Reinkarnasi Kesatria Cahaya

Reinkarnasi Kesatria Cahaya
041 - Suara Kedua


__ADS_3

Torak mulai berjalan perlahan mendekati Vera dan kemudian memegangi wajahnya dengan telapak tangan kirinya.


"Bagi para Demon hunter, agmar yang sebanding dengan mereka adalah agmar yang satu level di atas mereka, itu berarti kau hanya selevel dengan Demon hunter level dua.


Aku tahu kau pasti berpikir kalau kau itu sekuat para ketua, tapi sebenarnya kau hanya sedikit lebih kuat dari agmar level tiga kebanyakan karena kau telah melewati berbagai macam percobaan dari Divisi 11.


Aku sudah menjelaskan alasan kenapa aku bisa masuk ke dalam penghalangmu, dan teori yang tadi kukatakan juga dapat menjelaskan alasan kenapa kau tidak dapat bergerak. Apa kau tidak penasaran dengan aku yang level berapa?" pancing Torak yang ingin ditanya.


"K-kau be-berada di level be-berapa?" tanya Vera yang penasaran dengan tergagap.


"Hohoho … terima kasih sudah bertanya, untuk sekarang aku bisa mengklaim kalau levelku telah berada di level empat yang berarti aku sebanding dengan agmar yang berlevel lima," jawab Torak dengan penuh rasa bangga.


Senyuman Torak melebar bersamaan dengan mata Vera yang melebar karena tidak percaya.


"Sekarang, tidurlah," ucap Torak yang kemudian menghancurkan wajah Vera dengan mudahnya hanya dengan sekali genggam.


Seketika Vera tumbang dengan wajah yang telah hancur, darahnya yang berwarna biru kehitaman pun mulai mengalir keluar dan membasahi tanah yang ada di sekitarnya.


Penghalang dan semua benang-benang milik Vera mulai lenyap dan Andika pun segera menuruni lereng bersama dengan seorang gadis menuju tempat Torak berada.


Pandangan Andika diarahkan ke sekitarnya untuk melihat seberapa parah pertarungan yang telah dia dan Torak lewatkan. Terutama pada daerah yang bersih dari pohon, bebatuan, dan rumput akibat terkena sapuan dari gelombang energi yang Arya tak sengaja lepaskan.


"Apa ini semua hasil dari pertarungan Arya dengan agmar itu?" tanya Andika sambil melihat ke arah Arya yang pingsan dan Vera yang wajahnya telah dihancurkan.


Torak menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, dia menoleh ke arah Andika dan gadis yang datang bersamanya itu.


"Iya, ini semua adalah hasil dari pertarungan Arya. Murid kita yang satu ini telah berkembang menjadi lebih kuat ya Andika, dengan begini harapan untuk memenangkan ramalan tersebut menjadi bertambah.


"Oh ya, terima kasih sudah mau datang Gadis Manis, mohon bantuannya," ucap Torak dengan sopan.


"I-iya, akan kulakukan semampuku," jawab si Gadis yang ternyata adalah Bella.


*****

__ADS_1


Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya hubunganku dengan keluargaku mulai renggang. Yang kutahu saat itu aku sedang berusia tujuh tahun dan aku masih tidak tahu apa-apa.


Hari itu langit begitu gelap dan sepertinya hujan akan turun dengan sangat lebat. Aku masih ingat, waktu itu ibuku pergi dari rumah sambil membawa sebuah koper berukuran besar bersamanya.


Aku sempat bertanya padanya, "Mengapa ibu pergi?" Dan ibu tidak menjawab, dia hanya tersenyum padaku, lalu pergi meninggalkanku sambil meneteskan air mata.


Sejak hari itu, diriku mulai dijauhi oleh teman-temanku, dan mungkin sejak hari itu pula hidupku mulai berantakan serta hubunganku dengan keluargaku mulai renggang.


Aku pernah bertanya pada ayah tentang alasan ibu pergi meninggalkan rumah dan kapan dia akan pulang. Tetapi dia tidak pernah menjawabnya dan selalu menghindariku setiap kali aku menanyakan hal itu.


Setiap malam, tepatnya setiap tengah malam tiba, aku sering mendengar suara ayah yang menangis di kamarnya. Aku tak pernah bisa masuk dan melihat keadaannya secara langsung karena dia selalu mengunci pintu kamarnya. Dia benar-benar ayah yang payah.


