Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
044 - Perintah


__ADS_3

Di sebuah ruangan besar, terdapat sebuah singgasana yang diduduki oleh seorang elf dengan mahkota di kepalanya yang menandakan bahwa dia adalah seorang Raja Elf. 


Di sampingnya berdiri seorang elf lain dengan perawakan yang jauh lebih tua dari sang Raja Elf yang merupakan penasihat raja sekaligus Wakil Ketua Divisi 1 yang bernama Nizan.


Di hadapan mereka terdapat sebelas bangku yang telah diduduki oleh para Ketua Divisi. Bangku tersebut berbentuk bundar dan disusun menjadi dua baris yang setiap baris dari bangku tersebut berada di tepi dari karpet merah yang mengarah ke singgasana.


Meskipun terdapat sebelas bangku, tetapi hanya bangku pertama saja yang tidak diduduki. Sedangkan sepuluh bangku lainnya diduduki oleh sepuluh orang Ketua Divisi yang mengenakan seragam hitam khas Demon hunter dengan jubah lain yang menutupi di atasnya, jubah tersebut berwarna hijau dan di belakangnya terdapat lambang dari kerajaan elf dan angka dari divisi yang mereka pimpin.


"Karena semua Ketua telah hadir, dengan ini aku nyatakan rapat Ketua Divisi dimulai!" ucap Nizan yang berdiri di samping singgasana dengan suara yang lantang.


"Kanami, Demon hunter peringkat 9 dari Divisi 7 dipesilakan masuk untuk memberikan laporan!" ucapnya lagi.


Sesaat kemudian pintu ke ruangan besar tersebut terbuka dan Kanami masuk perlahan sambil menjaga caranya berjalan. Ketika sampai di tengah-tengah dari dua barisan ketua, dia pun segera berlutut untuk memberi hormat kepada semua yang ada di ruangan itu, terkhusus kepada Raja Elf yang duduk di singgasananya.


"Hormatku kepada Yang Mulia dan para Ketua Divisi sekalian, aku Kanami peringkat 9 dari Divisi 7 datang untuk melapor. 


"Aku adalah satu-satunya yang selamat dari pasukan yang ditugaskan untuk memburu agmar dengan kode G-34 yang kabur dari laboratorium Divisi 11.


"Dalam menjalankan misi, aku bertemu dengan seorang Demon hunter yang tidak terdaftar, dia memiliki blade soul seperti Demon hunter kebanyakan. Tetapi aku merasakan ada hawa energi gelap dalam dirinya yang kemungkinan kalau dia adalah seorang penyihir,"


"Benarkah? Jika dia seorang penyihir bagaimana dia bisa memiliki blade soul? Para penyihir telah melakukan pemberontakan pada 400 tahun dan sepuluh tahun yang lalu. Apa itu berarti … tak lama lagi pasukan Demon hunter manusia juga akan melakukan pemberontakan?" ujar seorang elf bernama Kai yang duduk di bangku keenam.


"Tolong jaga ucapanmu Ketua Kai, ucapanmu itu dapat memperkeruh masalah yang sedang kita semua hadapi saat ini," balas elf lain bernama Seira dari bangku kelima.


"Hah! Buat apa? Kita sudah memberi mereka kekuatan agar dapat melindungi ras mereka yang lemah. Tapi setelah itu, kenapa mereka malah berniat untuk membinasakan ras kita yang telah berjasa? Dasar makhluk serakah," 

__ADS_1


"Cukup Kai!" bentak Sang Raja Elf yang langsung membuat Kai langsung menundukkan kepalanya dan mulai merenungi perkataan yang telah diucapkannya.


"Ucapanmu memang benar, tapi kau tidak boleh seenaknya berkata seperti itu. Sejak beberapa generasi yang lalu posisi ketua divisi telah diisi oleh Demon hunter manusia, dan sekarang sebagian besar posisi tersebut telah mereka isi seperti yang kau saksikan pada hari ini, itu menunjukkan bahwa kita membutuhkan mereka," ucapnya lagi. 


Kai mengarahkan pandangannya ke bangku ketua divisi lain yang diisi oleh para Demon hunter dari ras manusia. Mereka menampilkan rasa kesal di wajah mereka akibat dari perkataan yang Kai lontarkan. 


"Aku sudah mengatakannya berkali-kali, kita harus menghilangkan sikap diskriminasi pada Demon hunter ras manusia agar kejadian 400 tahun yang lalu dan kejadian sepuluh tahun yang lalu tidak terulang kembali. 


