melintas di depan Rian menuju ke tempat Arya berada. Begitu melihat kucing tersebut, seketika memunculkan sebuah harapan besar di hati Rian.