Bulan demi bulan berlalu dan tahun demi tahun pun berganti, tak terasa sudah tiga tahun sejak ibu pergi meninggalkan rumah, dan sudah tiga tahun pula aku terus mencoba bertanya kepada ayah untuk mencari tahu dan selalu berujung diabaikan.


Sejak ibu pergi, aku yakin kalau ibu pulang ke rumah nenek yang berada jauh dari rumah. Tetapi, harapanku untuk bertemu kembali dengannya pun langsung pupus begitu melihat sebuah berita di saluran televisi. 


Sebuah berita tentang kebakaran hebat yang terjadi dan melahap habis seluruh daerah tempat tinggal nenek berada, tanpa sisa, dan tanpa ada yang selamat, setidaknya itu yang mereka beritakan.


Namun, sejak berita itu disiarkan, ayah yang selalu menghindar kini akhirnya menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang tak ingin kudengar, "Ibumu sudah tiada, dia sudah mati dalam kebakaran tersebut," begitulah jawabannya.


Aku tidak percaya dengan jawabannya dan terus mencoba untuk tidak mempercayainya. Tetapi, tanpa kusadari aku telah membuat jarak dengan adikku sendiri selama tiga tahun ini, dan sampai saat ini rasanya jarak tersebut masih belum juga hilang.


Dua tahun kemudian berlalu, pada suatu malam ayah membawa pulang seorang wanita dan seorang anak laki-laki yang berusia empat tahun lebih muda dariku. Lalu, ayah pun berkata padaku dan adikku, "Mulai sekarang dia adalah ibu dan adik kalian," kata ayah memperkenalkan keduanya pada kami.


Aku tidak terima dengan apa yang ayah lakukan saat itu, dan sejak saat itu aku pun tidak pernah sekalipun menganggap wanita itu ibuku dan anaknya sebagai adik laki-lakiku. Bahkan sampai wanita itu meninggal empat tahun kemudian karena penyakit yang dideritanya.


*****


"Arya," 


"Siapa itu?"


"Arya,"

__ADS_1


"Siapa?"


"Arya bukalah matamu."


Arya membuka kedua matanya secara perlahan dan yang pertama kali dilihatnya adalah hamparan tanah luas dan langit yang benar-benar terasa asing baginya.


Arya menoleh ke kiri dan ke kanan. Yang dilihatnya hanyalah hamparan tanah yang sangat luas, berwarna kemerah-merahan seperti telah ternodai oleh darah. 


Di atas hamparan tanah yang luas tersebut juga terdapat ratusan pedang dan bendera usang yang tersebar tertancap di atas tanah dan membuatnya seperti sedang berada di medan perang yang sudah lama ditinggalkan.


Kemudian, Arya menoleh ke langit yang tak berwarna biru, melainkan juga berwarna kemerah-merahan. Pencahayaan di tempat Arya berada layaknya di waktu sore hari. 


Tetapi, tidak ada matahari yang berada di langit yang akan tenggelam di ufuk barat, yang ditemukan Arya hanyalah sebuah bulan sabit di langit yang bersinar seperti menggantikan tugas dari sang mentari.


"Di mana aku? Apa aku sudah mati?" batin Arya yang masih bingung.


"Arya, berbaliklah,"


"Ah, suara itu lagi, sebenarnya suara siapa itu?"


Arya kemudian menoleh ke belakang dan melihat seorang pria yang memiliki rupa hampir mirip dengannya berdiri di belakangnya. Rambut dari pria tersebut agak panjang dan pada rambut bagian sebelah kirinya dikepang sebanyak tiga buah, dia juga mengenakan sebuah jubah untuk menutupi tubuhnya yang mana jubah tersebut terlihat sangat kuno sekali.


"Jadi, seperti itu ya yang kau alami dulu? Maaf karena aku telah melihat masa lalumu tanpa seizinmu," ucap pria itu.


Pria itu kemudian tersenyum hangat ke arah Arya dan entah mengapa ketika Arya melihat senyuman itu, tiba-tiba hatinya terasa begitu tenang dan senang, hingga tak terasa air matanya pun menetes keluar.


"Apa ini? Kau menangis? Dasar kau ini, sudah besar masih saja cengeng," katanya lagi sambil berjalan mendekat ke arah Arya sambil terus tersenyum padanya.


Pria tersebut kemudian menyeka air mata Arya yang menetes keluar dengan jarinya dan memandanginya sesaat.


"Siapa … kau?" tanya Arya dengan suara yang sempat terputus sesaat.


"Apa? Kau sudah lupa denganku?" tanyanya balas.

__ADS_1


__ADS_2