"Dan Kanami, selesaikan laporanmu dan jelaskan lebih detail apa yang kau ketahui tentang Demon hunter yang kau sebut tersebut," perintah Sang Raja Elf.


"Baik! Selama aku menjalankan misi, aku sempat bertemu dengan buronan kelas atas yaitu Torak dan Andika dan buronan kelas bawah yang baru-baru ini perintah penangkapannya baru beredar, yaitu Rena.


"Demon hunter yang tidak terdaftar tersebut memiliki tingkat kekuatan yang setara dengan Demon hunter level satu dan dia tampak memiliki hubungan yang dekat dengan Rena. 


"Selain itu, saat dia sempat bertarung melawan agmar G-34, saat harapan untuk mengalahkannya telah tidak ada, tiba-tiba saja dia bertambah kuat dan berhasil membuat agmar G-34 terdesak,"


"Demon hunter itu gagal membunuh agmar tersebut dan kemudian Torak datang lalu mengalahkannya dengan mudah. Torak dan Andika melepaskanku dan membiarkanku kembali ke Altera begitu saja.


"Hanya itu laporan dari saya, saya mohon undur diri dan terima kasih," jelas Kanami menutup laporannya.


"Baik, laporanmu diterima, silakan kembali ke Divisiku lagi," 


"Baik! Sekali lagi terima kasih Yang Mulia."


Kanami memberi hormat kepada Raja Elf dan semua orang yang ada di ruangan itu, setelah itu dia berbalik dan berjalan keluar sampai pintu ke ruangan tersebut yang dibuka agar dia keluar akhirnya ditutup kembali.

__ADS_1


Raja Elf yang sejak tadi duduk di singgasananya, kini berdiri dan mulai mengatakan sesuatu setelah mendengar laporan dari Kanami.


"Sesuai laporan yang Kanami berikan, aku … Tirta … selaku Raja Elf yang menguasai Altera sekaligus Ketua Divisi 1. Dengan ini menugaskan Eden selaku Ketua Divisi 8 dan Dante selaku Ketua Divisi 10 untuk pergi ke dunia manusia dan menangkap buronan kelas bawah, Rena.


"Sebisa mungkin hindari Torak dan Andika, jika kalian anggap perlu, bawalah anggota divisi kalian seperlunya untuk berjaga-jaga dari serangan para penyihir. Dan satu lagi, tangkap Rena dalam keadaan hidup karena kita masih memerlukannya agar permata kehidupan bisa cepat kita temukan." 


"Baik!" sahut Eden dan Dante serentak.


*****


Kini hari telah menjadi sore dengan cahaya warna jingga yang mewarnai langit. Andika berjalan pulang ke arah kediamannya dengan sebatang rokok yang menyala di tangannya dan dihisapnya sesekali selama dalam perjalanan.


Setelah beberapa lama, akhirnya dia sampai di depan sebuah gerbang berkarat dari sebuah kediaman besar yang sudah lama ditinggalkan. Andika membuka gerbang tersebut dengan paksa dan langsung masuk ke dalam.


Di balik pagar yang mengelilingi kediaman tersebut, terdapat banyak mobil terbengkalai yang ditinggalkan begitu saja di halaman luas dari kediaman tersebut. 


Semua mobil tersebut ditinggalkan dalam posisi yang tidak beraturan dan bahkan ada yang dalam posisi terbalik dan menabrak mobil lainnya. Andika melangkahkan kakinya menuju kediaman besar yang berdiri di tengah-tengah halaman dengan kondisinya yang juga tak terawat dan di salah satu sisinya hancur seperti ada sebuah ledakan yang dulu pernah mencoba menghancurkannya.


Begitu Andika hampir sampai di depan pintu masuk Kediaman tersebut, tiba-tiba pintu tersebut terlebih dulu dibuka dari dalam oleh seorang pria tua dengan uban yang telah memenuhi kepalanya. Pria tua tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Torak.


Torak menyadari kehadiran Andika yang merupakan satu-satunya muridnya yang tinggal bersamanya dan mulai berjalan ke arahnya dengan langkah yang penuh gaya bak artis di televisi.


"Torak, ada yang ingin-"


"Hei …!! Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menunggumu dari tadi tahu," potong Torak dengan gaya bicaranya yang tiba-tiba menjadi norak.

__ADS_1


"Oh tidak … tidak lagi," ucap Andika sambil menutupi kedua matanya dengan sebelah tangannya karena malu.


__ADS_2